Pable Pabtex: Ketika Limbah Kain Kembali Menjadi Tekstil

INSIGHT · BISNIS · UKM
FormatArtikel UKMS
Diperbarui31 July 2026
Waktu baca6 menit
KonteksUKM

Upcycling biasanya berhenti ketika kain bekas dijahit menjadi pouch. Pable memilih jalan yang lebih industrial: kain dihancurkan kembali sampai menjadi serat, dipintal menjadi benang, lalu ditenun ulang sebagai kain baru bernama Pabtex.

Itu perbedaan penting. Produk akhirnya bukan satu bentuk barang, tetapi material yang dapat masuk ke banyak produk: seragam, kemeja, outerwear, tas, sepatu, furnitur lunak, merchandise, atau koleksi desainer.

Pable yang beroperasi melalui PT Daur Langkah Bersama didirikan di Surabaya pada 2020. Aryenda Atma tercatat sebagai founder, co-founder, dan CEO dalam sumber yang berbeda. Perbedaan label jabatan tidak mengubah perannya sebagai figur utama perusahaan, tetapi susunan pendiri serta direksi legal terbaru tetap perlu diverifikasi melalui dokumen korporasi.

Pabtex dimulai dari keputusan paling penting: kain mana yang diterima

Mechanical recycling tidak bisa memasukkan semua pakaian ke mesin lalu berharap keluar benang cantik. Material harus dipilah berdasarkan komposisi, warna, kondisi, dan kontaminasi.

Pable terutama memproses limbah pre-consumer, seperti potongan produksi dari pabrik garmen. Bahan ini lebih mudah karena belum dipakai, relatif bersih, warnanya diketahui, dan tidak penuh kancing, ritsleting, label, atau noda.

Perusahaan juga menerima sebagian limbah post-consumer seperti seragam, pakaian, dan linen. Segmen ini lebih menantang. Komposisinya bisa campuran, label tidak selalu akurat, dan aksesori harus dilepas. Kain berlapis coating, elastane tinggi, atau campuran serat yang kompleks dapat menghasilkan residu lebih besar.

Studi SWITCH-Asia menyebut residu pre-consumer sekitar 1 persen, sedangkan post-consumer dapat mencapai 10 sampai 20 persen. Angka itu berasal dari data yang disediakan Pable untuk studi kasus. Ia memberi gambaran tantangan, tetapi tidak boleh dianggap berlaku untuk setiap batch.

Dari warna limbah menuju warna kain

Alur Pabtex dimulai dari pemilahan. Kain kemudian dicacah dan melalui carding untuk membuka serat. Serat dipisahkan berdasarkan warna, dicampur untuk mencapai tone tertentu, dipintal menjadi benang, lalu ditenun.

Pable menyatakan tidak melakukan pencelupan ulang pada proses kain daur ulangnya. Warna akhir berasal dari kombinasi warna limbah. Pendekatan ini mengurangi kebutuhan air dan bahan kimia di tahap pewarnaan, tetapi membatasi palet.

Buyer tidak bisa selalu meminta warna Pantone yang identik. Satu batch abu-abu dapat sedikit berbeda dari batch berikutnya karena bahan bakunya berbeda. Bagi desainer, variasi itu bisa menjadi karakter. Bagi perusahaan dengan brand guideline superketat, variasi dapat menjadi masalah procurement.

Di sinilah Pabtex menuntut perubahan pola pikir. Kain sirkular bukan kain virgin yang kebetulan memakai cerita hijau. Ia memiliki constraint material yang harus masuk ke brief desain sejak awal.

Pable tidak mengerjakan semuanya sendiri

Studi SWITCH-Asia menjelaskan bahwa Pable berfokus pada ekstraksi serat, pemulihan, dan pemilahan warna, lalu bekerja dengan produsen pihak ketiga untuk tahap pemintalan dan produksi berikutnya. Penenunan juga melibatkan usaha mikro dan kecil di Desa Karangrejo, Jawa Timur.

