Keripik Cumi Nina: Olahan Cumi Baturusa Bangka dengan Jejak Pasar Eropa dan Amerika

DIREKTORI UKM · PROFIL ENTITY
FormatProfil Entity
Diperbarui16 October 2026
Waktu baca5 menit
KonteksSumber publik

Keripik Cumi Nina adalah produsen keripik cumi dari Desa Baturusa, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka. KKI mencantumkan Suhertina sebagai kontak dengan alamat Jalan Serandang K128 RT/RW 011, Baturusa. Bea Cukai Pangkalpinang pada 2025 menyebut produk ini berada di bawah PT Selera Nusantara Nina dan dirintis sejak 2009.

Dari cumi goreng tepung menjadi keripik

Profil KKI menjelaskan ide produk terinspirasi cumi goreng tepung yang biasa ditemui di rumah makan seafood, lalu dikembangkan menjadi camilan yang lebih kering dan mudah dibawa. Bahan utamanya adalah cumi segar dari nelayan Bangka Belitung.

KKI menyebut usaha telah berjalan sekitar sepuluh tahun pada profil lama, sementara Bea Cukai secara spesifik menyebut dirintis 2009. Karena sumber pemerintah lebih jelas, halaman ini menyimpan 2009 sebagai reported origin.

Komposisi dan ukuran kemasan

Listing KKI menampilkan beberapa gramasi: 50, 100, 150, dan 200 gram, sementara profil produk lain menyebut tersedia hingga 250, 500, dan 1000 gram. Komposisi dasar yang konsisten adalah cumi, tepung beras, garam atau penyedap rasa. Formula aktual tetap harus mengikuti label fisik.

Perbedaan gramasi menunjukkan brand melayani konsumsi retail maupun ukuran lebih besar. Buyer harus mengonfirmasi berat bersih, isi karton, dan masa simpan untuk masing-masing format.

Rasio bahan basah ke produk jadi

Salah satu listing KKI menjelaskan bahwa satu kali produksi dapat memakai sekitar 100 kilogram cumi basah dan menghasilkan sekitar 20 kilogram keripik. Angka tersebut adalah contoh kapasitas pada periode listing, bukan kapasitas harian 2026.

Rasio penyusutan tinggi masuk akal karena cumi mengandung banyak air. Namun, yield aktual dipengaruhi ukuran cumi, trimming, coating, proses panas, dan kadar air akhir.

Bahan baku yang dipengaruhi cuaca dan musim

KKI secara terbuka menyebut bahan baku tidak selalu stabil karena faktor cuaca dan musim. Ini merupakan risiko rantai pasok penting untuk usaha seafood. Kontinuitas pasokan, ukuran cumi, harga, dan kualitas dapat berubah mengikuti kondisi penangkapan.

Traceability ideal mencatat nelayan atau pemasok, tanggal pendaratan, suhu penerimaan, berat, dan kondisi bahan. Data ini belum tersedia untuk publik.

SKP/GMP dan sertifikat umur simpan

RRI pada Maret 2025 mengutip Daffa Arie dari Keripik Cumi Nina bahwa usaha memiliki SKP atau Sertifikat Kelayakan Pengolahan/GMP serta sertifikat umur simpan yang diterbitkan MBRIO Lab Bogor. Klaim tersebut lebih spesifik daripada sekadar kata “bersertifikat”, tetapi nomor dokumen dan masa berlaku tidak tercantum pada artikel yang diperiksa.

Karena itu, buyer ekspor atau ritel tetap perlu meminta salinan sertifikat, ruang lingkup, nama legal perusahaan, dan tanggal berlaku.

PT Selera Nusantara Nina

Bea Cukai Pangkalpinang menyebut Keripik Cumi Nina sebagai produk unggulan PT Selera Nusantara Nina. Ini memberi petunjuk bentuk legal yang lebih jelas dibanding profil KKI lama yang menyebut industri rumah tangga. Status AHU, NIB, struktur pemegang saham, dan kesesuaian alamat perlu diverifikasi saat kontrak.

Perubahan dari industri rumah tangga ke PT dapat mencerminkan pertumbuhan usaha. Halaman ini tidak menghapus sejarah awal rumah tangga, tetapi memisahkannya dari operator legal yang lebih baru.

Pasar Belanda, Prancis, dan Amerika Serikat

Bea Cukai dan ANTARA pada 2025 melaporkan produk telah dikirim ke Belanda, Prancis, dan Amerika Serikat melalui perantara. Ini merupakan bukti market reach yang cukup konkret, namun bukan berarti perusahaan sudah melakukan ekspor langsung sebagai exporter of record.

