Minyak jelantah punya karakter bisnis yang agak nyebelin. Volumenya besar secara nasional, tetapi tersebar dalam botol satu liter, jeriken warung, dapur hotel, kantin sekolah, dan penggorengan rumah tangga. Semua orang bilang limbah ini bernilai, tetapi nilainya baru muncul setelah minyak dikumpulkan, dipisahkan dari air dan sisa makanan, diuji, dicatat asalnya, lalu dikirim dalam volume ekonomis.
Di situlah Greenia bermain.
Greenia, merek milik PT Greentech Solusi Utama, membangun jaringan pengumpulan minyak jelantah atau used cooking oil dari rumah tangga, warung, komunitas, hotel, restoran, sekolah, universitas, dan mitra distribusi. Perusahaan menggunakan aplikasi, layanan penjemputan, titik pengumpulan, serta kolaborasi komunitas untuk mengubah limbah yang tercecer menjadi bahan baku yang bisa masuk ke rantai biofuel, termasuk Sustainable Aviation Fuel atau SAF.
Penting diluruskan sejak awal: Greenia bukan kilang yang mengolah sendiri minyak jelantah menjadi bahan bakar pesawat. Situs resminya menyebut minyak terkumpul dikirim ke mitra pengolahan. Jadi peran intinya adalah agregator, operator pengumpulan, pengendali kualitas awal, dan penghubung bahan baku ke industri hilir.
Masalah utamanya bukan teknologi kilang, tetapi logistik pecahan kecil
Diskusi bioavtur sering langsung melompat ke teknologi kilang. Padahal sebelum minyak masuk fasilitas pengolahan, ada pekerjaan yang tidak glamor: membujuk orang menyimpan jelantah, memastikan wadah bersih, menjadwalkan pickup, menimbang, membayar insentif, dan mencegah pencampuran dengan air, oli, atau bahan kimia. Karena volume rumah tangga, warung, dan hotel berbeda, biaya pengumpulan per kilogram ikut bervariasi.
Greenia mencoba menurunkan biaya tersebut dengan memanfaatkan jaringan mitra yang sudah memiliki hubungan dengan pengguna. Dalam kolaborasi dengan platform Dagangan di Yogyakarta, misalnya, warga dan warung dapat menitipkan jelantah kepada pengemudi saat pengiriman sembako atau meminta pickup. Minyak disimpan dalam wadah bersih, lalu disaring, diperiksa, dan dihitung volumenya. Pada program 2024 itu, harga awal yang disebut media adalah Rp4.000 per kilogram dengan kemungkinan insentif lebih tinggi untuk volume lebih besar. Harga tersebut adalah kondisi program pada waktu tertentu, bukan harga baku nasional.
Secara bisnis, pendekatan ini masuk akal. Kendaraan dan rute distribusi yang sudah berjalan dapat dipakai untuk reverse logistics. Truk datang membawa barang, lalu tidak pulang sepenuhnya kosong.
Aplikasi membuat minyak yang cair menjadi data yang rapi
Aplikasi Greenia tersedia di App Store sejak Desember 2024 dan dikembangkan oleh PT Greentech Solusi Utama. Fitur yang dipublikasikan mencakup pendaftaran titik pickup, jadwal pengumpulan, riwayat transaksi, pemilihan mitra, dan pelacakan kontribusi lingkungan.
Aplikasi tidak otomatis menyelesaikan bisnis jelantah. Minyak tetap harus disimpan, dijemput, dan dicek secara fisik. Namun software dapat mengurangi chaos administratif dengan mencatat pengguna, lokasi, volume, waktu, dan mitra. Pembeli industri tidak hanya membutuhkan minyak, tetapi juga jejak asal yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam industri bahan bakar rendah karbon, traceability menentukan penerimaan bahan baku, perhitungan emisi, dan akses pasar.
