Author: UKMS

  • Kisah Uus, Lulusan SD yang Sukses Berkat Usaha Tanaman Hias

    ukms.or.id/.com – Usaha tanaman hias menjadi tren usaha di masa pandemi. Usaha ini menjadi berkah tersendiri bagi pengusaha tanaman hias seperti Uus. Di tengah kemerosotan ekonomi seperti sekarang ini ternyata jual beli tanaman hias menjadi salah satu usaha yang eksis.

    Seiring digalakkannya program work from home (WFH), kini banyak orang yang berbondong-bondong membeli tanaman hias untuk mempercantik hunian. Selain karena hobi, sebagian besar orang memilih kegiatan bercocok tanaman dengan tanaman hias untuk mengurangi rasa bosan bekerja dan beraktifitas di rumah.

    Meski terbilang tidak murah, tanaman hias tetap ramai pembeli. Peminatnya pun tidak hanya dari kalangan orang tua, para remaja dan generasi Z pun tak mau ketinggalan. Mereka menyebut, dengan bercocok tanaman membuat pikiran fresh dan hidup semakin positif. Hal tersebut diyakini dapat meningkatkan imun dan kesehatan di masa pandemi seperti sekarang ini.

    Uus salah satu pedagang tanaman hias, menuai kesuksesan di tengah pandemi Covid-19. Meskipun di awal kemunculan wabah ini usahanya sempat mengalami kemrosotan, tapi tak lama usahanya tersebut melejit. Bahkan keuntungannya kini berkali kali lipat.

    Tertarik dengan bisnis tanaman hias? Nah, berikut ini akan ada ulasan tentang kisah Uus, lulusan SD sukses usaha tanaman hias yang mungkin dapat menginsprasi Anda dalam memulai usaha di masa pandemi.

    Merintis Usaha Tanaman Hias

    Uus adalah salah satu penjual tanaman hias di Bandung, ia mulai merintis usahanya sejak tahun 2018. Lelaki asal Garut ini merintis usaha tanaman hiasnya di sebuah lahan petak sempit yang ia sewa di jalan Soekarno-Hatta, Bandung.

    Tidak hanya melayani penjualan tanaman hias, Uus kerap kali menerima orderan pemasaran taman. Uus menawarkan tanaman hiasnya secara langsung dan dari mulut ke mulut.

    Dalam menggeluti usahanya tersebut, ia kerap kali menemui pasang surut, tak terkecuali di awal masa pandemi ini.

    Sama halnya dengan bisnis yang lain, bisnis tanaman hias pun sempat stuck di awal pandemi. Namun, setelah masa transisi dengan kebijakan work from home, usaha ini pun laku keras.

    Di tahun ke-3 perjalanan karirnya ini, Uus terus berbenah dan beradaptasi dengan keadaan yang sedang di hadapi.

    Tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Uus turut andil dalam semarak pasar tanaman hias yang terus dicari orang. Permintaan yang kian banyak membuat Uus terus semangat dalam mengembangkan usahanya tersebut. Ia menjajakan dan melayani pemesanan tanaman yang kini sedang banyak diminati seperti jenis tanaman aglonema dan janda bolong.

    Dengan kerja keras dan keseriusan dalam menggarap usahanya ini, Uus dapat mengikuti permintaan pasar dan keuntungannya terus naik, meskipun di masa pandemi seperti sekarang.

    Usaha Tanaman Hias Raih Omzet Jutaan

    Meskipun lulusan SD, Uus dapat dijadikan contoh pengusaha sukses yang menginspirasi. Tekatnya yang kuat kini membuatnya sukses dalam menjalankan usaha tanaman hias.

    Dengan banyaknya kegagalan yang dihadapi, membuatnya semakin profesional dalam mengembangkan bisnis. Pengalamannya menjadi pebisnis ayam, sopir, pesuruh dan lainnya telah memberikan banyak pelajaran dalam menghadapi seorang konsumen.

    Tanpa kenal lelah, Uus terus berbenah. Walaupun hanya tamatan sekolah dasar, Uus memiliki semangat belajar yang tinggi. Tak mau kalah dengan orang-orang lulusan sekolah tinggi, ia terus belajar tentang wirausaha.

    Kini, di tengah masa pandemi, usaha tanaman hias yang dirintis oleh Uus kian melejit. Omzet yang ia dapatkan pun naik hingga 6 kali lipat dalam sehari. Di hari biasa ia mampu mendapatkan keuntungan hingga 6 juta, dan lebih dari itu di weekend.

    Dalam usahanya, ia memiliki strategi pemasaran yang apik. Bagi pelanggan setianya, Uus tak segan segan berbagi ilmu cara mearawat tanaman yang tepat. Ia pun menawarkan jasa antar tanaman hias sampai depan rumah dengan gratis.

    Melalui strategi usaha yang tepat sasaran tersebut. Saat ini, Uus telah memiliki 2 bedak toko tanaman hias yang cukup besar. Ia pun dapat memboyong istri dan anaknya untuk hidup di Bandung membesarkan usaha tanaman hiasnya tersebut.

