Algatech Nusantara: Mikroalga untuk Menangkap Karbon, Pangan, dan Energi
Sebuah tabung hijau bukan otomatis mesin penghapus emisi
Di lobi gedung, Microforest terlihat seperti instalasi seni futuristis. Cairan hijau bergerak di dalam wadah transparan, sensor memantau kondisi kultur, dan mikroalga melakukan pekerjaan paling tua di bumi: fotosintesis.
Visualnya kuat. Namun bagi perusahaan yang serius menurunkan emisi, pertanyaannya tidak berhenti pada “berapa pohon yang setara dengan alat ini?”. Mereka perlu tahu berapa kilogram karbon yang benar-benar diserap, berapa energi yang dipakai pompa dan sensor, bagaimana biomassa dipanen, dan ke mana karbon pergi setelah mikroalga mati.
PT Algatech Nusantara masuk ke medan itu melalui kolaborasi dengan Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi Microalgae Biorefinery Universitas Gadjah Mada. CEO yang disebut dalam publikasi UGM dan program KINETIK adalah Rangga Wisesha Pratama, dengan ejaan nama yang kadang muncul sebagai Rangga Wishesa. Kantor yang dicantumkan situs perusahaan berada di kawasan SCBD, Jakarta Selatan.
Algatech tidak boleh tertukar dengan PT Algatek Karbon Nusantara, entitas berbeda yang juga bergerak di teknologi alga. Tahun berdiri, nama seluruh founder, dan struktur kepemilikan PT Algatech Nusantara belum terlihat konsisten pada sumber publik yang diperiksa hingga Juli 2026.
Dari Algaetree menuju Microforest
Akar teknologinya berasal dari riset Prof. Arief Budiman dan Dr. Eko Agus Suyono bersama tim UGM. Prototipe Algaetree kemudian dikembangkan bersama Algatech menjadi Microforest 100. Peran startup mencakup desain produk, fabrikasi, serta penambahan sensor untuk memantau kondisi kultivasi.
Microforest 100 pertama kali diluncurkan pada 17 Juni 2024 di Masjid Raya Sheikh Zayed, Surakarta. Instalasi setinggi sekitar dua meter tersebut ditempatkan di area publik untuk menguji ketahanan operasi dan kemampuan penyerapan karbon.
Publikasi UGM pada Februari 2025 menyebut kapasitas media kultivasi 100 liter dan kemampuan menyerap karbon hingga 37,6 kilogram per tahun, setara kira-kira empat pohon dewasa. Publikasi 2024 menyebut setara lima pohon berumur sekitar 15 tahun. Dalam liputan KINETIK 2025, CEO Algatech menggambarkannya setara satu pohon berusia 15 tahun atau tiga pohon besar dalam konteks berbeda.
Perbedaan ini tidak boleh dirapikan paksa menjadi satu angka marketing. Kesetaraan pohon sangat bergantung pada spesies, umur, iklim, metode perhitungan, volume kultur, dan durasi operasi. Angka yang lebih berguna bagi buyer adalah kilogram CO₂ per unit per tahun, lengkap dengan metode pengukuran serta konsumsi energinya.
UGM juga mengumumkan rencana pemasangan lima unit Microforest dan Oxyflow di kantor Pertamina EP Cepu Regional 4, Patra Jasa Office Tower, dalam kerja sama dua tahun dengan dukungan operasional Algatech. Sumber tersebut menyatakan rencana pemasangan, bukan bukti bahwa seluruh unit telah beroperasi penuh dan mencapai target.
Penangkapan karbon berbeda dari penyimpanan karbon
Mikroalga mengambil CO₂ dan mengubahnya menjadi biomassa berupa protein, lipid, karbohidrat, pigmen, serta komponen sel lainnya. Proses tersebut memang menangkap karbon selama pertumbuhan kultur.
Tetapi carbon capture tidak selalu berarti carbon removal permanen. Bila biomassa membusuk, dibakar, atau dikonsumsi, sebagian besar karbon akan kembali ke atmosfer. Teknologi ini lebih tepat diposisikan sebagai carbon capture and utilization biologis, kecuali ada metode penyimpanan jangka panjang yang dapat dibuktikan.