Dari dapur ke SAF, jalurnya panjang
Rantai kasarnya seperti ini: minyak jelantah dikumpulkan, disaring dan diuji, digabungkan dalam volume lebih besar, lalu dijual atau dikirim ke pengolah. Di fasilitas hilir, UCO dapat diproses menjadi bahan bakar melalui jalur teknologi yang memenuhi spesifikasi penerbangan.
Pada 2025, Indonesia mencatat penggunaan PertaminaSAF berbahan baku UCO dalam penerbangan Pelita Air rute Jakarta-Denpasar. Kementerian ESDM menyebut momen tersebut sebagai babak baru pemanfaatan jelantah untuk bahan bakar penerbangan di Indonesia.
Kejadian itu tidak berarti semua jelantah yang dikumpulkan Greenia masuk ke penerbangan tersebut. Tidak ada bukti publik yang menghubungkan setiap liter Greenia ke batch PertaminaSAF. Yang bisa dinyatakan adalah Greenia berada di ekosistem bahan baku yang relevan dengan berkembangnya pasar SAF.
Mengumpulkan bahan baku untuk rantai SAF tidak sama dengan menjadi produsen SAF.
Skala jaringan masih memakai angka perusahaan
Greenia menyatakan jaringan mitranya mencakup warung, komunitas ibu-ibu, hotel, kafe, restoran, sekolah, dan universitas, serta menjangkau lebih dari 1.000 outlet. Perusahaan juga pernah mengumumkan kampanye bersama Esta Dana Ventura dengan target pengumpulan enam juta liter minyak jelantah.
Keduanya merupakan angka self-reported dan target kampanye. Belum ada laporan audit publik mengenai volume terealisasi, persentase minyak lolos kualitas, biaya pickup per kilogram, atau pendapatan. Ambisi mengalihkan 100 juta liter UCO menuju SAF juga merupakan sasaran korporasi, bukan capaian.
Untuk menilai bisnisnya secara serius, investor atau mitra perlu melihat metrik yang lebih operasional: jumlah titik aktif, volume rata-rata per pickup, tingkat kontaminasi, biaya logistik, waktu pembayaran, retensi mitra, margin per kilogram, serta persentase bahan baku yang memenuhi standar pembeli.
Angka followers dan jumlah acara komunitas bagus untuk awareness. Tetapi unit economics hidup di bak pickup.
Legal entity dan kepemimpinan perlu dicatat hati-hati
Aplikasi, situs, dan dokumen pemerintah mengidentifikasi badan hukum Greenia sebagai PT Greentech Solusi Utama. Kantor yang tercantum di situs perusahaan berada di Treasury Tower, SCBD, Jakarta Selatan.
ANTARA pada Desember 2024 menyebut Amrullah Tahad sebagai CEO dan co-founder Greenia.id. Profil perusahaan di LinkedIn juga menampilkan Al Falaq Arsendatama sebagai co-founder. Materi publik lain menampilkan Olivia Susilo dalam jajaran pendiri atau kepemimpinan. Karena susunan founder dan jabatan terkini tidak dijelaskan dalam satu halaman resmi yang konsisten, artikel ini tidak menetapkan daftar founder lengkap atau CEO per Juli 2026.
Tahun berdiri juga belum dipublikasikan secara konsisten. Jejak produk publik yang dapat diverifikasi mencakup peluncuran aplikasi pada Desember 2024 dan permohonan merek atas nama PT Greentech Solusi Utama pada Oktober 2024. Itu tidak otomatis berarti perusahaan baru didirikan pada 2024.
Sertifikasi harus dibaca sesuai ruang lingkup
Situs Greenia menampilkan nomor sertifikat ISCC EU, EU-ISCC-Cert-ID230-20240087. ISCC merupakan sistem sertifikasi yang dipakai untuk memverifikasi aspek keberlanjutan dan traceability bahan baku dalam rantai bioenergi.
Namun sertifikasi bukan stempel ajaib untuk seluruh aktivitas perusahaan selamanya. Sertifikat memiliki ruang lingkup, lokasi, periode berlaku, dan kewajiban audit. Status terkini idealnya selalu dicek melalui database ISCC atau dokumen sertifikat yang berlaku.