    Kesuksesan yang di raih Uus merupakan hasil dari ketekunan dan kerja keras yang tiada henti. Bisnis tanaman hiasnya kian diminati banyak orang karena pelayanan yang baik dan produk yang berkualitas.

    Paham Tren Tanaman Hias

    Sebagai seorang pengusaha tanaman hias, tidak hanya diperlukan strategi penjualan bagus seperti yang diterapkan Uus. Memahami tren tanaman hias juga mampu menunjang keberhasilan bisnis tanaman hias.

    Anda perlu mengetahui jenis tanaman hias apa yang kini tengah populer dan diminati oleh banyak orang. Dengan mengetahui tren tanaman hias Anda dapat menyuplai tanaman tersebut dalam jumlah banyak. Jangan khawatir, meskipun nilai persaingannya tinggi permintaan tanaman hias yang sedang populer tetap akan banyak peminat.

    Jangan ragu untuk menambah koleksi tanaman hias yang Anda tawarkan, dengan begitu konsumen akan semakin tertarik dan membeli dalam jumlah yang banyak.

    Seperti yang dilakukan oleh Uus, saat ini ia lebih fokus menawarkan tanaman hias jenis janda bolong dan aglonema. Hal tersebut ia lakukan karena kedua tanaman itu sedang  naik daun. Ia mematok harga per tanaman hingga per daun. Disamping itu, ia juga menawarkan tanaman jenis lain yang sesuai dengan kebutuhan taman rumah pembelinya.

    Tren tanaman hias memang selalu berubah seiring berjalannya waktu, namun ada beberapa jenis tanaman hias yang populer dan dapat Anda budidayakan dalam memulai bisnis tanaman hias. Jenis tanaman hias tersebut diantaranya adalah palem kunig, anthutium, monstera, lidah mertua, cycads, siklok, peperomia obtusifolia dan lain sebagainya.

    Bisnis Bibit Tanaman Hias Juga Oke

    Ketika Anda memulai usaha tanaman hias ini, Anda tak lantas harus menjual tanaman dalam ukuran dewasa. Anda dapat menwarkannya dalam bentuk bibit maupun tanaman kecil.

    Dengan berbagai pilihan ukuran, para calon pembeli lebih dimudahkan saat membeli dan mearawatnya. Tak takut kecewa, jika membeli tanaman dalam ukuran kecil. Karena saat tanaman masih kecil tentunya perawatannya pun masih sederhana tidak membutuhkan perawatan ekstra.

    Menjual tanaman hias mulai dari bibit atau ketika tanaman masih berusia satu atau dua minggu, harga jualnya pasti sangat terjangkau. Dengan harga yang terjangkau akan menarik minat pembeli. Tidak harus merogoh  kocek dalam, pelanggan setia tanaman hisa sudah dapat memiliki tanaman incarannya.

    Baca juga:

    Itulah ulasan panjang kisah Uus, lulusan SD sukses usaha tanaman hias. Dari kisah sukses Uus, kita dapat mengaukms.or.id/l banyak pelajaran bagaimana memulai usaha tanaman hias yang menguntungkan dan ramai pelanggan.

    Dari ide bisnis dan strategi usaha yang matang seperti yang telah dipraktikkan oleh Uus, Anda dapat menirunya dengan memulai jualan tanaman hias yang sedang tren dan membuat penawaran produk tanaman hias yang sesuai dengan kebutuhan orang-orang di era pandemi.

    Tertarik memulai usaha tanaman hias? kisah sukses Uus dan bisnis tanaman hiasnya di atas dapat Anda jadikan motivasi dalam mengembangkan dan meraih keuntungan banyak dari tanaman hias.

  • Bisnis WC Umum, Cecep Datangkan Keuntungan Legit

    ukms.or.id/.com – Peluang bisnis menggiurkan tak hanya datang dari industri perdagangan, industri jasa pun bisa menjanjikan keuntungan yang fantastis jika dikelola dengan benar. Salah satu bisnis jasa yang menguntungkan yakni bisnis WC umum.

    Sekilas terlihat biasa, bahkan cenderung aneh bagi sebagian orang. Bisnis yang bergerak dalam jasa penyediaan WC atau kamar kecil ini tidak banyak dilirik orang. Citranya yang kurang baik, membuat sedikit orang yang bergerak dalam bisnis ini.

    Dengan strategi dan pengelolaan yang profesional, bisnis WC umum mampu mendatangkan keuntungan yang besar.  Kesan kotor dan bau pun akan sirna jika kualitas pelayanan dapat dijalankan dengan baik.

    Sayangnya, sejauh ini potensi bisnis WC umum masih dijalankan oleh beberapa orang, salah satunya oleh Cecep Ruhimat. Salah satu warga Desa Kiara Jangkung, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya ini telah meraih sukses dengan bisnis WC umumnya yang mayoritas berlokasi di Ibu Kota Jakarta.

