Parongpong Prototile: Jaring Ikan Hantu Menjadi Material Konstruksi

INSIGHT · BISNIS · UKM
FormatArtikel UKMS
Diperbarui31 July 2026
Waktu baca6 menit
KonteksUKM

Jaring ikan yang hilang tidak berhenti bekerja. Ia tetap menangkap ikan, penyu, burung laut, atau hewan lain tanpa ada nelayan yang mengambil hasilnya. Karena banyak dibuat dari nylon, polypropylene, atau polyethylene, jaring dapat bertahan lama sambil berubah menjadi perangkap bawah laut.

Parongpong RAW Lab melihat ghost net sebagai dua hal sekaligus: polusi laut dan feedstock industri.

Melalui material Ja~la! Prototiles, perusahaan mencoba memindahkan jaring bekas dari laut menuju panel untuk interior, furnitur, dan aplikasi bangunan. Ini bukan cerita profil umum tentang startup sampah. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah materialnya dapat diuji, diproduksi konsisten, dipasang aman, dan dijual dengan unit economics yang sehat.

Jaring hantu bukan bahan baku yang rapi

Istilah ghost net mencakup alat tangkap yang hilang, ditinggalkan, atau dibuang. Materialnya tidak selalu sama. Satu jaringan dapat berisi nylon, polypropylene, polyethylene, tali, pelampung, logam, pemberat, lumpur, garam, organisme, dan kontaminan lain.

Sebelum diproses, jaring perlu ditimbang, dibersihkan, dikeringkan, dipisahkan, dan diidentifikasi. Paparan laut juga mengubah sifat materialnya. Satu kilogram ghost net tidak sama dengan satu kilogram resin siap produksi karena ada susut air, lumpur, organisme, logam, dan komponen yang tidak kompatibel.

Parongpong bekerja dengan komunitas pesisir di Pangandaran, Pemalang, Untung Jawa, Cilincing, dan wilayah lain yang disebut dalam program publik. UNDP menjelaskan bahwa jaring dibeli dari masyarakat dengan harga yang lebih tinggi untuk memberi manfaat ekonomi. Namun harga per kilogram, standar kualitas, volume minimum, dan biaya logistik belum tersedia secara publik.

Tanpa data itu, impact story-nya menarik tetapi unit economics hulunya belum dapat dihitung dari luar.

Dari Prototech menuju RAWchar dan Prototile

Badan usaha Parongpong RAW Lab adalah PT Raesaka Amanah Widyakarya. Sumber perusahaan dan Yayasan KEHATI menyebut aktivitas dimulai pada 2017, sedangkan booklet JICA mencantumkan tahun pendirian 2019. Perbedaan ini kemungkinan membedakan fase operasional awal dan formalitas perusahaan, tetapi dokumen akta perlu diperiksa untuk memastikan.

Rendy Aditya Wachid tercatat sebagai founder atau Presiden Direktur. Booklet JICA 2025 mencantumkan Amiroh Husna Utami sebagai Vice President.

Teknologi utama perusahaan disebut Prototech, proses berbasis hidrotermal atau termokimia tanpa pembakaran yang berstatus patent-pending dalam publikasi hingga 2026. Proses tersebut diklaim mengubah limbah residu menjadi RAWchar, bahan steril yang menjadi basis berbagai material termasuk Prototiles.

Detail temperatur, tekanan, energi, bahan tambahan, yield, dan formulasi panel tidak dipublikasikan. Perlindungan IP dapat dimaklumi, tetapi pihak luar jadi sulit menilai biaya serta jejak lingkungannya.

Istilah “tanpa pembakaran” juga tidak otomatis berarti tanpa energi atau tanpa emisi. Sistem hidrotermal memerlukan panas dan tekanan. Analisis yang fair harus melihat sumber energi, konsumsi per kilogram, air proses, pengolahan limbah cair, dan masa pakai mesin.

