Digital Marketing Mythbusting , Digital marketing akan membawa dampak besar bila pelaksanaannya berangkat dari pemahaman jernih dan benar tentang digital marketing itu sendiri. Saatnya membongkar mitos-mitos dan meluruskan pemahaman.
Apakah digital marketing itu menguntungkan atau malah membuat perusahaan buntung? Pertanyaan di atas masih sering terdengar di kalangan pemasar. Khususnya mereka yang baru memulai menjalankan digital marketing atau yang masih ragu-ragu atau yang sudah lama menjalankannya namun belum melihat hasil.
Di sisi lain, banyak pemasar menyadari pentingnya digital marketing untuk mendukung performa bisnisnya. Meski tak sedikit pula merek yang bakar duit untuk digital marketing hanya karena latah dan biar tidak dianggap sebagai merek kuno atau gaptek.
Hasil The CMO Survey eperti dikutip dari Harvard Business Review (HBR), menarik disimak. Menurutnya, para CMO dengan senang hati mengalokasikan 57% anggaran untuk digital marketing.
Namun, survei tersebut juga mengungkap bahwa selama setahun terakhir, lebih dari 30% pemasar curhat tentang tingkat pengembalian investasi masih kecil. Artinya, ada gap antara investasi dengan dampak yang dihasilkan. Mereka khawatir kesenjangan ini akan menimbulkan kesulitan pendanaan di masa depan.
Fenomena itu lumrah, namun bukan menjadi afirmasi bahwa digital marketing itu tidak ada gunanya. Digital marketing saat ini sudah menjadi keharusan bagi merek bila ingin berkembang dan relevan dengan konsumennya. Hal ini didukung dengan banyaknya kisah kesuksesan merek berkat digital marketing.
Riset lain mengatakan bahwa belum maksimalnya dampak digital marketing bukan karena digital marketing itu sendiri tetapi lebih pada faktor manusia. Masih ada kesalahkaprahan dalam memandang pemasaran digital ini. Banyak orang yang latah dengan digital marketing, tapi masih sering salah arah sehingga kurang mendapatkan dampak yang diinginkan.
baca juga
Elemen Utama
Sebelum membongkar mitos atau meluruskan kesalahkaprahan seputar digital marketing, ada baiknya kita selaraskan dulu pemahaman tentang digital marketing tersebut.
Secara umum, digital marketing dibagi menjadi dua bagian besar, yakni content marketing dan e-commerce. Content marketing mengacu pada aktivitas membuat, mengkurasi, mendistribusikan, dan mengamplifikasi konten di kanal digital. Sementara, e-commerce mengacu pada proses jual beli atau proses memfasilitasi transaksi di kanal digital.
Ada dua platform besar yang sering digunakan untuk menjalankan content marketing, yakni platform search engine dan social media. Keduanya memiliki karakter yang berbeda. Platform search pada dasarnya untuk menjawab pertanyaan dari audiens atau konsumen. Karena itu, merek harus bisa menciptakan sebuah konten yang menjawab keinginan konsumen. Ini sifatnya user-driven dan kontennya cenderung panjang dan detail.
Platform social media digunakan untuk mendorong emosi, dari awalnya tidak memiliki keinginan menjadi ingin membeli atau melakukan sesuatu. Ini sifatnya brand-driven dan kontennya cenderung pendek dan cepat berganti.
Sementara, e-commerce secara umum bisa dibagi menjadi marketplace dan social commerce. Marketplace terbagi dua, yakni menarget konsumen akhir (B2C) dan konsumen ke konsumen (C2C). Namun, ada merek yang bikin kanal marketplace sendiri yang langsung menarget konsumennya.
Social commerce mengacu pada jual beli barang melalui media sosial. Ini bisa dilakukan melalui percakapan di platform chatting seperti WhatsApp yang populer disebut conversational commerce. Yang populer dilakukan sekarang adalah livestream commerce dengan promo dan demo produk secara live dan konsumen bisa langsung membeli.
Pahami Pain Point, Bongkar Mitos
Untuk menjelaskan mitos-mitos seputar digital marketing, ada baiknya memahami pain point apa saja yang dihadapi merek saat menjalankan digital marketing.
Menurut laporan Intero Digital (2024) bertajuk Revolutionizing Reach: The 2024 Digital Marketing Landscape You Can’t Ignore, selain pendapatan (46,2%), pain point yang dialami merek adalah perolehan prospek (33,3%), keterbatasan anggaran (28,2%), persaingan (25%), perubahan algoritma dan praktik SEO (20,5%), penguatan penjualan, pengukuran return on investment, hingga branding. (Grafik 1).

Laporan tersebut juga mengungkap tujuan-tujuan merek menjalankan pemasaran digital pada tahun 2024. Lima besar tujuan yang mereka ingin capai adalah meningkatkan pendapatan, mendongkrak trafik website, posisi tinggi di SEO, brand awareness, dan meningkatkan leads penjualan.
Mungkin merek Anda memiliki pain point dan tujuan tersendiri dalam digital marketing. Oleh karena itu, untuk menjernihkan pemahaman seputar digital marketing, kita perlu membongkar mitos-mitosnya.
Ada sembilan mitos dan kesalahkaprahan yang dibongkar di edisi ini. Beberapa di antaranya, menjadikan trafik sebagai ukuran sukses nomor satu digital marketing, menyamakan Gen Z dengan Milenial di platform digital, menyempitkan content marketing sebagai advertising atau selling, digital marketing diperlakukan sebagai proyek coba-coba, dan sebagainya.
Bahasan setiap mitos di edisi ini kami sajikan secara ringkas. Cukup poin-poinnya saja dan sedikit contoh. Cuma dua halaman setiap topik, berbeda dengan edisi biasanya. Alasannya bukan karena keterbatasan halaman.