    Dari bisnis WC umumnya itu, ia mampu menambah pundi-pundi rupiah mencapai ratusan juta per bulan. Bagaimana sepak terjang Cecep Ruhimat dengan bisnis WC umumnya? Ikuti terus ulasan inspiratif bisnis WC umum, Cecep datangkan keuntungan legit berikut ini.

    Berawal dari Penjaga WC Umum

    Pada 1985, awal mula Cecep Ruhimat memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Sejak lulus dari bangku sekolah menengah atas, ia memilih untuk mengadu nasib di Ibu Kota dengan bekerja sebagai penunggu WC umum.

    Selama hampir 5 tahun Cecep menjalani pekerjaannya sebagai penunggu WC Umum dengan tekun. Selama ia bekerja, Cecep tak hanya pasrah dengan keadaannya, ia mulai mempelajari peluang usaha bisnis WC umum. Ia sadar ada peluang besar dalam bisnis WC umum jika ia mau untuk memulainya.

    Dari pengalaman yang ia dapatkan, dijadikannya sebagai modal awal merintis usaha WC umum secara mandiri. Ia tak lagi mejadi penunggu WC umum sejak itu.

    Tempat-tempat umum yang selalu ramai dibidik sebagai lokasi usahanya, seperti pasar induk dan terminal. Ia menawarkan jasa WC umum melalui kerjasama dengan kontrak ataupun melalui penunjukkan dari pemilik tempat secara langsung.

    Dengan kegigihan usahanya dan pembelajaran yang diaukms.or.id/l dari pengalamannya sebagai penjaga WC umum, Cecep bisa menjadi pengusaha sukses seperti sekarang. Ia pun terkenal sebagai pengusaha WC umum yang sukses.

    Kerja kerasnya membuahkan hasil tak hanya untuk ia dan keluarga tapi juga orang lain yang bekerja di perusahaan jasa WC umumnya.

    Keuntungan Legit dari Bisnis WC Umum

    Menggeluti sebuah bisnis tentu memerlukan tekad yang kuat dan kecakapan dalam mengelolanya. Di awal merintis usaha WC umum, Cecep bermodal kepercayaan dan pelayanan. Ia memulai dengan membangun sebuah WC Umum di tempat yang strategis sepeti pasar induk dan terminal.

    Dengan kepintarannya dan antusiasnya dalam membangun sebuah usaha, dalam waktu yang tidak lama ia telah mampu mengembangkan usahanya hingga mencapai 100 titik dengan mempekerjakan 200 orang sebagai penjaga WC umum miliknya.

    Cecep pun dapat mengantongi keuntungan yang tidak sedikit. Dengan tarif Rp 1.000 hingga Rp 3.000 dalam setiap pemakaian WC, ia mampu mendapatkan keuntungan ratusan juta setiap bulan.

    Kini, ramainya bisnis WC umum , mejadikan titik usaha Cecep hanya tinggal 30 titik, salah satunya di pasar Kramat Jati, Jakarta. Selama 40 tahun bergelut dalam bisnis WC umum, Cecep telah mampu menarik banyak tenaga kerja dari kampung halamannya.

    Berkat usahanya kini Cecep Ruhimat juga telah berhasil menduduki kursi anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya sejak tahun 2015 hingga sekarang.

    Ia pun kini mempercayakan semuanya kepada pegawainya. Ia tidak hanya fokus pada bisnis WC umumnya tersebut, tapi juga pada kegiatan lain.

    Keberhasilan Cecep dengan bisnis WC umumnya membuat banyak orang mengikuti jejaknya. Para pegawai yang pernah bekerja sebagai penunggu WC tak sedikit yang membangun usaha WC umum sendiri.

    Keuntungan yang menjanjikan, menarik perhatian orang untuk membuka jasa WC umum ini. Dengan modal kepercayaan dan pelayanan yang baik bisnis ini sudah dapat dijalankan dan menghasilkan profit.

    Tidak seperti usaha lain yang membutuhkan banyak modal dan ajang promosi yang signifikan. Jasa WC umum dapat berjalan sendiri tanpa modal besar dan promosi. Lokasi stategislah yang menjadi penentu utama dalam meraih keuntungan yang fantastis.

    Cecep sudah merasakan legitnya bisnis ini. Tak ada salahnya jika Anda juga memulai bisnis ini.

    Kiarajangkung, Tempat Kelahiran Juragan WC Umum

    Terletak di Kabupaten Tasikmalaya, Desa Kiarajangkung populer sebagai desa juragan WC umum.  Dari 3.892 penduduk, terdapat beberapa nama juragan WC umum terkenal seperti Hasan, One, dan Cecep Ruhimat. Dari desa tersebut pula tenaga kerja penunggu WC umum tersedia.

    Berdasarkan sejarah, sejak tahun 1980-an banyak warganya yang merantau dan mulai merintis bisnis WC umum di tempat rantaunya.