Model asset-light menurunkan kebutuhan investasi mesin. Pable dapat memakai kapasitas mitra sambil membangun pasar. Namun konsekuensinya adalah koordinasi.

Kualitas serat harus konsisten sebelum masuk pemintalan. Benang harus sesuai dengan mesin tenun. Jadwal pabrik pihak ketiga harus sinkron dengan deadline klien. Produksi di komunitas perlu menjaga spesifikasi lebar, gramasi, pola, dan finishing.

Untuk pasar B2B, orchestration ini justru menjadi produk. Klien tidak membeli satu gulung kain saja. Mereka membeli kemampuan Pable menghubungkan limbah, dokumentasi, desain, manufaktur, dan barang jadi.

Pabmove menjadikan limbah perusahaan sebagai bahan baku

Pable mengembangkan Pabmove sebagai payung layanan pengelolaan limbah tekstil. Salah satu produknya adalah Uniform Disposal Program, yang menangani seragam lama, rusak, atau tidak lagi dipakai perusahaan.

Program semacam ini punya value yang lebih besar daripada sekadar mengambil karung pakaian. Seragam membawa logo, identitas perusahaan, dan risiko penyalahgunaan. Klien membutuhkan chain of custody, dokumentasi penghancuran identitas, laporan volume, serta bukti jalur pemanfaatan.

Pable juga menjalankan dropbox publik dan program Portable untuk pengumpulan pakaian. Pilot Linens to Life bersama Artotel Group pada Desember 2024 mengeksplorasi pengumpulan linen hotel agar kembali menjadi produk tekstil.

Untuk perusahaan, skenario paling menarik adalah closed loop: seragam lama dikumpulkan, diproses, lalu sebagian nilainya kembali sebagai merchandise, kain, atau produk baru. Namun closed loop tidak selalu berarti serat dari satu perusahaan kembali 100 persen ke produk perusahaan yang sama. Volume, warna, dan komposisi mungkin perlu dicampur dengan feedstock lain. Klaim alur material harus dijelaskan secara transparan.

Sertifikasi RCS100 membantu, tetapi scope tetap penting

Pable mengumumkan memperoleh sertifikasi Recycled Claim Standard 100 pada Januari 2025 setelah memulai proses pendaftaran pada Agustus 2024. Situs perusahaan menyebut Pabtex terbuat dari 100 persen recycled material.

RCS digunakan untuk memverifikasi recycled content serta chain of custody dalam ruang lingkup sertifikasi. Ia tidak otomatis menilai seluruh dampak lingkungan, durabilitas, kondisi kerja, atau setiap produk yang pernah dibuat perusahaan.

Buyer B2B perlu meminta nomor sertifikat, masa berlaku, entitas yang tercakup, produk yang eligible, dan transaction certificate bila diperlukan. Logo sertifikasi bukan kartu bebas klaim.

Pable juga menerima ESG Award 2023 dari Yayasan KEHATI pada kategori Impact Entrepreneur. Penghargaan memberi validasi ekosistem, tetapi buyer tetap harus melakukan uji kain sesuai aplikasi.

Anomali kapasitas tidak boleh disapu ke bawah karpet

Inilah bagian yang membutuhkan catatan verifikasi serius.

Studi SWITCH-Asia menyebut Pable beroperasi pada sekitar 2.000 ton limbah tekstil per bulan pada 2024 dan memiliki kapasitas terpasang 6.000 ton per bulan. Namun pada bagian lain, studi yang sama menyebut volume kumulatif dari 2020 hingga kuartal pertama 2024 hanya sekitar 90 ton potongan kain, 2 ton pakaian, dan 17 ton seragam.

Perbedaan antara ribuan ton per bulan dan sekitar 109 ton kumulatif terlalu besar untuk dianggap variasi biasa. Ada kemungkinan kesalahan satuan, kapasitas jaringan pihak ketiga, atau definisi berbeda antara feedstock potensial dan material yang benar-benar diproses.