Karena itu, perusahaan tidak semestinya mengurangi inventaris emisinya hanya berdasarkan jumlah CO₂ yang masuk ke photobioreactor. Dibutuhkan metodologi measurement, reporting, and verification. Sistem perlu mencatat konsentrasi CO₂, laju aliran udara atau gas, pertumbuhan biomassa, karbon dalam biomassa, listrik, nutrisi, air, penggantian kultur, dan nasib akhir produk.
Microforest di lobi dapat berfungsi sebagai perangkat edukasi, visualisasi ESG, dan eksperimen dekarbonisasi. Untuk menjadi instrumen pengurangan emisi yang material, skalanya harus dibandingkan dengan emisi gedung atau pabrik. Satu unit yang menyerap puluhan kilogram per tahun tidak sebanding dengan fasilitas yang menghasilkan ribuan ton CO₂.
Itu bukan berarti alatnya tidak berguna. Artinya, klaimnya perlu ditempatkan pada ukuran yang fair.
Pangan hanya mungkin bila rantai produksinya food-grade
Biomassa mikroalga memang memiliki potensi untuk pangan fungsional, suplemen, pakan, pigmen, antioksidan, dan bahan aktif. BRIN dan UGM juga mengembangkan berbagai riset mengenai protein, polisakarida, lipid, serta senyawa bernilai dari mikroalga.
Namun biomassa dari alat penangkap karbon di ruang publik atau gas buang industri tidak otomatis boleh menjadi makanan. Kultur dapat terpapar logam berat, mikroorganisme lain, debu, nitrogen oksida, sulfur, bahan kimia pembersih, atau kontaminan dari udara dan media.
Produk pangan membutuhkan strain yang tepat, identifikasi kultur, media food-grade, fasilitas higienis, kontrol kontaminasi, pengujian toksin, logam berat, mikrobiologi, alergen, stabilitas, serta izin dari regulator yang relevan. Biomassa untuk pakan pun memiliki persyaratan sendiri.
Hingga Juli 2026, sumber publik yang diperiksa lebih kuat membuktikan Algatech sebagai pengembang perangkat carbon capture mikroalga. Belum ditemukan bukti bahwa perusahaan telah memasarkan produk pangan mikroalga dengan izin edar, fasilitas produksi food-grade, atau pengujian keamanan lengkap.
Pangan adalah opsi hilirisasi yang menarik, bukan klaim deployment saat ini.
Energi adalah jalur paling ambisius
Lipid mikroalga dapat diolah menjadi biodiesel atau bahan bakar lain. Karbohidratnya berpotensi difermentasi, sedangkan biomassa dapat diproses melalui jalur termokimia. Secara teori, mikroalga menarik karena tumbuh cepat dan tidak harus memakai lahan pertanian subur.
Masalahnya ada pada economics. Kultur mengandung banyak air. Pemanenan, pemekatan, pengeringan, ekstraksi, dan konversi membutuhkan energi serta peralatan. Bila listriknya masih intensif karbon, manfaat iklim dapat menyusut drastis.
Model biorefinery mencoba memecahkan masalah tersebut dengan menjual produk bernilai tinggi terlebih dahulu, seperti pigmen, nutraceutical, bahan kosmetik, atau protein. Fraksi sisanya baru diarahkan ke energi, pupuk, atau material. Menjual seluruh biomassa sebagai bahan bakar sering kali belum memberi margin cukup untuk menutup biaya produksi.
Algatech dapat memiliki jalur menuju bioenergi melalui kolaborasi riset UGM, tetapi belum ada data publik mengenai kapasitas produksi bahan bakar, yield, biaya per liter, sertifikasi, atau pembeli komersial. Karena itu, energi perlu dibahas sebagai pipeline R&D, bukan lini bisnis yang telah matang.
Unit economics hidup di balik cairan hijau
Photobioreactor membutuhkan modal awal untuk wadah, sensor, pompa, sistem aerasi, pencahayaan bila ditempatkan di dalam ruang, kontrol suhu, dan perangkat monitoring. Biaya berulang mencakup listrik, air, nutrisi, bibit kultur, pembersihan, teknisi, penggantian komponen, serta pemanenan biomassa.