    Dengan menjamurnya jurangan WC umum di kota besar, berdampak pada penyerapan tenaga kerja bagi masyarakat desa kiarajangkung. Banyak anak lulusan SMP dan SMS diajak turut bekerja sebagai penunggu WC umum.  

    Berbekal modal yang dibawa dari kampung, para jurangan WC umum membangun bisnisnya dari nol hingga memiliki banyak cabang. Dengan pengalaman yang turun temurun para pengusaha ini dapat sukses dan bertahan hingga sekarang

    Tahun 1980-an, lebih awal dari Cecep Ruhimat, ada seorang warga Kiarajangkung yang merintis usaha ini dengan sukses, ia adalah Uju. Uju berhasil menjadi juragan WC umum setelah lama bekerja sebagai penjual air keliling.

    Kala itu, Uju sering menyambangi WC umum untuk membeli air bersih, yang akan dijajakannya. Melihat peluang bisnis WC umum yang cemerlang, ia memberanikan banting setir dengan mulai bisnis tersebut. Di awal karirnya, Uju membuka usaha WC umum di sebuah SPBU di Jakarta dengan sistem bagi hasil.

    Dengan keberhasilan bisnis Uju yang terus berkembang, menyeret warga desanya untuk turut bergerak dalam bisnis tersebut. Tak hanya sebagai penunggu WC umum, tapi juga banyak yang  menjadi pemilik dan penyedia WC umum di kota-kota besar.

    Di awal merintis, bisnis ini mayoritas terdapat di kota Jakarta, Bogor, Depok, Bandung dan Tangerang. Namun kini telah meluas di bagian timur pulau Jawa sperti Yogyakarta, Madiun dan Surabaya.

    Bisnis yang dijalankan Uju dan Cecep telah mampu membuka banyak kesempatan kerja bagi warga kampungnya. Dengan kesempatan kerja yang ada, warga Kiarajangkung dapat hidup sejahtera.

    Baca juga:

    Itulah perjalanan panjang bisnis jasa WC umum yang menguntungkan. Semoga artikel tentang  bisnis WC umum, Cecep datangkan keuntungan legit dapat Anda jadikan inspirasi dalam mencari ide usaha di tengah keterpurukan ekonomi di masa pandemi seperti sekarang ini.

    Modal utama dalam membangun usaha tidak harus uang yang banyak, dengan pengalaman dan keahlian yang Anda miliki, tak menutup kemungkinan dapat dijadikan bekal awal membangun usaha yang gemilang. Selamat mencoba!

  • Otmoz , Bisnis Sepatu Handmade

    ukms.or.id/ – Jadi entrepreneur berhasil memanglah didapat dengan beragam jenis langkah. Salah nya ialah dengan bangun usaha baru yang inovatif atau tidak sama dari yang lain.

    Jatmiko (42) buka peruntungan dengan bangun satu usaha unik. Bermula dari beberapa cobalah, pria kelahiran Jombang, 5 September 1974 saat ini berhasil melakukan usaha sebagai produsen sepatu kulit handmade (buatan tangan) 100% dengan label Otmoz.

    Baca juga :

    ukms.or.id/bisnis-perhiasan-aeroculata/

    “Produk Otmoz ini awalannya saya riset mengenai outsole (bahan sepatu). Riset mengenai outsole di mana betul-betul di buat dari 0.

    Sampai kini bila UKM kan beli outsole jadi hingga saat mereka bikin design baru tentu terhalang saat outsole nya ini mesti dibikin sesuai sama pabrikan, pergi dari itu titik awalannya yaitu buat outsole yang rakitan, hingga pada akhirnya kita keterusan buat sepatunya, ” papar Jatmiko

    Product Awal Sebelum Sepatu Ozmoz

    sebelumnya sepatu, product pertama yang di ciptakan Jatmiko yaitu sandal. Operasional perdana usahanya diawali mulai sejak th. 2013 .

    Lantas Bahan bakunya yaitu kulit sapi asli dengan dipadukan benang mokasin (benang kur). Lalu sandal dirakit serta dijahit dengan memakai tangan 100% tanpa ada melibatkan mesin jahit.

    “Otmoz sendiri core-nya yaitu sepatu namun pada awalnya yaitu sandal rakitan. Dari sandal kulit tentu harga nya mahal jadi lantaran tak layak ekonomi jadi ya sudahlah kita berpindah ke sepatu, ” katanya.

    Untung 100% Dengan Bisnis Sepatu Handmade Yang Alergi Mesin

    Dari sana lalu Jatmiko mulai mendesain sepatu kulit serta memberi label Otmoz. Otmoz yaitu singkatan dari otak termos. “Karena termos itu kan berisi senantiasa air panas jadi maksud filosofinya itu ya senantiasa bekerja serta berupaya mencari serta berkreasi, senantiasa mencari jalan keluar, ” imbuhnya sembari tertawa.