Karena dokumen lengkap dan masa berlaku terbarunya tidak tersedia pada hasil publik yang diperiksa, artikel ini hanya mencatat klaim serta nomor sertifikat di situs resmi. Status aktif per Juli 2026 perlu diverifikasi langsung melalui database ISCC sebelum dipakai untuk materi komersial atau due diligence.
Moat-nya ada pada jaringan dan kepercayaan
Aplikasi dan formulir pickup relatif mudah ditiru. Yang sulit adalah membangun jaringan yang rutin mengumpulkan minyak bersih, membayar insentif tepat waktu, dan menjaga traceability saat volume membesar.
Kerja sama dengan PKK, bank sampah, warung, sekolah, kampus, dan bisnis menciptakan efek jaringan. Titik pengumpulan padat membuat rute efisien, volume memperkuat posisi tawar, dan data membuka akses ke rantai pasok yang mensyaratkan bukti asal.
Tetapi pertumbuhan juga membawa risiko. Persaingan membeli jelantah dapat menaikkan harga bahan baku. Kualitas yang buruk menambah biaya penyaringan. Harga global biofuel bisa berubah. Regulasi ekspor dan kebutuhan domestik juga dapat menggeser arah pasar.
Permendag Nomor 2 Tahun 2025 mengubah ketentuan ekspor produk turunan kelapa sawit, termasuk konteks pengaturan bahan baku seperti jelantah. Bagi agregator, perubahan kebijakan dapat langsung memengaruhi pembeli, harga, dan rute penjualan.
Greenia berada di bisnis yang kelihatannya sederhana, tetapi sebenarnya menyambungkan perilaku rumah tangga dengan industri energi global. Botol bekas di dapur harus berubah menjadi komoditas yang terukur, terlacak, dan memenuhi standar.
Di situlah value sebenarnya. Bukan pada slogan bahwa jelantah bisa terbang, tetapi pada kemampuan membangun jalan agar jelantah yang tersebar bisa sampai ke industri tanpa kehilangan kualitas dan identitas asalnya.
Catatan verifikasi dan sumber publik
Artikel ini disusun dari sumber publik yang tersedia sampai 31 Juli 2026. Angka kapasitas, dampak, sertifikasi, klien, pendanaan, dan performa tidak dianggap sebagai hasil audit independen kecuali dinyatakan secara eksplisit.
- Sumber publik: greenia.id
- Situs resmi Greenia, informasi layanan, jaringan mitra, alur pickup, GRENBOX, dan klaim sertifikasi, diakses Juli 2026.
- App Store, halaman aplikasi Greenia oleh PT Greentech Solusi Utama, riwayat versi sejak Desember 2024.
- ANTARA Yogyakarta, “Langkah Hijau Dagangan dan Greenia lestarikan lingkungan lewat pemanfaatan minyak jelantah jadi biofuel”, 17 Desember 2024.
- Greenia, “Greenia x Esta Dana Ventura: 6 Juta Minyak Jelantah”, program Desember 2024.
- KINETIK, “From waste to wonderful”, 17 Juni 2025.
- Kementerian ESDM, “Olahan Jelantah Mengudara, Bahan Bakar Penerbangan Pertama di Indonesia”, 21 Agustus 2025.
- PT Kilang Pertamina Internasional, jejak langkah PertaminaSAF berbahan baku UCO pada 2025.
- Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Peta Jalan Pengembangan Industri Sustainable Aviation Fuel Republik Indonesia, 2024.
Konteks terkait
Untuk membandingkan model infrastruktur hijau dan akses layanan dasar, baca GAWIREA: Teknologi Surya dan Baterai Pasir untuk Pengolahan Sagu Papua dan STB Pellet: Koperasi Gen Z yang Mengubah Limbah Menjadi Pelet Biomassa. Rangkaian ini terhubung dengan inovasi UKM Indonesia serta tren UKM dan teknologi hijau.