Artikel Bea Cukai menegaskan usaha masih dalam tahap pemasaran melalui perantara. Karena itu, halaman ini tidak menyebut ekspor langsung rutin. Buyer perlu membedakan shipment melalui perantara, distribusi diaspora, dan ekspor formal.

Kemasan untuk pengiriman jarak jauh

RRI menyebut usaha sedang meningkatkan kekuatan kemasan untuk pasar Asia Tenggara. Produk keripik cumi rentan pecah, melempem, dan mengalami oksidasi, sehingga barrier terhadap udara dan kelembapan sangat penting.

Untuk ekspor, carton test, seal integrity, batch coding, shelf-life minimum, dan label alergen perlu tersedia. Cumi adalah moluska/seafood dan harus diperlakukan sebagai alergen sesuai aturan negara tujuan.

Higiene seafood dan pengendalian kadar air

Cumi merupakan bahan yang cepat mengalami penurunan mutu sehingga waktu dari pendaratan sampai proses harus dikendalikan. Produsen perlu memeriksa bau, warna, tekstur, suhu, serta kebersihan sebelum bahan masuk produksi. Setelah digoreng atau dikeringkan menjadi keripik, kadar air akhir menjadi faktor utama untuk kerenyahan dan stabilitas mikrobiologi. Sumber publik tidak menampilkan target kadar air atau water activity Keripik Cumi Nina.

Buyer profesional dapat meminta specification sheet yang mencantumkan batas kadar air, ukuran potongan, warna, broken rate, kandungan minyak, dan toleransi berat. Sistem ini lebih berguna daripada hanya mengandalkan istilah “cumi segar” karena mutu dapat dinilai secara konsisten antarbatch.

Pengiriman internasional dan dokumentasi lot

Ketika produk dikirim melalui perantara ke beberapa negara, traceability tetap harus sampai ke batch produksi. Nomor lot idealnya dapat menghubungkan tanggal produksi, pemasok cumi, hasil inspeksi, kemasan, dan tujuan kirim. Bila suatu pasar memberikan keluhan, perusahaan dapat menelusuri batch tanpa menarik seluruh produksi. Informasi publik 2025 belum menunjukkan sistem lot yang digunakan, sehingga aspek ini perlu dikonfirmasi kepada PT Selera Nusantara Nina.

Skala kemasan sampai satu kilogram juga menuntut konsistensi isi. Buyer dapat meminta toleransi berat, broken rate, jumlah serpihan, dan kondisi seal. Untuk produk premium seafood, informasi tanggal produksi dan batch sebaiknya mudah terbaca agar stok dapat diputar dengan prinsip first-expired-first-out.

Keunikan yang dapat diverifikasi

Keunikan Keripik Cumi Nina adalah penggunaan cumi Bangka, fokus satu kategori yang dikembangkan sejak 2009, dan jejak asistensi ekspor pemerintah. KKI, Bea Cukai, RRI, dan ANTARA saling menguatkan lokasi, owner, serta aktivitas pasar luar negeri.

Dalam Direktory UKM UKMS, Keripik Cumi Nina dapat dibaca bersama Kampoeng Timoer, Kenara, Ikan Asin Fatimah, dan KAWANASI.

Kesimpulan netral

Keripik Cumi Nina memiliki rekam publik kuat sebagai olahan seafood Bangka dari Baturusa. Jejak pasar tiga negara dan dukungan Bea Cukai merupakan keunggulan bukti. Legalitas PT, nomor sertifikat, traceability cumi, kapasitas, dan struktur ekspor tetap perlu diverifikasi per transaksi.

Konteks dan entitas terkait

Keripik Cumi Nina tercatat dalam Direktory UKM UKMS.OR.ID. Untuk konteks pengelompokan data, pembaca juga dapat melihat Entity UKM, membandingkan klasifikasi melalui Direktory Brand dan Direktory Franchise, serta mengajukan koreksi melalui kanal koreksi UKMS. Tautan lintas direktori ini bersifat navigasional dan tidak menyatakan afiliasi bisnis.

Entitas UKM yang dapat dibaca sebagai konteks tematik: Kenko KP; Keripik Jayapura; Kenara. Nama tetap ditampilkan meskipun halaman terkait belum tersedia untuk publik; tautan aktif hanya diberikan ketika halaman tujuan sudah live.

Scroll to Top