    Baca juga :

      Hanya Dengan Modal Awal 5 Juta Sukses Membuat Sepatu Handmade

      Dengan bermodal kurang dari Rp 5 juta ia pada akhirnya mulai menghasilkan sepatu dengan tangan kreatifnya. Minimnya modal yang di keluarkan disadari Jatmiko lantaran ia kerjakan murni dengan tangan tanpa ada beli mesin produksi sepatu yang bernilai mahal.

      “Modal awal dibawah Rp 5 juta lantaran masalahnya kita mesti beli kain atau kulit sepatunya itu mesti per lembar, ” katanya.

      Sesudah di produksi, Jatmiko lalu banyak menghadirkan product bikinannya di sosial media seperti Facebook, Situs (blog) serta Instagram. Dengan tagline ‘Alergi Mesin’ dengan kata lain di produksi 100% memakai tangan, sepatu Otmoz buatan Jatmiko memperoleh animo positif dari orang-orang.

      “Karena pemikiran saya awalannya ini memanglah yaitu orientasinya untuk UKM. Jadi sasarannya bagaimana kita bikin kemandirian design yang betul-betul menghormati nilai craft.

      Untung 100% Dengan Bisnis Sepatu Handmade Yang Alergi Mesin

      Sesungguhnya kita berkreasi serta tidak selamanya terus-terusan di-direct atau dikontrol dari perusahaan-perusahaan tidak kecil yang keluarkan jenis baru hingga lalu bergantung outsole yang ada di market, ” katanya.

      Jatmiko mengungkap ada nilai plus sepatu yang di buat dengan tangan dibanding dengan mesin. Sepatu Otmoz mempunyai jahitan yang prima lantaran ditangani dengan prinsip hati-hati. Sesaat kulitnya yaitu kulit asli sapi yang dihadirkan segera dari Kota Surabaya.

      “Selain itu alas bawah sepatunya juga kita design dari biji karet full jadi akan tidak terpleset atau tergelincir. Diluar itu konsumen memperoleh garansi setahun untuk perbaikan bila ada rusaknya dari sepatunya, ” tuturnya.

      Harga Yang Relatif Terjangkau Untuk Kualitas Sepatu Handmade

      Otmoz diklaim Jatmiko sebagai footwear unisex atau dapat digunakan oleh siapapun. Harga yang di tawarkan juga bermacam dari mulai Rp 600 ribu sampai Rp 850 ribu. Calon konsumen dapat juga pesan sepatu sesuai sama ukuran serta design yang dikehendaki.

      “Yang membedakan harga itu, harga yang mahal lantaran kulit nya bukanlah kulit sambungan jadi dari depan sampai belakang utuh tanpa ada dipotong. Polanya itu sedikit yang terbuang, ” tuturnya.

      Lantaran kerjakan dengan tangan 100% tanpa ada memakai mesin, Jatmiko cuma dapat menghasilkan sepatu sejumlah 3 hingga 4 gunakan per bulannya. Produksi sepatu Otmoz dikerjakan apabila ada pesanan yang datang. Menurut Jatmiko, yang berminat sepatu Otmoz cukup banyak yang datang dari beragam kota di Indonesia.

      “Dari Kalimantan, Jakarta, Jombang, Surabaya, ” sebutnya.

      Jatmiko yang disebut lulusan Sarjana Design Product Institut Tehnologi Surabaya (ITS) mempunyai tujuan spesial yakni product sepatunya dapat diekspor ke negara lain. Tujuan itu tak lama lagi akan terwujud lantaran telah banyak warga asing yang bertanya-tanya mengenai sepatu Otmoz di sosial media.

      “Belum namun peminat di media on-line telah banyak. Terdapat banyak warga asing menginginkan beli namun mereka menginginkan lihat dahulu barang aslinya. Ya mungkin saja bila hal semacam itu telah terealisasi tak tutup peluang kita bidik market luar, ” tegasnya. Untung 100% Dengan Bisnis Sepatu Handmade Yang Alergi Mesin

    • Bisnis Kulit Buaya Ratusan Juta

      ukms.or.id/ – “Ya lantaran motif buaya itu kan kulitnya senantiasa menonjol atau muncul jadi orang suka sama motifnya. Kan beberapa macam motifnya, ada motif punggung, kepala, ekor serta kaki, hingga tampak unik. Itu argumen mengapa banyak yang berminat, ”

      Kulit sapi masihlah jadi bahan baku andalan beberapa pengrajin kulit untuk di proses jadi barang kerajinan tangan seperti tas sampai sepatu. Lantas bagaimana jadinya apabila tas serta sepatu di buat berbahan baku kulit buaya?

      Langkah tersebut dikerjakan Pardianto (51). Pria kelahiran 10 Februari 1965 serta sudah lama tinggal di Papua itu yaitu satu diantara entrepreneur berhasil dengan hasil product kerajinan tangan memiliki bahan basic kulit buaya.

      Bisnis Langka dan Kontroversial – Kulit Buaya Bernilai Ratusan Juta


      Pardianto bercerita apabila ia mulai suka pada beragam product dari kulit, seperti sepatu, ikat pinggang, serta dompet, mulai sejak th. 1991.

