Saree Ulos: Limbah Pisang, Nanas, dan Sawit Menjadi Benang untuk Kain Ulos

INSIGHT · BISNIS · UKM
FormatArtikel UKMS
Diperbarui31 July 2026
Waktu baca6 menit
KonteksUKM

Keindahan kain biasanya dinilai dari permukaan. Warna, motif, kilau, dan detail tenunnya langsung terlihat. Saree Ulos memilih masuk ke lapisan yang lebih sunyi: benang.

Brand yang didirikan Juliana Sianturi ini mengembangkan benang dari serat limbah pertanian seperti batang pisang, daun nanas, dan residu kelapa sawit, lalu menggunakannya dalam songket ulos. Rami juga muncul dalam portofolio bahan, meskipun secara teknis rami bukan otomatis limbah pertanian.

Gagasannya terdengar simple. Limbah diolah menjadi serat, serat dipintal menjadi benang, lalu benang ditenun. Realitasnya jauh lebih kompleks. Serat harus cukup halus, kuat, konsisten, dan ramah terhadap alat tenun serta tangan penenun. Kalau benangnya terlalu keras, narasi sustainability bisa bagus di panggung tetapi menyulitkan orang di ruang produksi.

Saree Ulos lahir dari persoalan kesejahteraan penenun

Juliana memulai Saree Ulos dengan perhatian terhadap kondisi perajin tenun di sekitar Danau Toba. Kain dapat dijual mahal di pasar akhir, tetapi nilai yang kembali kepada penenun tidak selalu sebanding dengan waktu dan keahlian mereka.

Pada 2024, ia mengikuti program inkubasi Kementerian UMKM. Dari fase itu, fokus bisnisnya berkembang. Saree Ulos tidak hanya menjual kain yang sudah ada, tetapi mulai mengeksplorasi inovasi bahan untuk meningkatkan diferensiasi dan nilai produk.

Profil Juliana menyatakan pengembangan inovasi serat berbasis limbah dimulai sejak 2024. Tahun pendirian awal merek sebelum fase tersebut belum ditemukan secara konsisten dalam sumber publik. Karena itu, artikel ini tidak menebak tanggal lahir perusahaan.

Juliana tercatat sebagai founder. Nama badan hukum, nomor usaha, serta susunan pengurus Saree Ulos belum tersedia dalam sumber terbuka yang cukup kuat. Akun bisnis menggunakan identitas Saree Ulos dan Saree Jaya Indonesia, tetapi hubungan legal di antara keduanya perlu diverifikasi melalui dokumen perusahaan.

Bukan limbah yang langsung berubah menjadi benang

Batang pisang dan daun nanas mengandung serat yang dapat diekstraksi. Residu sawit juga memiliki fraksi berserat, tetapi jenis limbah, proses pemisahan, dan kualitas hasilnya dapat sangat bervariasi.

Tahapan umum mencakup pemilihan bahan, ekstraksi serat, pencucian, pengeringan, pelunakan, penyisiran, pemintalan, dan pencampuran dengan serat lain bila diperlukan. Komposisi campuran menentukan tekstur, kekuatan, kelenturan, dan performa benang saat ditenun.

Saree Ulos menyebut bekerja sama dengan perguruan tinggi yang memiliki teknologi mesin untuk mengolah serat pertanian. Bank Indonesia menyebut kolaborasi dengan IPB dan ITB. Namun peran spesifik masing-masing kampus, status riset, kepemilikan formula, serta kesiapan produksi massal belum dijelaskan secara publik.

Tidak tersedia data terbuka mengenai komposisi serat per kain, tensile strength, ketahanan warna, tingkat biodegradasi, penggunaan bahan kimia, konsumsi air, atau hasil life-cycle assessment. Jadi klaim “ramah lingkungan” perlu dibaca sebagai arah inovasi berbasis pemanfaatan limbah dan serat alam, belum sebagai pembuktian bahwa seluruh siklus hidupnya memiliki dampak lebih rendah daripada setiap alternatif tekstil lain.

