Marketing Plan Guideline , Perencanaan pemasaran atau marketing plan bisa dibuat berdasarkan hasil audit pada customer path. Pemasar juga perlu memperhatikan intersection antara departemen marketing dengan departemen lainnya. Kolaborasi jadi kunci sukses.
Dunia marketing itu dunia kreatif sekaligus dinamis. Disebut kreatif karena pemasar memiliki kebebasan untuk menciptakan hal-hal baru agar marketing menjadi lebih memiliki daya pikat dan berdampak. Di sisi lain juga dinamis mengingat pasar tidak statis karena perubahan yang didorong oleh aneka faktor seperti teknologi.
Oleh karena itu, perencanaan pemasaran atau marketing plan juga harus kreatif dan dinamis. Umumnya, orang di departemen marketing melakukan perencanaan ini saban setahun sekali. Karena periodik, untuk merancang perencanaan marketing ke depan, merek perlu mengevaluasi lebih dulu aktivitas pemasaran setahun lalu. Dari sini, pemasar bisa melakukan perencanaan ke depan untuk mengejar sesuatu yang lebih baik. Merek mengevaluasi langkah yang salah dan tak berdampak serta memperkuat langkah yang sudah benar.
Caranya bagaimana? Iwan Setiawan mengatakan bahwa marketing plan bisa dilakukan dengan berpijak pada customer path di era sekarang. Tahapan tersebut populer disebut dengan 5A, yakni aware, appeal, ask, act, dan advocate (Grafik 01).

Bila merek ternyata tidak dikenal dan tak ada orang yang suka berarti masalahnya terletak pada soal awareness. Artinya, merek belum memiliki daya tarik yang kuat. Masalah berikutnya bila merek Anda tidak diperbincangkan di media sosial dan tidak ada orang yang mencarinya di mesin pencari. No curiousity, itulah masalah sebenarnya di mana merek tidak appealing atau seksi di mata konsumen.
Sementara, bila konsumen tidak membeli berarti merek mengalami no commitment. Mereka tidak membeli karena memang tidak suka, namun juga bisa karena mereka tidak menemukan kanal tempat produk dijual. Masalah lain bisa berupa tak seorang pun merekomendasikan produk karena kecewa terhadap produk dan layanan. Maka terjadilah no affinity.
menemukan masalah, merek perlu menentukan prioritas objective. Bila masalahnya minusnya daya tarik, maka pemasar perlu fokus pada strategi improve attraction. Caranya dengan memperbaiki cara, gaya, media, dan konten marketing communication. Kalau perlu, merek memperkuat positioning-nya atau bahkan melakukan repositioning.
Bila kurang curiosity, merek perlu melakukan content marketing agar orang-orang penasaran. Ini bisa dilakukan di media sosial, search engine optimization (SEO), hingga community marketing agar makin banyak orang memperbincangkan merek.
Lalu, bila tak ada orang yang membeli, maka merek perlu memperbaiki komitmen dalam rupa kanal penjualan maupun sales force. Solusinya dengan memperkuat sales force, menambah insentif, perbaikan manajemen kanal penjualan, dan sebagainya, Sementara, bila tidak orang yang merekomendasikan, merek perlu memperbaiki afinitas. Caranya dengan menggelar loyalty program maupun memperbaiki customer care agar pelanggan terkesan dengan layanan.
Dalam melakukan perbaikan dalam marketing plan, kita perlu fokus pada tujuan yang ditentukan dan masalah yang ingin dipecahkan. Tidak perlu panjang-panjang dalam membuat marketing plan dan tidak perlu menyelesaikan sebuah masalah secara generik. Yang penting fokus pada solusi masalah yang pada akhirnya berbuah manis bagi perusahaan.
baca juga
Intersection
Untuk mengeksekusi marketing plan, orang marketing jamak beririsan dengan wilayah kerja departemen lainnya, seperti finance, sales, dan operation. Oleh karena itu, untuk memaksimalkan perencanaan pemasarannya, orang marketing harus memiliki mindset terbuka pada irisan atau intersection tersebut.
Terkait dengan finance, misalnya, orang marketing sebaiknya menguasai strategi budgeting yang baik. Kreativitas orang marketing harus benar-benar bisa diukur dampaknya. Di sini, orang marketing perlu mengadopsi Return on Ad Spend (ROAS) dan Return on Investment (ROI). Intinya, aktivitas marketing yang dijalankan, misalnya digital marketing, harus terukur manfaatnya. Tim marketing juga memiliki perhatian pada pertumbuhan perusahaan melalui aktivitas pemasarannya.
Selain itu, marketing juga memiliki titik temu dengan sales. Ini bisa diperkuat untuk menjawab masalah no commitment di kalangan konsumen. Tim marketing bisa memperkuat market intelligence, memperbaiki kolateral dan sales kit, hingga melakukan content marketing yang memiliki dampak penjualan melalui call to action yang jelas. Strategi push and pull marketing juga bisa diterapkan di sini.
Di tingkat operasional, orang marketing perlu mengaudit lagi customer journey dan menemukan persoalan, melakukan omnichannel marketing, meluncurkan produk baru, hingga memperkuat advokasi di kalangan konsumen.
Di edisi yang sedang Anda baca ini, Redaksi Marketeers memaparkan kiat-kiat dan contoh pelaksanaan marketing plan yang berdampak secara luas karena mendukung performa perusahaan keseluruhan. Artinya, aktivitas marketing ini juga memiliki dampak berarti pada finance, sales, dan operation.