      Berselang delapan th. lalu, ia mengaukms.or.id/l keputusan terjun sebagai entrepreneur kerajinan kulit buaya itu. Ia beralasan memakai kulit buaya sebagai bahan baku pembuatan product kerajinan tangan yaitu suatu hal yang unik serta langka.

      “Saya melakukan bisnis beberapa barang ini dari th. 2000-an. Ya lantaran ini kan termasuk juga beberapa barang langka, beberapa barang unik, serta adalah ciri khas souvenir dari Papua. Jadi banyak disukai sama customer, ” ungkap Pardianto

      Bisnis Langka dan Kontroversial – Dengan berbekal modal seadanya, Pardianto lalu membulatkan tekad untuk buka usaha handmade taraf tidak besar atau industri rumahan di Timika, Papua. Pegawai yang membantunya juga waktu itu cuma sejumlah 5 orang.

      “Setelah saya terjun dalam usaha ini kita memperoleh pasar bagus lantaran ini yaitu product unggulan. Di Papua souvenir unggulannya ya beberapa barang yang terbuat dari kulit buaya ini, ” imbuhnya.

      Kulit Buaya Bernilai Ratusan Juta – Beragam product kerajinan tangan berbasiskan kulit buaya telah ia hasilkan. Sebut saja tas golf, tas wanita, sabuk, trolley bag, dompet sampai tas komando untuk kepentingan militer tentara. Sedang ia juga memberi design spesial yang bikin produknya tidak sama dari product lain yang semacam.

      “Ya lantaran motif buaya itu kan kulitnya senantiasa menonjol atau muncul jadi orang suka sama motifnya. Kan beberapa macam motifnya, ada motif punggung, kepala, ekor serta kaki, hingga tampak unik. Itu argumen mengapa banyak yang berminat, ” tuturnya.

      Dipicu Melimpahnya Bahan Baku Kulit Buaya di Papua

      Aspek pendorong Pardianto buka usaha ini yaitu melimpahnya bahan baku kulit buaya di Papua. Ia menyampaikan, populasi buaya di Papua termasuk banyak.

      Ini bikin keberadaannya cukup membahayakan untuk orang-orang, terlebih anak-anak di sekitaran rawa, sungai, serta pantai. Hingga hewan ini juga pada akhirnya jadi satu diantara sumber kehidupan untuk orang-orang sekitarnya.

      Warga memakai buaya dari mulai kulit, daging, gigi, telur, sampai empedunya. Terkecuali hasil penangkapan, ada pula yang ditangkarkan di satu tempat sampai membuahkan keturunan.

      “Karena Papua mempunyai potensi tidak kecil kulit buaya. Di sana kulit buaya begitu melimpah, ” imbuhnya.

      Kulit buaya yang didapat Pardianto datang dari orang-orang sekitaran. Ia memberi harga kulit buaya sebesar Rp 30. 000 per inci.

      Seekor buaya ukuran tidak kecil dapat meraih 20 inci kulit serta dalam 1-3 hari dapat memperoleh supply sekitaran 200 inci.

      Kulit mentah itu berupa kasar, bersisik hitam, serta ada banyak daging yang melekat.

      “Yang pertama ini kan menyangkut Papua. Kita memperoleh kulit buaya ini hasil dari tangkapan buaya liar oleh putra Papua. Bisa disebut beberapa barang ini di jual juga membatu sumber pencaharian orang-orang, ” tuturnya.

      Lewat industri rumahan yang dipunya, kulit itu disamak atau dihaluskan lewat cara manual tanpa ada pertolongan mesin moderen.

      Saat di rasa telah halus serta layak gunakan atau sesuai sama standard jadikan sebagai bahan basic kain.


      “Kulit buaya sendiri kita tampung dari orang-orang yang asli tinggal di pedalaman seperti ssli Suku Kamoro, Suku Amungme.

      Bila bahan baku di Papua melimpah tak kekurangan, ” tuturnya.

      Walau memperoleh kulit buaya dari orang-orang, Pardianto tetaplah bekerjasama dengan Balai Kelestarian Sumber Daya Alam (BKSDA) di Papua. Hingga ia menanggung product yang dihasilkan yaitu legal.

      Baca juga : bisnis-coklat-monggo-coklat-belgia-yang-kental-nuansa-jawa/

      “Tapi bagaimanapun kita tak terlepas dari perijinan BKSDA serta izin kita juga komplit berarti kita berbadan hukum. Terlebih dibarengi hologram serta monogram, ” tukasnya.

      baca juga

      ukms.or.id/bisnis-salon-kecantikan-wanita/

      Unik, Langka serta Murah Jadi Senjata Penjualan

      Mempunyai jenis yang unik, memiliki bahan basic kulit buaya yang langka dengan harga yang di tawarkan cukup murah jadi senjata penjualan Pardianto.