Saat benang baru bertemu alat tenun lama

Bank Indonesia mencatat salah satu tantangan awal Saree Ulos adalah serat yang keras saat digunakan pada alat tenun tradisional. Ini bukan detail teknis kecil. Benang yang putus, kasar, atau terlalu kaku dapat memperlambat produksi dan menambah beban kerja penenun.

Inovasi bahan harus lolos dua jenis pengujian. Pertama, uji laboratorium untuk mengetahui kekuatan, kelenturan, kadar air, stabilitas ukuran, dan ketahanan. Kedua, uji manusia. Apakah benang nyaman ditangani? Apakah penenun perlu mengubah teknik? Apakah waktu produksinya bertambah? Apakah hasil akhirnya nyaman dipakai?

Di wastra tradisional, penenun bukan operator pasif. Mereka adalah pemilik pengetahuan proses. Formula yang terlihat optimal di laboratorium bisa ditolak oleh alat, tangan, atau ritme kerja di desa.

Saree Ulos memiliki peluang membangun sistem co-development. Penenun dilibatkan sejak pengujian bahan, bukan hanya menerima benang yang sudah diputuskan. Feedback mereka dapat menjadi data produk yang sangat bernilai.

Ulos bukan sekadar medium untuk eksperimen

Ulos memiliki fungsi sosial dan makna adat dalam kehidupan masyarakat Batak. Kain digunakan dalam pernikahan, kelahiran, kematian, dan berbagai relasi kekerabatan. Karena itu, inovasi tidak bisa hanya mengejar visual baru atau label eco-friendly.

Pertanyaan budayanya harus jelas. Jenis ulos apa yang dibuat? Motif dan penggunaannya untuk konteks apa? Apakah inovasi serat memengaruhi fungsi adat? Siapa yang memiliki otoritas untuk menentukan kesesuaiannya?

Saree Ulos banyak memakai istilah songket ulos, yang menunjukkan pengembangan produk pada persilangan teknik dan estetika. Inovasi seperti ini bisa memperluas pasar, terutama untuk fesyen, scarf, dekorasi, atau koleksi kontemporer. Namun produk komersial perlu dibedakan secara jujur dari kain yang memiliki fungsi ritual tertentu.

Nilai budaya tidak boleh menjadi stiker premium. Ia harus hadir dalam atribusi, keterlibatan penenun, penjelasan produk, dan pembagian manfaat.

Model kompensasi menjadi bagian dari produknya

Pemberitaan Karya Kreatif Indonesia 2025 menyebut Saree Ulos bermitra dengan sekitar 50 penenun. Selain upah jasa tenun, penenun disebut memperoleh insentif 10 persen dari harga penjualan kain.

Angka itu berasal dari keterangan founder yang diberitakan kembali oleh pemerintah dan media. Detail mengenai cara pembagian, frekuensi pembayaran, jumlah penenun aktif, serta apakah skema berlaku untuk semua produk tidak tersedia secara publik. Maka angka tersebut harus ditulis sebagai skema self-reported, bukan standar yang telah diaudit.

Bila diterapkan konsisten, model tersebut menarik karena menghubungkan pendapatan perajin dengan nilai pasar akhir. Penenun tidak hanya dibayar untuk jam kerja, tetapi memiliki bagian dari keberhasilan penjualan.

Tantangannya adalah transparansi. Harga jual bisa berubah karena diskon, komisi reseller, biaya pameran, atau pesanan khusus. Saree Ulos perlu memiliki aturan yang sederhana agar penenun memahami dasar penghitungan insentif.

Harga tinggi belum berarti pasar sudah terbentuk

Produk Saree Ulos diberitakan dapat mencapai harga Rp9 juta per lembar. Kata “hingga” penting. Itu menunjukkan titik harga tertinggi pada produk tertentu, bukan harga rata-rata seluruh koleksi.

