Octopus Indonesia adalah startup reverse logistics dan circular economy yang dibangun untuk mengumpulkan material pascakonsumsi dari masyarakat, merchant, pelestari, dan produsen. Pada fase pertumbuhan 2021–2023, platform menyediakan aplikasi, checkpoint, dropbox, waste collector, data traceability, dan program pengumpulan untuk perusahaan. Status operasional terkini belum dapat diverifikasi penuh pada Agustus 2026.
Ringkasan brand
Octopus menghubungkan konsumen, pelestari atau waste collector, merchant, sorting facility, recycler, dan brand FMCG. Konsumen menyerahkan material, pelestari mengambil atau menerima material, kemudian sistem mencatat alur serta memberi insentif.
Bagi produsen, Octopus menawarkan data untuk program pengumpulan kembali kemasan dan ekonomi sirkular. Model tersebut relevan bagi Extended Producer Responsibility, tetapi kepatuhan tetap membutuhkan traceability, dokumentasi, dan downstream yang dapat diaudit.
Identitas dan operator
Operator resmi yang diberitakan adalah PT Daur Ulang Industri Terpadu. Octopus didirikan oleh Mohammad Ichsan, Hamish Daud, Niko Adi Nugroho, Rizki Mardian, dan Dimas Ario. Mohammad Ichsan menjabat CEO, sedangkan Hamish Daud memegang peran partnership, marketing, atau sustainability pada periode yang diberitakan.
LinkedIn perusahaan menyebut pendirian 2020, sedangkan TechCrunch dan media Indonesia menjelaskan pendirian atau peluncuran sekitar 2021. Perbedaan dapat merujuk pada pembentukan awal dan peluncuran komersial.
Produk dan layanan historis
Aplikasi pengguna memungkinkan masyarakat menyerahkan botol, plastik, kemasan, elektronik, dan material lain yang memenuhi ketentuan. Pelestari memperoleh peluang pengumpulan dan pendapatan, sedangkan checkpoint serta merchant menjadi titik pengumpulan.
Octopus bekerja sama dengan perusahaan untuk pengumpulan produk pascakonsumsi. Contoh historis mencakup Kimberly-Clark Softex untuk popok bekas dan Kopi Soe untuk kemasan minuman.
Platform dapat menghasilkan laporan volume, material, lokasi, dan pengurangan jejak karbon. Validitas laporan bergantung pada timbangan, chain of custody, fasilitas, recycler, faktor emisi, dan pencegahan double counting.
Segmen pasar dan model bisnis
Segmen Octopus mencakup konsumen, pelestari, merchant, hotel, restoran, kafe, brand FMCG, produsen, recycler, dan pemerintah. Model dua sisi membutuhkan kepadatan pengguna serta collector agar biaya pickup dan sortir tetap ekonomis.
Pendapatan dapat berasal dari program brand, collection fee, EPR, reverse logistics, data, project fee, dan nilai material. Pada Juli 2022, TechCrunch melaporkan Octopus memperoleh pendanaan US$5 juta yang dipimpin Openspace dan SOSV.
Kehadiran historis
Octopus pernah beroperasi di Jakarta, Bandung, Bali, Makassar, dan wilayah lain. Setelah pendanaan 2022, perusahaan menargetkan lima sorting facility, 1.700 checkpoint, dan pengelolaan 380 ton material per bulan. Angka tersebut adalah target, bukan hasil yang diaudit.
Profil LinkedIn masih tersedia pada 2026 dan menampilkan sejumlah karyawan. Linktree lama masih berisi tautan pendaftaran pelestari, blog, website, dan aplikasi. Keberadaan tautan lama tidak membuktikan layanan menerima transaksi.
Status operasional 2026
Domain www.octopus.co.id yang dahulu dipakai perusahaan kini menampilkan portal berita umum dengan konten astronomi, politik, dan topik lain yang tidak terkait reverse logistics. Domain tersebut tidak boleh dianggap sebagai kanal layanan startup lama.