      Pardianto yang memiliki usaha kerajinan tangan memiliki bahan basic kulit buaya mengakui mempunyai pendapatan sampai Rp 400 juta per bln..

      “Per bln. kita memperoleh omzet kotor Rp 400 jutaan, ” tekannya.

      Penjualan product Pardianto dikerjakan lewat Toko Argo Boyo yang berlokasi di Timika tepatnya di Jalan Apel No. 4 SP 2, Papua.

      Harga yang di tawarkan juga cukup murah dibanding product kulit buaya yang mempunyai brand serta di jual di toko yang lain.

      Product Pardianto di bandrol mulai beberapa ratus ribu sampai beberapa puluh jutaan rupiah.

      Seperti dompet serta ikat pinggang kisaran Rp 300. 000, sepatu Rp 1, 8 juta-Rp 2 juta, serta tas wanita Rp 2 juta-Rp 2, 5 juta. Dari ketiga barang itu Pardianto mengaku, tas wanita serta dompetlah yang paling laris di market.

      “Harga beragam dari harga Rp 300 ribu sampai belasan juta. (kwalitas) Sesuai sama barangnya. Sepatu itu dari Rp 3 jutaan hingga Rp 16 jutaan. Yang paling mahal itu sepatu boots. Umum yang pesan orang luar negeri, ” imbuhnya.

      Disamping itu, konsumen product Pardianto bukan sekedar terbatas di Papua saja. Konsumen datang dari Sumatera, Jawa, Kalimantan sampai Sulawesi.

      baca juga


        “Kita jual ke Semua Indonesia. Jawa, Medan, Bali, Palembang. Paling banyak dari daerah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi. Yang berminat dari kelompok menengah ke atas lantaran barangnya yang di jual bagus serta mahal, ” katanya.

        Dengan besarnya pasar Indonesia, Pardianto mengakui belum memikirkan untuk mengekspor produknya ke negara lain. Namun ia mengungkap apabila peluang itu ada, jadi ia tak sangsi untuk jual produknya diluar negeri.

        “Saya tak pernah terpikirkan untuk ekspor ke luar negeri lantaran di Indonesia saja beberapa barang ini telah laris terjual serta sangat banyak yang berminat walau dengan harga yang mahal. Namun warga asing banyak juga yang beli.

        Terlebih kan kami tinggal di daerah Timika areal Freeport, daerah tambang yang banyak turis asing, ” katanya.

        “Peminat turis asing banyak dari Jerman, Norwegia, Jepang serta Australia. Namun lantaran ini terbuat dari kulit binatang yang dilindungi, jadi ada yang sukai ada pula yang fanatik.

        Diluar itu perijinan untuk ekspor ke luar negeri untuk barang sejenis ini cukup susah serta rumit, ” tutup Pardianto.

      • Ma Icih Bandung

        ukms.or.id/ – Kata siapa anak muda cuma bisa ngomong? Kata siapa anak muda cuma suka foya-foya? Nih buktinya. Di artikel satu ini kita akan bahas tentang anak muda yang menjadi pengusaha sukses luar biasa. Yup, si Reza Nurhilman atau yang biasa dipanggil Axl. Mau tahu siapa Reza Nurhilman dan juga bagaimana ia menekuni usahanya? Yuk baca samapai akhir ya!

        Pengusaha Muda Reza Nurhilman

        Reza Nurhilman atau yang biasa dipanggil Axl terkenal di dunia bisnis setelah proses marketingnya diketahu cukup unit, yaitu pemanfaatan media sosial. Reza Nurhilman lahir di Kota Kembang alias Bandung pada 29 September 1987. Reza Nurhilman merupakan anak bungsu dan memiliki 3 orang saudara kandung. Sejak kecil Axl sudah tinggal bersama orang tua angkat dan tinggal di Kota Cimahi. Reza tak lagi memiliki figur ayah, namun hanya seorang ibu yang menghidupi ketiga anaknya, termasuk juga Reza Nurhilman. Namun, Reza tak mudah menyerah dan dapat mandiri dalam berbagai hal.

        Pedidikan formalnya saat sekolah menengah pertama adalah di SMPN 1 Cimahi dan sekolah menengah atas di SMAN 2 Bandung. Lepas lulus SMA pada 2005, ia tak langsung kuliah. Masa SMA menjadi masa- masa bersejarah bagi kebanyakan orang, termasuk juga bagi hidup Reza Nurhilman.

        Saat itu, Reza menjadi sosok yang keras dalam pergaulan. Pergaulan mengenalkan dan membuatnya menjadi pecinta musik rock seperti Gun ‘N Rose. Reza ngefans pada sang vokalis, Axel Rose Dari sanalah Reza Nurhilman dikenal oleh kawan-kawannya sebagai Axl. Dimana masa-masa remaja itulah, Reza mengubah hidupnya menjadi lebih dewasa. Ia mulai menjadi sosok yang memiliki visi besar dan impian yang tinggi.