Bank Indonesia menyebut produk perdana Saree Ulos di KKI 2025 mendapat respons pembeli yang positif. Brand juga tampil dalam ekosistem KINETIK Sweef dan beberapa program pengembangan UMKM. Juliana menyatakan keinginan membawa produk ke pasar global.

Belum ditemukan bukti publik yang memadai mengenai volume ekspor, negara tujuan, kontrak buyer, atau sertifikasi tekstil internasional. Minat eksportir dan visi global tidak boleh diubah menjadi klaim bahwa ekspor sudah berjalan.

Untuk memasuki pasar B2B, Saree Ulos perlu berpikir sebagai pemasok material, bukan hanya brand kerajinan. Buyer akan menanyakan minimum order, konsistensi warna, lead time, lebar kain, ketahanan, komposisi, traceability serat, dan kemampuan mengulang spesifikasi.

Di sinilah riset serat bertemu disiplin manufaktur.

Peluang terbesarnya mungkin bukan satu kain mahal

Saree Ulos dapat berkembang melalui beberapa jalur. Produk koleksi bernilai tinggi menjaga eksklusivitas. Kolaborasi dengan desainer membuka panggung. Penjualan kain ke brand fesyen menciptakan pasar B2B. Pengembangan benang atau material setengah jadi dapat memperluas penggunaan ke komunitas tenun lain.

Tetapi setiap jalur membutuhkan sistem berbeda. Koleksi eksklusif mengejar cerita dan craft. Pasokan B2B mengejar konsistensi. Penjualan benang mengejar kapasitas serta standardisasi.

Brand ini tidak perlu menjalankan semuanya sekaligus. Yang lebih penting adalah menentukan produk mana yang menjadi mesin pendapatan, mana yang menjadi laboratorium inovasi, dan mana yang menjadi etalase budaya.

Saree Ulos punya gagasan yang kuat karena tidak hanya mengganti motif. Ia mempertanyakan bahan dasar industri tekstil dan hubungan nilai antara petani, penenun, brand, serta konsumen.

Supaya gagasan itu tumbuh, benang baru harus kuat di tiga tempat sekaligus: di mesin, di tangan penenun, dan di pasar. Bila salah satunya putus, cerita besarnya ikut terurai.

Catatan verifikasi dan sumber publik

Artikel ini disusun dari sumber publik yang tersedia sampai 31 Juli 2026. Angka kapasitas, dampak, sertifikasi, klien, pendanaan, dan performa tidak dianggap sebagai hasil audit independen kecuali dinyatakan secara eksplisit.

  • Bank Indonesia, “Keberlanjutan Tekstil Nusantara dari Limbah Pertanian”, diperbarui 8 September 2025.
  • KINETIK, “From skewers to shades” atau “Dari tusuk sate ke kacamata hitam”, 17 Juni 2025.
  • KINETIK, profil Saree Ulos dalam program KINETIK Sweef Entrepreneurs, 2025.
  • Kementerian UMKM melalui pemberitaan Karya Kreatif Indonesia 2025 mengenai Saree Ulos.
  • RRI, “Weaving Sustainability, MSMEs Revive Tradition and Empower Communities”, 2025.
  • UOB FinLab Indonesia, profil peserta Saree Ulos, diakses Juli 2026.
  • Profil LinkedIn Juliana Sianturi dan publikasi Saree Ulos, diakses Juli 2026.
  • Kelas Bisnis 2024 UMKM Naik Kelas, daftar peserta yang mencantumkan Juliana Sianturi dan Saree Ulos.

Konteks terkait

Untuk melihat bagaimana limbah lain diubah menjadi material dan sistem bisnis, baca Boolet: Tusuk Sate dan Sumpit Bekas Menjadi Kacamata serta Furnitur dan MYCL: Miselium dari Limbah Pertanian Menjadi Material Alternatif Kulit. Rangkaian ini terhubung dengan inovasi UKM Indonesia serta tren ekonomi sirkular UKM.

Scroll to Top