Material konstruksi membutuhkan lebih dari desain bagus

Prototiles tampil di ARCH:ID 2024 melalui kolaborasi dengan WIKA Gedung. Paviliun Modular Lite menggunakan material Parongpong sebagai bagian dinding pengisi. Total sekitar satu ton limbah disebut masuk ke paviliun, terdiri dari kemasan Mortar Utama serta campuran masker, ghost net, dan ampas kopi.

Demonstrasi itu penting. Prototiles juga memperoleh Best Design Award dari Good Design Indonesia 2024. Namun penghargaan desain bukan sertifikat konstruksi.

Sebelum dipakai luas, buyer perlu mengetahui fungsi yang disetujui. Apakah panel hanya dekoratif? Apakah cocok untuk dinding interior nonstruktural? Bisa dipakai di eksterior? Bagaimana perilakunya terhadap api, air, benturan, sinar UV, creep, jamur, VOC, dan perubahan suhu?

Belum ditemukan technical data sheet publik yang lengkap berisi density, flexural strength, compressive strength, water absorption, reaction-to-fire rating, acoustic performance, thermal conductivity, toxicology, atau durability cycle.

Karena itu, Prototile tidak boleh otomatis disebut material struktural atau pengganti universal gypsum, granite, keramik, dan plywood. Aplikasinya harus mengikuti hasil pengujian spesifik serta persetujuan konsultan proyek.

Status testing masih bagian dari perjalanan komersialisasi

JICA mencatat adanya joint research dengan Universitas Padjadjaran serta penggunaan material pada proyek fasilitas universitas. UNDP menyebut dukungan ASEAN Blue Innovation Challenge akan dipakai untuk R&D, mesin, pemrosesan, pengujian, dan pemasaran Prototiles.

Bahasa tersebut menunjukkan bahwa testing dan scale-up masih menjadi agenda, bukan pekerjaan yang seluruhnya selesai.

Untuk masuk procurement konstruksi, Parongpong perlu menyiapkan data sesuai aplikasi. Panel dinding, lantai, meja, dan ruang publik menghadapi beban, abrasi, api, emisi, serta metode pemasangan berbeda.

Testing juga harus memakai sampel dari produksi rutin, bukan hanya prototipe terbaik. Ghost net bervariasi. Quality control harus memastikan feedstock yang berubah tidak membuat performa panel ikut loncat-loncat.

Batch coding, identifikasi polimer, kadar kontaminasi, formula, suhu proses, serta hasil inspeksi perlu menjadi bagian dari manufacturing record.

Klaim biaya satu per enam perlu denominator

Booklet JICA menyebut Prototiles mengurangi berat material sampai 90 persen dan biaya menjadi sekitar seperenam per meter persegi. Angka tersebut tampak powerful, tetapi pembandingnya tidak dijelaskan pada halaman publik. Tidak jelas apakah dibandingkan dengan granite, cladding tertentu, panel impor, atau sistem dinding lengkap.

Biaya per meter persegi juga harus memasukkan rangka, fastener, pemasangan, waste cutting, finishing, transportasi, replacement, dan umur pakai.

Material ringan memang dapat mengurangi ongkos angkut serta beban struktur. Namun bila panel membutuhkan subframe khusus atau tingkat reject tinggi, penghematannya bisa menyusut.

Artikel ini memperlakukan angka 90 persen dan seperenam sebagai klaim self-reported dalam booklet akselerator, bukan benchmark universal.

Di mana margin sebenarnya terbentuk?

Biaya hulu dimulai dari pembayaran komunitas, pengumpulan, penyimpanan jaring basah, pencucian, pengeringan, pemilahan, dan pengiriman. Di pabrik ada biaya energi, tenaga kerja, mesin, cetakan, bahan tambahan, quality control, pemotongan, serta finishing.

Yield menjadi metrik kunci. Dari satu ton jaring yang datang, berapa kilogram menjadi RAWchar? Berapa yang masuk panel? Berapa yang menjadi residu? Berapa panel gagal karena warping, rongga, atau warna tidak konsisten?

