Aliet Green: Agroforestry Organik, Fairtrade, dan Petani Perempuan

Di dapur desa, gula kelapa masih dibuat melalui pekerjaan yang sangat manual. Nira harus disadap pada waktu yang tepat, dibawa sebelum kualitasnya turun, dimasak berjam-jam, lalu diaduk sampai berubah menjadi kristal. Batch yang terlambat diproses dapat mengubah rasa, kadar air, dan keamanan produk.

Aliet Green membangun bisnis dari proses tersebut, tetapi tidak berhenti pada komoditas. Perusahaan sosial asal Yogyakarta ini menjual bahan pangan organik kepada produsen makanan dan pembeli grosir, sambil menghubungkan sertifikasi, agroforestri, pemberdayaan perempuan, serta traceability ke dalam satu rantai pasok.

Produknya mencakup gula kelapa, sirup kelapa, coconut aminos, vanila, dan rempah. Buyer B2B membeli konsistensi, dokumen, asal yang dapat dibuktikan, dan kemampuan memenuhi spesifikasi.

Bermula pada 2009 dari keputusan yang tidak terlalu fashionable

Lastiana Yuliandari mendirikan Aliet Green pada 2009 ketika masih muda dan tidak memiliki latar pendidikan formal di bidang pertanian. Jejak awal perusahaan berhubungan dengan perdagangan gula kelapa organik di Yogyakarta, lalu berkembang menuju produksi, pengolahan, dan pembangunan jaringan petani.

Sumber resmi menyebut Aliet Green sebagai female-led social enterprise. Direktori Regenerative Organic Alliance menampilkan nama Aliet Green Ltd. di Sumberagung, Yogyakarta. Namun nama badan hukum Indonesia, akta, dan struktur direksi legal terkini tidak tersedia secara konsisten dalam sumber publik yang diperiksa. Artikel ini menggunakan Aliet Green sebagai nama perusahaan publik tanpa menebak bentuk badan hukumnya.

Gula kelapa memiliki pasar sebagai pemanis, ingredient, dan private-label item. Pasokannya fragmented karena produksi berlangsung di rumah petani, bukan satu perkebunan besar.

Aliet Green harus membuat ribuan proses kecil menghasilkan kualitas yang dapat diterima buyer global.

Agroforestri bukan kebun kelapa yang berdiri sendirian

Kebun petani di Kulon Progo dan wilayah sekitar tidak selalu berbentuk barisan satu komoditas. Kelapa dapat tumbuh bersama vanila, manggis, pisang, tanaman pangan, dan vegetasi lain dalam sistem agroforestri tadah hujan.

Keragaman mengurangi ketergantungan pada satu hasil, membantu melindungi tanah, dan menciptakan habitat yang lebih kompleks daripada monokultur.

Tetapi label agroforestri tidak otomatis menjamin regenerasi. Sistem perlu menunjukkan bagaimana kesuburan tanah, penggunaan input, biodiversitas, air, produktivitas, dan kesejahteraan pekerja berubah dari waktu ke waktu.

Aliet Green telah masuk dalam direktori Regenerative Organic Certified pada level Silver untuk operasi di Sumberagung. Direktori tersebut mencantumkan beberapa tanaman, termasuk nira bunga kelapa dan pisang. ROC menilai tiga pilar utama, yaitu kesehatan tanah, kesejahteraan hewan bila relevan, dan keadilan sosial, dengan organic certification sebagai salah satu fondasinya.

Sertifikasi berlaku pada operasi, tanaman, wilayah, dan periode tertentu. Jadi tidak tepat menganggap seluruh produk yang pernah dijual Aliet Green otomatis memiliki status ROC yang sama.

Petani perempuan ditempatkan di inti supply chain

Aliet Green menyatakan 94,5 persen petaninya adalah perempuan. Profil perusahaan lain menyebut 90 persen, sedangkan IKEA Social Entrepreneurship mencatat kerja sama dengan sekitar 1.500 small family farms. Profil LinkedIn perusahaan menampilkan lebih dari 1.800 petani.

