Banyak cerita UMKM terdengar rapi setelah bisnisnya jadi: ada produk, ada pasar, lalu ada ekspansi. Cerita Anyaman Harati justru menarik karena kalau ditarik ke awal, fondasinya bukan pabrik atau modal besar. Profil Karya Kreatif Indonesia mencatat usaha ini dikembangkan sejak Maret 2020 di Kalimantan Tengah dengan produk utama anyaman berbahan rotan dan purun. Bahan yang sebelumnya sangat dekat dengan keseharian masyarakat lokal kemudian diterjemahkan menjadi aksesori, dekorasi, dan berbagai produk turunan yang lebih mudah masuk ke pasar modern.
Ada satu hal yang perlu diluruskan sejak awal karena informasi lokasi gampang tercampur ketika bicara Kalimantan. Sumber KKI dan liputan RRI menempatkan Anyaman Harati di Kapuas, Kalimantan Tengah. Ini penting, karena asal bukan sekadar tempelan geografis. Dalam bisnis kriya, asal material, komunitas pengrajin, dan konteks budaya ikut membentuk cerita produknya.
Dimulai dari apa yang tersedia di sekitar
RRI pada Mei dan Juni 2025 menulis tentang Nurhidayah, yang akrab dipanggil Dayah, sebagai penggerak Anyaman Harati. Cerita yang muncul bukan narasi “melihat tren lalu bikin brand”, melainkan memulai dari potensi yang sudah ada di lingkungan: rotan, purun, dan keterampilan menganyam. Dalam salah satu wawancara, ia menggambarkan awal usahanya sebagai sesuatu yang bermula dari iseng dan dari apa yang dimiliki. Kalimat ini terdengar simpel, tetapi justru sangat relate dengan banyak bisnis daerah yang modal terbesarnya bukan teknologi baru, melainkan kemampuan melihat ulang aset lokal.
Rotan dan purun bukan material yang otomatis berubah menjadi produk bernilai tinggi. Ada pekerjaan desain, ukuran, finishing, pemilihan motif, kombinasi material, dan konsistensi kualitas. KKI menampilkan salah satu contoh Harati Clutch Bag yang menggabungkan jeans dan rotan. Produk lain berupa tikar purun, tas, aksesori, dan dekorasi menunjukkan bahwa material tradisional tidak harus berhenti pada bentuk tradisional yang sama dari generasi ke generasi.
Nilai tambah muncul ketika material diberi fungsi baru
Ini salah satu pelajaran paling penting dari kriya lokal. Pasar tidak membeli “rotan” atau “purun” dalam abstraksi. Pasar membeli benda yang menyelesaikan fungsi atau memberi pengalaman tertentu. Sebuah anyaman bisa menjadi tas kerja, clutch, sling bag, storage, dekorasi rumah, hampers, atau bagian dari ritual lokal. Begitu fungsi diperluas, pasar potensial ikut melebar.
Namun perlu hati-hati dengan kata inovasi. Inovasi tidak selalu berarti menghilangkan teknik lama. Kadang yang berubah justru bentuk akhirnya, kombinasi bahan, warna, ukuran, atau cara produk dipresentasikan. Teknik anyam tetap menjadi core value, sementara interface produknya dibuat lebih dekat ke kebutuhan konsumen sekarang. Ini lebih sustainable daripada sekadar mengejar tren visual yang cepat hilang.

Bisnisnya juga membawa dimensi pemberdayaan
Profil KKI menyebut produk Anyaman Harati dikerjakan oleh kelompok pengrajin berpengalaman dan usaha ini mengutamakan keterlibatan masyarakat lokal. Liputan RRI pada 2025 menyebut sekitar sebelas orang termasuk Dayah terlibat menjalankan aktivitas usaha, dengan pemberdayaan ibu-ibu sekitar yang juga bertani. Angka ini berasal dari wawancara media dan perlu dibaca sebagai snapshot pada saat liputan, bukan jumlah tenaga kerja permanen untuk semua periode.
Model seperti ini punya dua sisi. Sisi positifnya, produksi dapat menciptakan nilai di dekat sumber material dan keterampilan. Tetapi sisi operasionalnya lebih kompleks daripada satu workshop terpusat. Standar ukuran, ketegangan anyaman, finishing, waktu produksi, serta quality control harus disepakati lintas pengrajin. Ketika pesanan membesar, bisnis tidak cukup hanya punya orang yang bisa menganyam. Ia perlu sistem agar hasil dari banyak tangan tetap terasa sebagai satu brand.