Pendapatan dapat berasal dari penjualan panel, konsultasi, jasa pengelolaan limbah, produk custom, dan pelaporan dampak.

Double-sided revenue seperti ini menarik, tetapi harus dijaga agar tidak terjadi klaim ganda. Klien perlu tahu apakah membayar jasa pengolahan, membeli produk, atau keduanya.

Pada 2026, DBS Foundation mengumumkan Parongpong sebagai satu dari lima penerima hibah dengan total sekitar Rp11,2 miliar yang dibagi kepada lima organisasi. Tidak tepat menyatakan seluruh nilai itu diterima Parongpong.

Skala dampak dan skala konstruksi adalah dua hal berbeda

Dokumen KEHATI menyebut sepanjang 2024 Parongpong mengalihkan lebih dari 120 ton limbah, termasuk 16 ton jaring ikan bekas, serta melibatkan 85 anggota komunitas pesisir. Angka tersebut merupakan data yang diajukan atau divalidasi dalam proses penghargaan, tetapi laporan timbang dan metodologi emisi tidak tersedia secara lengkap untuk publik.

Enam belas ton ghost net adalah dampak yang berarti bagi lokasi pesisir. Namun pasar material bangunan bekerja dalam skala besar. Satu proyek dapat membutuhkan ribuan meter persegi dengan warna, ukuran, ketebalan, dan waktu pengiriman konsisten.

Jembatan dari impact startup menuju supplier konstruksi bukan sekadar membeli mesin lebih besar. Ia membutuhkan sertifikasi, jaminan produk, prosedur recall, kemampuan mengganti panel, dukungan instalasi, dan neraca yang mampu menanggung proyek.

Parongpong sudah membuktikan ghost net dapat masuk ke dunia desain dan arsitektur. Sekarang pembuktiannya harus makin teknis.

Laut memberi bahan baku yang tidak seragam. Industri konstruksi meminta hasil yang nyaris tanpa kejutan. Bisnis Prototile akan ditentukan oleh kemampuan menjinakkan jarak di antara keduanya.

Catatan verifikasi dan sumber publik

Artikel ini disusun dari sumber publik yang tersedia sampai 31 Juli 2026. Angka kapasitas, dampak, sertifikasi, klien, pendanaan, dan performa tidak dianggap sebagai hasil audit independen kecuali dinyatakan secara eksplisit.

  • Sumber publik: parongpong.com
  • Parongpong RAW Lab, situs resmi dan halaman proyek, diakses Juli 2026.
  • UNDP, ASEAN Blue Innovation Challenge, profil Parongpong RAW Lab.
  • UNDP Indonesia, Blue Innovative Startup Acceleration Impact Report, 12 Februari 2026.
  • JICA dan ANGIN, NINJA Indonesia Accelerator 2024/2025 Program Booklet.
  • Yayasan KEHATI, profil PT Raesaka Amanah Widyakarya sebagai penerima ESG Award 2025 kategori Impact Entrepreneur.
  • DBS Foundation, pengumuman hibah 2025 untuk lima social enterprise dan business for impact di Indonesia, dipublikasikan 2026.
  • WIKA Gedung dan pemberitaan ARCH:ID 2024 mengenai paviliun Modular Lite.
  • Universitas Katolik Parahyangan, nota kesepahaman dengan Parongpong RAW Lab, 25 November 2024.

Konteks terkait

Untuk melihat bagaimana limbah lain diubah menjadi material dan sistem bisnis, baca Pable Pabtex: Ketika Limbah Kain Kembali Menjadi Tekstil dan Alner: Bisakah Sistem Deposit Membuat Kemasan Dipakai Berulang Kali?. Rangkaian ini terhubung dengan inovasi UKM Indonesia serta tren ekonomi sirkular UKM.

Scroll to Top