Perbedaan itu mungkin berasal dari periode atau definisi yang berbeda: petani langsung, rumah tangga tani, anggota aktif, atau seluruh jaringan. Karena tidak tersedia dashboard metodologi tunggal, angka tersebut tidak dijumlahkan. Kesimpulan yang aman adalah bahwa jaringan berada pada skala ribuan keluarga tani dan mayoritas besar peserta diklaim perempuan.

Perusahaan menyebut adanya equal pricing, pelatihan bisnis, literasi keuangan, jalur kepemimpinan komunitas, dan penggunaan Fairtrade premium untuk pendidikan, alat pertanian, kesehatan, atau kebutuhan sosial.

Fairtrade penting karena harga dan premium dipisahkan. Harga membayar produk, sedangkan premium dikelola untuk manfaat komunitas sesuai mekanisme program. Namun transparansi tetap dibutuhkan. Buyer perlu mengetahui organisasi produsen yang tercakup, volume bersertifikat, keputusan penggunaan premium, dan bagaimana petani perempuan benar-benar memiliki suara.

Kepemimpinan perempuan tidak cukup dihitung dari jumlah peserta. Ia harus terlihat dalam kepemilikan aset, keputusan harga, posisi organisasi, akses rekening, serta kontrol terhadap pendapatan.

Sertifikasi menjadi infrastruktur penjualan B2B

Aliet Green menampilkan portofolio sertifikasi dan standar yang mencakup Fairtrade, organic, BRCGS, B Corp, serta Regenerative Organic Certified. ROC Silver dapat diverifikasi melalui direktori Regenerative Organic Alliance. Untuk sertifikasi lain, buyer tetap perlu meminta sertifikat terkini, nomor, masa berlaku, produk, fasilitas, dan scope sebelum menggunakannya dalam klaim kemasan.

Dalam perdagangan ingredient, sertifikasi membuka pintu, tetapi tidak menjamin transaksi.

Produsen makanan tetap akan meminta spesifikasi seperti kadar air, ukuran partikel, warna, rasa, aktivitas air, mikrobiologi, allergen statement, residu, kemasan, shelf life, dan kemampuan memasok ulang.

Buyer dapat meminta formula khusus, private label, ukuran kemasan berbeda, atau dokumentasi lintas yurisdiksi.

Moat perusahaan berada pada kombinasi hubungan petani, sistem mutu, fasilitas pengolahan, sertifikasi, dan pengalaman mengekspor ingredient. Sertifikat tanpa pasokan stabil tidak cukup. Pasokan tanpa sertifikat juga dapat tertahan di pintu buyer premium.

Fairtrade tidak menghapus persoalan kualitas nira

Nira kelapa berubah cepat setelah disadap. Kebersihan wadah, waktu pengumpulan, praktik petani, cuaca, dan pengolahan menentukan kualitas akhir.

Jika satu rumah tangga menghasilkan batch yang terlalu lembap, gosong, atau tercampur, masalahnya dapat menyebar ketika produk digabungkan. Sistem quality control harus dimulai sebelum barang tiba di fasilitas.

Aliet Green menyebut penggunaan teknologi IIoT untuk memperkuat praktik dan supply chain. DBS Foundation juga mendukung pengembangan software rantai pasok, capacity building, serta peralatan bagi petani dalam program hibah 2024.

Total hibah sekitar Rp11,5 miliar diberikan kepada lima organisasi Indonesia, sehingga tidak tepat menyatakan seluruh jumlah diterima Aliet Green. Detail alokasi individual tidak dipublikasikan.

Software dapat mencatat petani, kebun, batch, inspeksi, dan pembayaran. Petani tetap perlu menerima manfaat berupa feedback kualitas, histori transaksi, atau keputusan panen yang lebih baik.

