Kulit biasanya datang dari peternakan atau pabrik polimer. MYCL menawarkan rute ketiga: menumbuhkan jaringan jamur di atas biomassa pertanian, lalu mengolah hasilnya menjadi lembaran material.
Produknya dikenal sebagai Mylea, alternatif material untuk tas, dompet, sepatu, dan aksesori. Di sisi arsitektur, perusahaan mengembangkan BioBo serta komposit miselium untuk panel, furnitur, insulasi, dan instalasi desain.
Narasi “jamur menjadi kulit” memang catchy, tetapi terlalu menyederhanakan pekerjaan sebenarnya. Miselium harus tumbuh merata, bebas kontaminasi, memiliki ketebalan konsisten, lalu menjalani panen, pengeringan, pengepresan, pewarnaan, dan finishing. Setelah itu material masih harus menghadapi pertanyaan paling brutal dari buyer: kuat tidak, konsisten tidak, dan bisa dikirim tepat waktu tidak?
Bermula dari Growbox, lalu pivot menjadi perusahaan biomaterial
MYCL merupakan nama dagang Mycotech Lab di bawah PT Miko Bahtera Nusantara. Perusahaan berbasis di Bandung ini mulai mengembangkan material miselium sejak 2015.
Institut Teknologi Bandung mencatat lima pendiri: Adi Reza Nugroho, Robbi Zidna Ilman, Ronaldiaz Hartantyo, Arekha Bentang, dan Annisa Wibi Ismarlanti. Jejak awalnya berhubungan dengan Growbox, kit untuk menanam jamur yang mulai dikembangkan sebelum MYCL berdiri. Dari pengalaman membudidayakan jamur dan melihat limbah media tanam atau baglog, tim menemukan peluang lain.
Prinsip biologinya mirip proses tempe. Jaringan miselium tumbuh mengelilingi partikel bahan organik dan bertindak sebagai pengikat alami. Tim kemudian mengarahkan mekanisme tersebut untuk membentuk material.
Adi Reza tercatat sebagai co-founder dan CEO dalam publikasi terbaru. Ronaldiaz Hartantyo memimpin sisi inovasi, sementara profil perusahaan juga menampilkan Arekha Bentang serta Annisa Wibi dalam fungsi kepemimpinan. Susunan jabatan dapat berubah, sehingga daftar pengurus legal terbaru tetap perlu diperiksa melalui dokumen perusahaan.
Limbahnya bukan langsung berubah menjadi lembaran premium
Bahan baku yang pernah diuji MYCL mencakup limbah baglog, ampas singkong, kulit atau tongkol jagung, bagasse, tempurung kelapa, dan tandan kosong sawit. Pada produksi yang didokumentasikan SWITCH-Asia, limbah baglog menjadi input utama.
Biomassa dipersiapkan menjadi substrat, diinokulasi, lalu ditempatkan dalam kondisi suhu, kelembapan, dan kebersihan terkontrol. Miselium mengolonisasi bahan dan membangun jaringan. Bagian permukaan dapat diproses menjadi Mylea, sedangkan biomassa yang lebih tebal dapat diarahkan menjadi papan atau komposit.
Proses biologis memberi keunggulan sekaligus headache. Material tumbuh, jadi variabilitas tidak bisa dihapus seperti menekan tombol mesin injeksi plastik. Kontaminasi mikroba, perubahan kadar air, kualitas bahan baku, kepadatan substrat, dan durasi pertumbuhan dapat memengaruhi hasil.
Itulah sebabnya scale-up biomaterial berbeda dari sekadar memperbesar oven. Perusahaan harus mengubah proses yang hidup menjadi manufaktur yang repeatable.
Mylea bukan otomatis pengganti satu banding satu untuk semua kulit
Istilah “alternatif kulit” lebih akurat daripada “kulit jamur yang sama persis dengan kulit sapi”. Buyer memilih material berdasarkan aplikasi.
Dompet membutuhkan kelenturan dan ketahanan lipatan. Sepatu menghadapi abrasi, keringat, tarikan jahitan, dan perubahan bentuk. Jok kendaraan membutuhkan standar api, emisi, warna, serta umur pakai yang jauh lebih ketat. Panel arsitektur punya persyaratan berbeda lagi.
MYCL menyebut Mylea fleksibel, durable, dan dapat diterapkan pada produk fesyen. Perusahaan juga mengembangkan BioBo sebagai papan tanpa perekat sintetis dan MYCL Composite untuk kebutuhan desain serta bangunan. Klaim seperti tahan api, tahan air, compostable, atau carbon-negative perlu selalu dibaca bersama formulasi produk, finishing, metode pengujian, dan kondisi akhir pemakaian.
Finishing dapat meningkatkan performa, tetapi juga memengaruhi kemampuan material terurai. Material berbasis hayati tidak otomatis dapat dimasukkan ke kompos rumah setelah berubah menjadi tas berlapis, dijahit dengan benang sintetis, atau digabungkan dengan aksesori logam.
Laboratorium membuka pintu, standardisasi yang memenangkan kontrak
MYCL bekerja dengan fasilitas riset di Indonesia dan luar negeri, termasuk BRIN, National University of Singapore, ETH Zürich, serta mitra penelitian lain yang disebut dalam studi SWITCH-Asia. Kolaborasi tersebut membantu mengembangkan teknik, tekstur, dan aplikasi.
PT Miko Bahtera Nusantara memperoleh sertifikasi B Corporation pada November 2019 dengan skor dampak 81,5 pada profil B Lab yang tersedia publik. B Corp menilai tata kelola, pekerja, komunitas, lingkungan, dan pelanggan. Sertifikasi tersebut penting untuk kredibilitas korporasi, tetapi bukan sertifikasi performa teknis Mylea.