Publikasi industri pada 2025 menyebut total 270 ton sejak 2020. Angka itu lebih masuk akal sebagai pembaruan kumulatif, tetapi tetap merupakan data self-reported.

Artikel ini tidak menggunakan 2.000 atau 6.000 ton per bulan sebagai kapasitas terverifikasi. Angka tersebut harus dikonfirmasi langsung melalui data produksi, invoice timbang, dan definisi fasilitas sebelum dipakai dalam laporan investor atau klaim dampak.

Pasar B2B adalah tempat modelnya diuji

Pabtex dijual sebagai kain dan diolah melalui kolaborasi dengan desainer serta produsen. Studi 2024 menyebut rentang harga sekitar USD5 per meter untuk kain polos hingga USD25 untuk dobby. Harga itu bersifat indikatif pada periode studi, bukan price list tetap 2026.

Klien B2B akan menilai lebih dari harga per meter. Mereka membutuhkan komposisi, lebar kain, gramasi, shrinkage, colorfastness, pilling, tensile strength, minimum order, lead time, konsistensi batch, dan kemampuan replenishment.

Serat dari mechanical recycling umumnya menjadi lebih pendek akibat pencacahan. Dampaknya harus dikelola melalui desain benang, konstruksi kain, atau campuran feedstock yang sesuai. Pable menyatakan Pabtex menggunakan recycled yarn berbasis limbah tekstil, tetapi formula tiap artikel kain dapat berbeda dan perlu dibaca pada spesifikasi produknya.

Pable punya posisi menarik karena berdiri di tengah dua problem korporasi. Di hulu, perusahaan bingung membuang seragam dan tekstil dengan aman. Di hilir, perusahaan ingin membeli material dengan recycled content yang dapat ditelusuri.

Bila Pable mampu menyatukan keduanya dalam sistem yang transparan, Pabtex bukan cuma kain. Ia menjadi infrastruktur kecil untuk membuat procurement lebih sirkular.

Dan dalam bisnis tekstil, itu jauh lebih valuable daripada sekadar tote bag yang diberi tulisan “save the planet”.

Catatan verifikasi dan sumber publik

Artikel ini disusun dari sumber publik yang tersedia sampai 31 Juli 2026. Angka kapasitas, dampak, sertifikasi, klien, pendanaan, dan performa tidak dianggap sebagai hasil audit independen kecuali dinyatakan secara eksplisit.

  • Sumber publik: pable.id
  • Pable Indonesia, situs resmi, halaman About, Pabtex, FAQ, Pabmove, kolaborasi, dan artikel RCS100, diakses Juli 2026.
  • Global Green Growth Institute, “New partnership on textile circularity in Indonesia opens new doors for green growth”, 3 Juli 2024.
  • Global Green Growth Institute, “Weaving Change: How Circular Textiles Create a Sustainable Future for Indonesia”, 1 Juli 2025.
  • EU SWITCH-Asia, “Pable: Recycling Textile Waste into Circular Fashion”, studi kasus dengan periode analisis 2020–2024.
  • Finnpartnership, profil PT Daur Langkah Bersama, diakses Juli 2026.
  • Circle Economy, profil Pable sebagai textile waste recycling startup.
  • ANTARA, diskusi mengenai residu dropbox dan pengolahan pakaian bekas, 17 Juli 2024.
  • Pable, “Linens to Life”, 13 Desember 2024.

Konteks terkait

Untuk melihat bagaimana limbah lain diubah menjadi material dan sistem bisnis, baca MYCL: Miselium dari Limbah Pertanian Menjadi Material Alternatif Kulit dan Parongpong Prototile: Jaring Ikan Hantu Menjadi Material Konstruksi. Rangkaian ini terhubung dengan inovasi UKM Indonesia serta tren ekonomi sirkular UKM.

Scroll to Top