Pasar luar negeri datang, tapi jangan romantisasi ekspor
RRI melaporkan pada 2025 bahwa produk Anyaman Harati telah dipesan sampai Kanada dan Australia. Liputan tersebut menyebut tas anyaman rotan sebagai salah satu produk yang mencapai konsumen di dua negara itu. Ini bukti bahwa pasar lintas negara memang bisa terbuka, tetapi istilah “tembus internasional” perlu dibaca secara proporsional. Sumber yang tersedia tidak mempublikasikan volume ekspor, nilai transaksi, frekuensi, atau apakah penjualan dilakukan melalui distributor tetap.
Jadi poin yang lebih sehat bukan mengklaim Anyaman Harati sudah menjadi eksportir besar. Poinnya adalah produk berbasis material dan keterampilan lokal dapat menemukan pembeli di luar Indonesia ketika desain, kualitas, dan akses pasar bertemu. Bagi UMKM lain, satu pesanan luar negeri seharusnya diperlakukan sebagai validasi awal sekaligus ujian. Apakah ukuran konsisten? Apakah dokumen pengiriman beres? Apakah packaging tahan perjalanan? Apakah kapasitas bisa mengikuti repeat order?
Trade Expo menunjukkan pentingnya kurasi dan fasilitasi
Pada Trade Expo Indonesia 2025, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian mencantumkan Anyaman Harati sebagai salah satu IKM yang dibawa untuk mempromosikan produk unggulan daerah. Bagi usaha kecil, forum seperti ini bukan cuma tempat buka booth. Yang paling berharga justru akses ke buyer, feedback pasar, benchmark dengan produk lain, dan pengalaman menjelaskan value dalam waktu singkat.
Ketika pengrajin hanya menjual di pasar lokal, percakapan dengan pembeli sering sangat kontekstual. Orang sudah mengenal materialnya. Di pameran nasional atau internasional, penjelasan harus lebih structured: bahan apa, teknik apa, kapasitas berapa, lead time berapa, minimum order berapa, pilihan warna apa, sampai bagaimana memastikan pasokan. Kriya masuk pasar B2B ketika cerita budaya berhasil diterjemahkan menjadi bahasa bisnis tanpa kehilangan karakternya.
Harga murah bukan satu-satunya jalan
Marketplace Anyaman Harati memperlihatkan rentang produk yang cukup luas, dari benda kecil berbahan purun sampai tas kombinasi rotan. Harga yang tampil di marketplace bersifat dinamis dan tidak tepat dijadikan patokan permanen, tetapi katalog tersebut memperlihatkan sesuatu: satu material dapat melayani beberapa price point. Ini penting karena pengrajin tidak harus memaksa semua produk menjadi premium atau semua produk menjadi murah.
Produk sederhana bisa menjadi entry point. Produk dengan desain, pengerjaan, dan material lebih kompleks bisa berada di tier lebih tinggi. Yang perlu dijaga adalah logika harga. Konsumen harus bisa melihat apa yang membuat satu produk berbeda dari yang lain: ukuran, material, waktu pengerjaan, detail finishing, motif, atau tingkat customisasi. Kalau perbedaannya tidak terlihat, harga mudah dianggap random.
Material lokal juga punya cerita lingkungan, tetapi jangan overclaim
Purun tumbuh di kawasan rawa dan sudah lama digunakan masyarakat Kalimantan untuk produk anyaman. Karena berbahan alami, sangat tempting untuk langsung memasarkannya dengan jargon “eco-friendly”, “zero waste”, atau “sustainable”. Masalahnya, klaim lingkungan yang terlalu luas membutuhkan bukti lebih dari sekadar material alami. Cara panen, pewarnaan, limbah produksi, umur pakai, packaging, dan transportasi juga ikut menentukan footprint.
Brand tetap bisa menceritakan karakter material secara faktual: berasal dari tumbuhan, digunakan dalam tradisi anyaman lokal, dan diolah menjadi produk yang dapat digunakan berulang. Itu sudah cukup kuat tanpa harus memasang klaim besar yang belum diverifikasi. Semakin pasar global sensitif terhadap sustainability, semakin penting UMKM belajar membedakan cerita material dari klaim lingkungan formal.