MYCL juga menjadi finalis Earthshot Prize 2024 dalam kategori Clean Our Air. Pengakuan itu terkait model pemanfaatan limbah pertanian yang berpotensi mengurangi pembakaran terbuka serta menciptakan material bernilai lebih tinggi.
Pada 2025, material MYCL tampil dalam proyek arsitektur di Venice Architecture Biennale dan Seoul Biennale. Tahun berikutnya, perusahaan memublikasikan kolaborasi produk dengan Hijack serta program Sintesa yang mempertemukan biomaterial dengan desainer lokal.
Portofolio tersebut menunjukkan validasi desain. Namun kontrak industri skala besar memerlukan hal yang lebih membosankan: spesifikasi per batch, toleransi ketebalan, data abrasi, kekuatan tarik, ketahanan sobek, umur simpan, minimum order, lead time, serta prosedur bila material gagal.
Angka kapasitas dan dampak perlu dipisahkan dari ambisi
Studi SWITCH-Asia yang menganalisis periode hingga 2023 menyebut MYCL menggunakan sekitar 6.000 sampai 9.000 baglog per bulan, bermitra dengan sekitar 500 petani dan 24 pemasok, serta mempekerjakan 47 orang pada 2022. Angka tersebut berasal dari informasi yang disediakan dan divalidasi perusahaan untuk studi kasus, bukan audit publik independen.
Dokumen yang sama menyebut rencana peningkatan fasilitas Indonesia dari 2.000 meter persegi menjadi 50.000 meter persegi. Itu merupakan rencana kapasitas fasilitas, bukan bukti output Mylea yang telah tercapai.
Earthshot memublikasikan angka 21 ton limbah pertanian diselamatkan per tahun dan 1.580 kaki persegi produksi material dalam pengukuran tertentu. Di sisi lain, publikasi 2026 menyebut kapasitas sekitar 10.000 kaki persegi per tahun. Perbedaan definisi antara produksi aktual, kapasitas, dan periode pengukuran membuat angka tersebut tidak aman untuk digabungkan.
Target 2030 yang menyebut puluhan ribu ton limbah dan jutaan kaki persegi material adalah ambisi perusahaan. Artikel ini tidak memperlakukannya sebagai capaian.
Bisnisnya berada di antara biotech dan supply chain
MYCL membutuhkan pasokan biomassa yang murah, bersih, dan dekat fasilitas. Membeli limbah dari petani dapat menciptakan pendapatan tambahan, tetapi limbah juga punya kadar air, ukuran, dan risiko kontaminasi berbeda.
Di hilir, perusahaan tidak hanya menjual lembaran. Ia menjual pengembangan material bersama brand. Proses ini bisa panjang karena buyer perlu membuat prototipe, mengubah pola, memilih backing, menguji jahitan, dan menyesuaikan mesin.
Bagi brand besar, satu kolaborasi capsule collection belum sama dengan adopsi produksi massal. MYCL harus membuktikan bahwa kualitas tetap stabil ketika pesanan naik, tanpa membuat biaya material keluar dari logika pasar.
Model laboratorium kecil dekat sumber limbah dapat menekan ongkos angkut dan memberi fleksibilitas. Namun jaringan fasilitas terdesentralisasi membutuhkan protokol biologis dan quality control yang ketat. Sedikit perbedaan proses dapat menghasilkan lembaran dengan karakter berbeda.
MYCL sedang membangun sesuatu yang lebih besar daripada tas dari jamur. Perusahaan ini mencoba mengubah pertumbuhan organisme menjadi sistem manufaktur.
Di situlah pertarungannya. Bukan antara kulit sapi dan jamur dalam satu headline, tetapi antara material baru yang penuh potensi dengan standar industri yang tidak memberi diskon hanya karena produknya sustainable.
Catatan verifikasi dan sumber publik
Artikel ini disusun dari sumber publik yang tersedia sampai 31 Juli 2026. Angka kapasitas, dampak, sertifikasi, klien, pendanaan, dan performa tidak dianggap sebagai hasil audit independen kecuali dinyatakan secara eksplisit.
- Sumber publik: mycl.bio
- MYCL, situs resmi, halaman About, produk, Sintesa 2025, Mycelium Facades, dan MycoMuseum, diakses Juli 2026.
- B Lab, profil PT Miko Bahtera Nusantara sebagai Certified B Corporation, sertifikasi sejak November 2019.
- The Earthshot Prize, profil MYCL sebagai finalis 2024.
- Institut Teknologi Bandung, “Mycotech, Start-Up Alumni ITB yang Memanfaatkan Bahan Organik Jadi Material Bangunan”, 8 Agustus 2019.
- EU SWITCH-Asia, “Mycotech Lab: Using Mushrooms to Produce Sustainable Material from Agricultural Waste”, studi kasus dengan periode analisis 2016–2023.
- Australia Awards Indonesia, profil Adi Reza Nugroho dan MYCL, 4 Februari 2025.
- FabCafe Tokyo, wawancara Ronaldiaz Hartantyo, 2 April 2023.
- Asia Media Centre, profil MYCL dan perjalanan dari Growbox menuju Mylea, 2026.
Konteks terkait
Untuk melihat bagaimana limbah lain diubah menjadi material dan sistem bisnis, baca Saree Ulos: Limbah Pisang, Nanas, dan Sawit Menjadi Benang untuk Kain Ulos dan Pable Pabtex: Ketika Limbah Kain Kembali Menjadi Tekstil. Rangkaian ini terhubung dengan inovasi UKM Indonesia serta tren ekonomi sirkular UKM.