Kultur juga dapat crash karena kontaminasi, suhu, pH, kepadatan sel, atau kesalahan operasional. Bila alat dipasang di puluhan gedung, maintenance network menjadi sama pentingnya dengan desain produk.
Model pendapatannya dapat berupa penjualan unit, sewa, langganan monitoring, jasa perawatan, penjualan biomassa, proyek demonstrasi ESG, atau carbon-as-a-service. Masing-masing memiliki profil margin berbeda.
Buyer sebaiknya meminta harga per kilogram CO₂ yang ditangkap setelah memperhitungkan energi dan maintenance, bukan hanya harga unit. Perbandingan juga perlu dilakukan dengan efisiensi energi, PLTS, refrigerant management, penghijauan, atau pembelian listrik bersih. Pada banyak gedung, mengurangi konsumsi listrik dapat memberi dampak lebih besar dengan biaya lebih rendah.
Moat-nya bukan alga, tetapi sistem operasinya
Mikroalga bukan teknologi baru. Keunggulan Algatech akan ditentukan oleh kemampuan mengubah pengetahuan laboratorium menjadi perangkat yang stabil, mudah dirawat, terukur, dan punya jalur hilirisasi biomassa.
Kolaborasi dengan UGM memberi fondasi ilmiah yang penting. Deployment di Masjid Sheikh Zayed memberi pengalaman ruang publik. Rencana kerja sama industri membuka peluang untuk menguji sistem pada konteks yang lebih berat.
Langkah berikutnya harus lebih data-driven: hasil operasi tahunan, uptime, konsumsi listrik, produktivitas biomassa, kegagalan kultur, biaya per kilogram karbon, dan tujuan akhir biomassa. Data seperti ini mungkin kurang seksi dibanding instalasi hijau yang glowing, tetapi justru itulah yang dicari buyer serius.
Mikroalga dapat menjadi jembatan antara penangkapan karbon, pangan, dan energi. Namun jembatan tersebut belum selesai dibangun. Algatech kini berada di fase yang menentukan, dari alat demonstrasi menuju platform biorefinery yang benar-benar bankable.
Catatan verifikasi dan sumber publik
Artikel ini disusun dari sumber publik yang tersedia sampai 31 Juli 2026. Angka kapasitas, dampak, sertifikasi, klien, pendanaan, dan performa tidak dianggap sebagai hasil audit independen kecuali dinyatakan secara eksplisit.
- Sumber publik: algatechnusantara.com
- Sumber publik: brin.go.id
- Sumber publik: brin.go.id
- Sumber publik: kinetik.or.id
- Sumber publik: ugm.ac.id
- Sumber publik: ugm.ac.id
- Situs resmi PT Algatech Nusantara
- Universitas Gadjah Mada, peluncuran Microforest 100 di Masjid Raya Sheikh Zayed, 27 Juni 2024
- Universitas Gadjah Mada, pengembangan Microforest dan rencana kerja sama Pertamina EP Cepu Regional 4, 20 Februari 2025
- KINETIK, profil Algatech Nusantara dalam program KINETIK NEX, 18 September 2025
- BRIN, program Mikroalga dan Rekayasa Bioproses
- BRIN, pemanfaatan biomassa untuk pangan dan energi
- Catatan verifikasi: jangan tertukar antara PT Algatech Nusantara dan PT Algatek Karbon Nusantara.
- Tahun berdiri, daftar founder, legal documentation, struktur kepemilikan, paten, dan sertifikasi Algatech belum terverifikasi lengkap dari sumber publik.
Konteks terkait
Untuk membandingkan model infrastruktur hijau dan akses layanan dasar, baca Pristinz Indonesia: Membuat Jendela Gedung Menjadi Pembangkit Energi dan STB Pellet: Dari Limbah Mudah Terbakar Menjadi Energi Pengganti Batu Bara. Rangkaian ini terhubung dengan inovasi UKM Indonesia serta tren UKM dan teknologi hijau.