https://ukms.or.id/ Pajak dan Politik: Siapa yang Untung? Coba jujur bentar deh: tiap kali lo denger kata “pajak”, apa yang kebayang?
Buat rakyat kecil: potongan gaji, bayar PPN pas jajan online, atau urusan ribet SPT tahunan.
Buat politisi: duit gede yang bisa jadi mesin kekuasaan.
Yes, pajak itu gak cuma urusan akuntansi. Pajak tuh darah negara. Dari situ semua kebijakan jalan: subsidi, infrastruktur, gaji ASN, bahkan kampanye politik (secara gak langsung). Pertanyaan pedesnya: siapa sebenernya yang paling diuntungkan dari sistem pajak kita? Rakyat? Politisi? Atau elite tertentu?
Pajak Sebagai Senjata Politik
Sejarah udah buktiin, pajak itu senjata paling ampuh buat ngontrol masyarakat. Dari zaman kolonial Belanda, rakyat dipaksa setor pajak bumi, pajak hasil panen, pajak kepala. Tujuannya? Bukan buat bikin jalan bagus, tapi buat ngisi kas kolonial.
Lompat ke era modern, pajak masih jadi alat politik. Partai bisa janjiin keringanan pajak buat UMKM biar dapet simpati. Ada juga politisi yang pake narasi “kita harus perangi pengemplang pajak” buat keliatan pro-rakyat.
Tapi di belakang layar, kita gak bisa naif. Pajak itu uang triliunan. Dan tiap triliun selalu punya aroma politik.
Skandal Pajak: Dari Gayus Sampai Panama Papers
Lo pasti inget nama Gayus Tambunan. Tahun 2010, kasusnya viral banget. Pegawai pajak golongan rendah, tapi hidup mewah: rumah mewah, mobil sport, jalan-jalan ke luar negeri. Terbongkar kalau dia terlibat manipulasi pajak perusahaan besar. Ini bukti keras: pajak dan politik gak pernah steril.
Abis itu, ada juga Panama Papers (2016). Bocoran dokumen offshore yang ngungkap pejabat + pengusaha Indo nyimpen duit di luar negeri buat ngindarin pajak. Publik langsung panas: rakyat kecil taat bayar pajak, eh elite kabur ke surga pajak.
Kasus-kasus kayak gini bikin orang skeptis: pajak beneran buat rakyat atau cuma buat elite makin kaya?
Pajak Sebagai Modal Politik
Politisi cerdas ngerti, isu pajak itu seksi. Contoh: tiap kali Pemilu, pasti ada janji-janji soal keringanan pajak. Dari tax amnesty, insentif UMKM, sampe potongan PPh buat startup.
Pertanyaannya, beneran buat rakyat atau sekadar strategi dapet suara?
Karena setelah menang, kadang realitanya beda. Subsidi bisa dipotong, tarif pajak bisa naik, bahkan muncul pajak baru yang nyakitin kantong middle class.
Di sisi lain, pajak juga bisa jadi “mesin pendanaan” terselubung. Bayangin: perusahaan gede nego sama politisi biar pajak mereka “diringanin” dengan imbalan dukungan politik. Bukan teori konspirasi, bro, ini praktik yang udah kebongkar di banyak negara.
baca juga
- Belajar Pajak dari Negara Skandinavia
- Tax Planning 2025
- Rakyat Melepas Sri Mulyani, Bagaimana Masa Depan Keuangan RI ?
- Pajak AI
- Robot Kena Pajak?
Siapa yang Untung? Rakyat vs Elite
Mari kita jujur. Secara teori, rakyat mestinya jadi pihak yang paling diuntungkan. Karena duit pajak balik ke bentuk layanan publik: sekolah gratis, jalan tol, subsidi kesehatan.
Tapi di Indo, realitanya masih campur aduk. Rakyat bayar pajak (langsung/tidak langsung), tapi sering nemu korupsi, infrastruktur mangkrak, layanan publik setengah hati.
Siapa yang keliatan paling untung?
- Elite Politik
Bisa manfaatin pajak buat branding politik. Janji manis soal insentif pajak sering jadi alat kampanye. - Pengusaha Besar
Lewat lobi, mereka bisa dapet tax holiday, tax allowance, atau bahkan lolos dari kewajiban tertentu. - Middle Class
Ironisnya, kelas menengah sering jadi ATM negara. Mereka bayar pajak rutin lewat potongan gaji, tapi jarang dapet benefit setara. - UMKM
Untung kalau ada insentif pajak. Tapi sering juga mereka cuma dijadiin jargon politik tanpa real eksekusi.
Pajak Sebagai Drama Media
Kenapa isu pajak selalu rame? Karena media pinter mainin narasi.