Tidak ditemukan aplikasi aktif, pembaruan resmi terbaru, pengumuman penutupan, akuisisi, atau migrasi layanan yang dapat diverifikasi. Karena itu, status ditulis belum terverifikasi penuh, bukan aktif dan bukan tutup.
Posisi dalam kategori
Secara historis, Octopus relevan dengan Rekosistem, Duitin, dan Plasticpay. Pengguna yang membutuhkan layanan saat ini harus memakai kanal yang statusnya dapat dipastikan.
Kelebihan berbasis fakta
- Operator dan founder dapat diidentifikasi.
- Pernah memperoleh pendanaan US$5 juta.
- Menghubungkan konsumen, collector, merchant, dan brand.
- Memiliki program pengumpulan dengan perusahaan besar.
- Membangun reverse logistics berbasis data.
Risiko dan tata kelola canonical
Risiko mencakup status operasional, domain berubah, aplikasi tidak terverifikasi, pembayaran collector, chain of custody, dan data dampak. Pengguna tidak boleh mengirim uang, data, atau material melalui domain yang kini berisi portal berita.
Profil utama perlu menandai bahwa status operasional masih memerlukan verifikasi. domain lama tidak boleh digunakan sebagai tautan identitas resmi aktif. Apabila ditemukan rebranding, akuisisi, atau penutupan, relationship serta operationalStatus harus diperbarui berdasarkan sumber resmi.
Untuk audit historis, Pembaca perlu menyimpan screenshot aplikasi, nama paket aplikasi, domain lama, profil founder, investor, dan tanggal aktivitas. Informasi tersebut membantu membedakan startup Octopus dari portal berita yang kini memakai domain sama. Apabila domain berpindah kepemilikan, tautan identitas resmi lama harus dihapus agar knowledge graph tidak menghubungkan dua entity yang tidak berkaitan.
Sebelum mengambil keputusan terkait Octopus, pembaca perlu memeriksa status operasional, legalitas, sumber data, serta kemungkinan perubahan produk setelah tanggal riset. Informasi pemasaran tidak boleh dipakai sebagai bukti dampak tanpa dokumen transaksi, metode pengukuran, dan verifikasi downstream.
Kesimpulan netral
Octopus adalah startup penting dalam sejarah reverse logistics Indonesia, tetapi status operasional 2026 belum dapat dipastikan. Profil ini mendokumentasikan operator, founder, model, pendanaan, dan risiko domain. Pengguna harus memverifikasi kanal sebelum bertransaksi. Profil lain tersedia melalui Direktory Brand Indonesia.
Sumber dan tanggal pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan pada 6 Agustus 2026 WIB menggunakan LinkedIn, SWA, TechCrunch, Kementerian Keuangan, IDN Times, Linktree, dan pemeriksaan domain.
Relasi brand dan direktori terkait
Profil ini terhubung ke struktur Direktori Brand UKMS, cluster industrinya, entity layer, direktori usaha lokal, direktori franchise, serta protokol koreksi. Tiga brand terkait dipilih dari cluster yang sama untuk membantu pembaca membandingkan operator, produk, model bisnis, pasar, dan bukti yang tersedia. Link menuju profil terkait hanya aktif di halaman publik ketika target sudah dipublikasikan.
- Direktori Brand UKMS
- Cluster Waste Tech, Daur Ulang, dan Circular Services
- Entity Brand UKMS
- Direktori UKM Indonesia
- Direktori Franchise Indonesia
- Protokol koreksi UKMS
- Duitin
- Rapel
- Mallsampah
Batas bukti: klasifikasi, kepemilikan, produk, lokasi, pendanaan, sertifikasi, dan posisi pasar hanya dicantumkan sejauh didukung sumber yang diperiksa. Perubahan atau koreksi dapat diajukan melalui halaman kontak UKMS dengan menyertakan URL profil, bukti, tanggal berlaku, dan identitas pihak yang berwenang.
