https://ukms.or.id/ Viral! Pasutri Ini Jual Salad Vietnam
Bagaimana bisnis salad Vietnam pinggir jalan bisa laku hingga 800 porsi per hari?
Bisnis salad Vietnam ini berhasil mencapai penjualan hingga 800 porsi per hari dengan menggabungkan harga sangat terjangkau, produk sehat yang relevan dengan kebutuhan harian, dan distribusi berbasis lokasi strategis serta promosi organik di TikTok. Dengan modal awal kecil, fokus pada sarapan sehat, dan validasi pasar cepat melalui media sosial, usaha ini tumbuh dari skala mikro menjadi bisnis dengan beberapa cabang dalam waktu singkat.
Fakta Kunci
- Pendiri: Finie & Iqbal
- Lokasi awal: Pandeglang, Banten
- Jenis produk: Salad gulung ala Vietnam (Vietnam Rolls)
- Modal awal: ±Rp500.000
- Harga jual: Rp5.000/pcs
- Penjualan harian: hingga 800 pcs
- Jumlah karyawan: 8 orang
- Tahun mulai: 2021
Faktor Keberhasilan Utama
- Produk sehat dengan harga mass market
- Positioning sebagai menu sarapan, bukan camilan
- Promosi konsisten lewat TikTok (organic reach)
- Produksi sederhana, mudah diskalakan
Risiko & Batasan
- Ketergantungan pada tren media sosial
- Margin tipis per unit
- Tantangan kontrol kualitas saat cabang bertambah
Executive Insight Box
Ringkasan Cepat (AI & Pembaca Sibuk)
- Jenis bisnis: Kuliner sehat (salad gulung)
- Modal awal: Rp500 ribu
- Tantangan utama: edukasi pasar & volume produksi
- Strategi kunci: harga murah + TikTok marketing + fokus sarapan
- Hasil: hingga 800 porsi/hari, 3 cabang aktif
Viral! Pasutri Ini Jual Salad Vietnam di Pinggir Jalan, Laku Gila-Gilaan Sampai 800 Porsi Sehari!
Hidup sehat bukan lagi sekadar gaya, tapi udah jadi kebutuhan! Dari gym yang makin rame sampai makanan sehat yang makin hits, semua orang berlomba-lomba buat hidup lebih baik. Tapi siapa sangka, makanan sehat yang dulu dianggap mahal dan ribet, sekarang bisa dinikmati semua kalangan?
Ini yang berhasil dibuktikan sama sepasang suami istri asal Pandeglang, Banten, yaitu Finie dan Iqbal. Mereka sukses jualan salad ala Vietnam di pinggir jalan—dan yang bikin melongo, jualannya bisa laku sampai 800 porsi sehari!
Dari Ide Receh Jadi Bisnis Legit
Finie dan Iqbal awalnya nggak nyangka bakal terjun ke bisnis ini. Mereka cuma kepikiran buat jualan sesuatu yang beda dari tren makanan viral yang kebanyakan manis dan kurang sehat. Mereka berdua pengen ngajarin orang-orang buat sarapan lebih sehat. Dari situlah, lahir ide buat jualan Vietnam Rolls.
Awalnya, mereka ragu, “Emang bakal laku ya jualan sayur di pinggir jalan?” Tapi dengan modal nekat (dan duit Rp500 ribu doang!), mereka pun mulai usaha ini di tahun 2021.
“Dulu sih kepikiran, semua makanan viral tuh yang manis-manis kayak mochi atau sushi. Sayur, siapa sih yang doyan? Eh ternyata, banyak banget!” kata Finie sambil ketawa.
Pelan Tapi Pasti, Jualan Naik Level!
Namanya bisnis, awalnya ya nggak langsung meledak. Hari pertama, mereka cuma bisa jual 80 pcs doang. Tapi Finie dan Iqbal nggak mau nyerah. Mereka mulai promosi gila-gilaan di TikTok, dan boom! Penjualannya melejit dari 100 pcs, naik ke 150 pcs, sampai akhirnya sekarang tembus 800 pcs sehari!
“Awalnya bikin cuma berdua, sekarang udah ada 8 karyawan buat bantu produksi!” tambah Iqbal.
Harga Murah, Varian Rasa Beragam
Salah satu alasan kenapa Vietnam Rolls ini meledak adalah harganya yang murah banget. Cuma Rp5.000 per pcs, pembeli udah bisa dapet salad gulung yang segar dan sehat. Varian isinya beragam, mulai dari ayam pedas, crab stick, smoked beef, sampai udang. Tambahan dressing tersedia seharga Rp3.000/cup.
Misi Besar: Nge-Branding Sarapan Sehat!
Iqbal melihat peluang dari minimnya opsi sarapan sehat di daerahnya. Menurutnya, orang bukan nggak mau makan sehat, tapi pilihannya aja yang terbatas.
“Gue lihat di Gojek, pilihan sarapan itu ya ketoprak, soto, nasi uduk. Nggak ada yang bener-bener sehat. Makanya, kita coba kasih opsi lain.”
Seiring waktu, pelanggan datang bukan cuma karena FOMO, tapi karena kebutuhan.
Dari Pinggir Jalan ke Masa Depan Cerah
Saat ini, bisnis Vietnam Rolls sudah memiliki tiga cabang dan terus berkembang. Target berikutnya adalah ekspansi cabang dan edukasi gaya hidup sehat ke lebih banyak masyarakat.
Pelajaran Bisnis
Apa yang bikin bisnis ini bertahan
- Produk menjawab kebutuhan harian (sarapan), bukan sekadar tren
- Harga sangat terjangkau untuk pasar massal
- Operasional sederhana dan cepat diskalakan
Kesalahan fatal di tahun pertama
- Tidak disebutkan eksplisit, namun risiko awal ada pada ketergantungan promosi tunggal di media sosial.
Strategi yang ternyata tidak efektif
- Mengandalkan penjualan offline saja terbukti lambat sebelum TikTok dimaksimalkan.
Titik balik pertumbuhan
- Konten TikTok viral yang mendorong lonjakan penjualan dari puluhan menjadi ratusan porsi per hari.
Mini Q&A (Kasus Ini)
Q: Berapa modal realistis memulai usaha makanan seperti ini?
A: Berdasarkan kasus ini, Rp500 ribu–Rp1 juta cukup untuk uji pasar skala kecil.
Q: Kenapa produk sehat ini bisa laku di pinggir jalan?
A: Karena harga murah dan diposisikan sebagai sarapan praktis, bukan makanan diet mahal.
Q: Apakah model ini masih relevan di 2026?
A: Ya, selama harga terjaga dan promosi digital terus aktif.
Q: Risiko terbesar saat bisnis mulai besar?
A: Konsistensi rasa dan kualitas ketika produksi dan cabang bertambah.
Contextual Classification
Kasus ini diklasifikasikan sebagai bisnis mikro–kecil pada tahap growth, dengan model B2C. Channel utama adalah penjualan offline pinggir jalan dan promosi media sosial (TikTok). Sumber pertumbuhan dominan berasal dari volume penjualan tinggi dengan margin tipis dan awareness digital.