Dampak besar perlu definisi yang tidak berubah-ubah

IKEA Social Entrepreneurship menyebut dalam 16 tahun Aliet Green menanam lebih dari 3.000 bibit kelapa pendek dan lebih dari 3.000 tanaman agroforestri seperti vanila serta manggis. Situs perusahaan juga menampilkan investasi komunitas lebih dari USD125 ribu.

Semua angka tersebut merupakan data organisasi atau mitra program. Belum tersedia metodologi publik lengkap mengenai survival rate tanaman, periode pencairan, kategori investasi, baseline pendapatan, atau tambahan pendapatan petani.

Maka angka tersebut sebaiknya dibaca sebagai indikasi aktivitas dan skala, bukan audit dampak independen.

Pada April 2026, Lastiana menerima BELLA Award sebagai Most Promising Agri Start-Up in Indonesia menurut publikasi Aliet Green. Penghargaan menambah pengakuan, tetapi pekerjaan inti tetap memastikan praktik regeneratif berjalan, petani dibayar, dan buyer kembali memesan.

Ketahanan modelnya diuji saat harga dan cuaca berubah

Bisnis berbasis petani kecil menghadapi cuaca, produktivitas, regenerasi penyadap, volatilitas ekspor, kurs, dan perubahan persyaratan buyer. Gula kelapa juga bersaing dengan pemanis lain yang lebih murah serta lebih mudah distandardisasi.

Aliet Green tidak bisa menang hanya dengan cerita sosial. Perusahaan harus membuktikan bahwa ingredient-nya reliable, aman, dan masuk ke formulasi pelanggan tanpa bikin tim quality assurance panik.

Di sisi lain, buyer tidak seharusnya memakai narasi petani perempuan sebagai dekorasi kemasan. Pembelian yang bertanggung jawab membutuhkan kontrak berkelanjutan, forecast yang masuk akal, komunikasi perubahan permintaan, dan pembagian nilai yang tidak berhenti pada foto kampanye.

Aliet Green menunjukkan bagaimana praktik tradisional dapat masuk pasar modern tanpa harus menghapus konteks desa. Tantangannya adalah menjaga tiga hal tetap nyambung: tanah yang pulih, perempuan yang punya posisi tawar, dan produk yang memenuhi standar industri.

Ketika ketiganya bekerja, gula kelapa bukan sekadar pemanis alternatif. Ia menjadi hasil dari supply chain yang dirancang ulang.

Catatan verifikasi dan sumber publik

Artikel ini disusun dari sumber publik yang tersedia sampai 31 Juli 2026. Angka kapasitas, dampak, sertifikasi, klien, pendanaan, dan performa tidak dianggap sebagai hasil audit independen kecuali dinyatakan secara eksplisit.

  • Sumber publik: alietgreen.com
  • Aliet Green, situs resmi, halaman About, produk, Fairtrade, berita, dan informasi dampak, diakses Juli 2026.
  • Regenerative Organic Alliance, Certified Farm & Ranch Directory, Aliet Green Ltd., Sumberagung, Yogyakarta, level Silver, diakses Juli 2026.
  • IKEA Social Entrepreneurship, profil Aliet Green, diperbarui untuk program 2025–2026.
  • DBS Foundation, pengumuman Grant Programme 2024 untuk lima perusahaan berdampak asal Indonesia, 13 Februari 2025.
  • WEConnect International, profil Lastiana Yuliandari dan sejarah Aliet Green.
  • Aliet Green, “What We do to Empower Female Farmers?”, diakses Juli 2026.
  • Aliet Green, “2026 Business Excellence in Lady-Led Agri-Enterprise Awards”, April 2026.
  • Catatan verifikasi: Aliet Green didirikan pada 2009 oleh Lastiana Yuliandari. Direktori ROC memakai nama Aliet Green Ltd., tetapi badan hukum Indonesia dan struktur direksi terkini belum diverifikasi dari akta.
Scroll to Top