Tantangan besarnya justru kapasitas
RRI menggambarkan salah satu tantangan Dayah sebagai datangnya pekerjaan mendadak dan jumlah pesanan besar, bahkan ketika kondisi pribadi tidak ideal. Ini cerita yang sering terjadi pada craft business. Demand terlihat seperti kabar baik sampai kapasitas mulai mepet. Handmade punya batas fisik. Orang tidak bisa dipaksa menganyam dua kali lebih cepat tanpa konsekuensi kualitas dan kesehatan.
Karena itu growth di sektor kriya harus menghormati lead time. Solusinya bisa berupa katalog produk yang lebih terstandardisasi, jadwal produksi, sistem antrean, pembagian pekerjaan berdasarkan skill, stok untuk SKU tertentu, dan pre-order untuk produk yang lebih kompleks. Buyer juga perlu diberi ekspektasi realistis. Kejujuran soal waktu pengerjaan jauh lebih profesional daripada menjanjikan cepat lalu terlambat.
Regenerasi skill adalah bagian dari strategi bisnis
Kalau brand tumbuh tetapi hanya ada sedikit orang yang mampu menghasilkan kualitas tertentu, bisnis tetap rapuh. Pengrajin senior perlu punya ruang untuk mentransfer teknik, sementara generasi baru perlu melihat bahwa keterampilan anyam bisa punya nilai ekonomi yang masuk akal. Di sinilah desain, pemasaran digital, dan akses pasar bisa membantu. Anak muda mungkin tidak harus menjadi pengrajin penuh waktu, tetapi bisa masuk sebagai desainer, fotografer, admin, quality controller, atau pengembang produk.
Ekosistem seperti itu membuat kriya tidak terjebak sebagai “produk nostalgia”. Ia menjadi pekerjaan modern yang tetap memakai knowledge lokal. Ini jauh lebih menarik daripada meminta generasi muda melestarikan tradisi hanya atas dasar kewajiban moral.
Apa yang bisa dipelajari UMKM lain
Cerita Anyaman Harati menunjukkan empat langkah yang cukup konkret. Pertama, lihat aset yang benar-benar ada di sekitar, bukan tren yang jauh. Kedua, ubah material menjadi produk yang punya fungsi modern. Ketiga, libatkan komunitas dengan standar kerja yang jelas. Keempat, gunakan pameran dan kanal digital sebagai alat untuk menguji pasar, bukan hanya etalase.
Dan ketika ada pembeli luar negeri, jangan buru-buru mengejar label “global brand”. Jadikan transaksi itu sebagai data. Produk mana yang diminati, berapa lead time realistis, apa keluhan buyer, bagaimana biaya kirim, dan bagian mana dari proses yang paling sulit di-scale. Growth yang sehat dibangun dari jawaban seperti ini.
Anyaman lokal bisa pergi jauh tanpa kehilangan asal
Yang membuat Anyaman Harati menarik bukan karena rotan dan purun tiba-tiba menjadi material baru. Justru materialnya sangat lama. Yang berubah adalah cara material itu masuk ke pasar: fungsi baru, desain baru, kanal baru, dan jaringan baru. Dari Kapuas, produk bisa ditemukan konsumen di kota lain, masuk agenda pameran nasional, bahkan menerima pesanan dari luar Indonesia.
Itulah versi “naik kelas” yang lebih masuk akal. Bukan meninggalkan identitas lokal supaya terlihat modern, tetapi membuat identitas tersebut mudah dipahami dan dipakai oleh konsumen baru. Rotan dan purun tetap rotan dan purun. Value tambahnya datang ketika keterampilan manusia, desain, dan sistem bisnis membuat keduanya punya perjalanan yang jauh lebih panjang.
Konsistensi desain perlu katalog yang disiplin
Ketika motif dan bentuk makin banyak, brand perlu memutuskan mana produk tetap, mana seasonal, dan mana custom. Tanpa keputusan itu, pengrajin bisa kewalahan membuat terlalu banyak variasi yang masing-masing hanya terjual sedikit. SKU yang lebih terstruktur membantu pembelian bahan, pembagian pekerjaan, foto katalog, dan pricing. Custom tetap bisa menjadi value, tetapi harus punya aturan lead time dan minimum order supaya fleksibilitas tidak berubah menjadi chaos operasional.