- Pas ada kasus artis diciduk pajak → headline: “Selebriti Miliaran, Lupa Bayar Pajak.”
- Pas ada tax amnesty → headline: “Pemerintah Beri Kesempatan Emas.”
- Pas ada kebijakan baru PPN → headline: “Rakyat Menjerit.”
Media paham, pajak = clickbait. Tapi efeknya, isu ini makin gampang dipolitisasi.
Perang Narasi di Sosial Media
Gen Z sekarang udah makin sadar politik. Isu pajak jadi bahan roasting di Twitter, TikTok, bahkan meme. Misalnya:
- “Orang kaya: taro duit di Panama. Orang miskin: kena pajak pas beli Indomie.”
- “Gaji 5 juta potong pajak langsung. Gaji 500 miliar? Diskon pajak spesial.”
- “Negara butuh duit, rakyat disuruh gotong royong. Elite butuh duit, rakyat juga yang kena.”
Narasi-narasi kayak gini bikin pajak gak lagi dianggap sekadar kewajiban. Tapi jadi bahan kritik sistem politik.
Tax Amnesty: Penyelamat atau Jurus Politik?
Indonesia udah dua kali bikin tax amnesty (2016 & 2021). Tujuannya mulia: narik duit orang kaya di luar negeri biar balik ke Indonesia.
Tapi banyak yang nyinyir:
- “Tax amnesty cuma ngasih karpet merah buat pengemplang pajak.”
- “Rakyat kecil disuruh taat, elite dikasih maaf.”
- “Ini bukan reformasi pajak, tapi politik pencitraan.”
Yang jelas, tax amnesty jadi alat politik yang powerful. Pemerintah bisa klaim berhasil ningkatin penerimaan, partai bisa branding pro-ekonomi, sementara pengusaha besar dapet jalan keluar aman.
Politik di Balik Tarif Pajak
Lo tau gak, nentuin tarif pajak itu bukan cuma hitung-hitungan ekonomi. Itu keputusan politik. Misalnya:
- PPN naik dari 10% ke 11% (2022) → bikin debat panas. Rakyat bilang makin berat, pemerintah klaim demi APBN.
- Rencana PPN 12% (2025) → langsung jadi bahan kampanye. Partai oposisi bisa manfaatin buat kritik pemerintah.
- Tarif PPh UMKM 0,5% → dipake politisi buat nunjukin kepedulian ke usaha kecil.
Tarif pajak = strategi politik disguised as ekonomi.
Politik Pajak di Era Digital
Era digital bikin politik pajak makin rumit. Influencer bisa jadi buzzer pajak atau justru musuh pajak. DJP bisa tracking lewat platform digital, tapi di sisi lain, politisi juga pake isu ini buat framing.
Contoh: pas Sri Mulyani bilang “pajak untuk keadilan sosial,” sebagian netizen dukung, sebagian lagi bully dengan meme “keadilan sosial untuk siapa?”
Siapa Sebenarnya yang Paling Dirugikan?
Kalau ditanya siapa untung, jawabannya bisa berlapis. Tapi kalau ditanya siapa rugi? Jawaban cepat: rakyat kecil + kelas menengah.
Mereka rutin bayar pajak (langsung/tidak langsung), tapi sering dapet balikannya setengah hati. Sementara elite bisa punya privilege negosiasi.
Itu yang bikin kepercayaan publik ke sistem pajak kadang luntur. Orang jadi mikir: “Ngapain taat, kalau ujung-ujungnya bocor?”
Masa Depan Pajak dan Politik Indo
Tren global sekarang lagi geser ke transparansi & digitalisasi pajak. Indonesia juga ikut: e-Faktur, e-Bupot, sampe DJP Online. Ini bikin ruang main politisi makin sempit.
Tapi jangan salah. Politik selalu cari jalan. Bisa jadi pajak digital, pajak karbon, atau pajak baru lainnya nanti dipake lagi jadi bahan kampanye.
Yang jelas, selama pajak masih jadi darah negara, politik gak akan pernah lepas dari pajak.
Closing Thought
Pajak dan politik itu kayak dua sisi mata uang. Gak bisa dipisahin, tapi juga sering bikin konflik. Rakyat dituntut taat, elite sering punya celah.
Pertanyaan “siapa yang untung?” jawabannya: tergantung lo di posisi mana. Kalau lo rakyat biasa, untung lo dapet kalau layanan publik beneran jalan. Kalau lo elite politik, untung lo bisa jadi suara, pencitraan, bahkan mesin kekuasaan.
At the end, semua balik ke satu hal: pajak itu kewajiban, tapi kepercayaan rakyat harus dibayar balik. Kalau enggak, politik bakal terus jadi permainan siapa yang sebenernya paling untung.