        Selepas lulus SMA Reza tak langsung kuliah, ia baru menempuh pendidikan tinggi pada tahun 2009 di Univ. Kristen Maranatha, Jurusan Manajemen. Selang 4 tahun waktu senggangnya dimanfaatkan oleh Reza untuk menjalani anaka bisnis. Berbagai bisnis dijalani lelaki bermur 27 tahun ini.

        Awalnya ia melakukan jual beli barang seperti elektronik, pupuk dan banyak lagi yang dijadikan produk dalam bisnisnya. Sampai akhirnya Reza produk yang tepat untuk dijadikan produk bisnisnya. Produk yang kita kenal dengan sebutan Maicih. Maicih adalah bisnis keripik yang mengubah hidup Reza.

        Usaha Maicih ini dilakoni Reza pada pertengahan tahun 2010. Maicih merupakan keripik singkong yang diberikan bumbu dengan rasa pedas. Maicih dipoles dengan varian pedas yang berbeda-beda ada level 3, level 5 dan juga level 10.

        Usaha maicih dimulai dengan modal sebesar 15 juta dan diproduksi sebanyak 50 bungkus dalam seharinya dan dipasarkan dengan cara berkeliling. Dan awalnya Maicih hanya memiliki 5 level pedas. Maicih memiliki tagline “For Ichiher With Love” maicih ingin tampil dekat dengan para penggemarnya, selalu memanjakan penggemarnya di seantero nusantara dengan cita rasa yang berkualitas.

        Selain Maicih, ada pula Gurilem yang juga diproduksi dalam waktu yang sama dengan keripik singkong. Selain itu ada pula Baso Goreng dan juga Seblak. Hingga kini, ada 10 level yang ditawarkan oleh Maicih, produksinya juga bertambah berkali-kali lipat, yaitu 2000 bungkus setiap hari.

        Dengan demand konsumen yang sangat tinggi di berbagai wilayah pemasaran seperti Jakarta, Bandung, Jogja, Surabaya, Reza memperoleh omset per bulan 800 – 900 Juta atau rata-rata 30 jitu setiap harinya. Saat ini Maicih telah memiliki 30-an pegawai di bidang produksi.

        maicih bandung

        Awal Mula Pengembangan Keripik Maicih

        Pegusaha Muda dan Presiden Ma Icih Bandung Bicara tentang sejarah awal mula pengembangan Maicih, ada sejarah panjang di balik keberadaan Maicih ini. Reza Nurhilman mengaku bertemu dengan seorang ibu-ibu yang memiliki resep keripik lada (ngetren dengan sebutan keripik setan) yang rasanya sangat enak. Walaupun rasanya enak, si ibu tersebut tidak mejual keripik secara komersil. Dari sanalah awal mulanya kesuksesan Maicih ini. Kemudian Reza bekerjasama dengan pengusaha lokal untuk memproduksi keripik Maicih ini.

        Eitss, mungkin ada yang salah kaprah soal nama. Nama Maicih bukan diaukms.or.id/l dari si ibu-ibu yang memberinya inspirasi lhoo… Namun ibu tersebut memang selalu memakai ciput sehingga identik dengan ke-icihannya. Dan nama Maicih tersebut sengaja dibuat Reza agar terlihat nyentrik dan mudah diingat oleh orang, bukan karena faktor si ibu-ibu tadi.

        Bisnis keripik Maicih dimulai pertengahan tahun 2010 dengan modal sebesar 15 juta dan diproduksi sebanyak 50 bungkus dalam seharinya, dan awalnya Maicih hanya memiliki 5 level pedas. Saat awal pemasaran, Keripik ini dipasarkan dengan cara berkeliling. Kemudian Reza membuat akun di media sosial terutama facebook dan twitter untuk memasarkan produknya. Reza memanfaatkan akun twitter secara word of mouth dengan hashtag #maicih dengan akun twitter official @infomaicih.

        Selang beberapa bulan atau awal 2011, usahanya untuk pertama kali diresmikan dengan nama PT. Maicih Inti Sinegi. Untuk menghindari pemalsuan, logo ‘Maicih’ telah dipatenkan hak ciptanya secara legal. Lambat laun masyarakat mulai mengenal merek dagang Maicih. Dan karena keunikan dan ketenarannya, Maicih diliput oleh program Realita Bingkai Berita di Trans TV.

        Hingga saat ini produk Maicih dari PT. Maicih Inti Sinergi adalah Keripik pedas level 3, keripik pedas level 5, keripik pedas level 10, baso goreng (basreng), gurilem, seblak pedas original, dan seblak keju pedas. Produknya secara resmi atau yang asli hanya dapat dibeli di Jendral dan Tim Jendral yang merupakan tim pemasaran.

        Benar, susunan manajerial di PT. Maicih Inti Sinergi ini sangat unik, layaknya sebuah negara. Ada Presiden (presiden direktur atau CEO), Menteri Pangan, Menteri Perhubungan, Menteri SDM, dua Menteri Menkominfo, dan Menteri Keuangan. Sedangkan total jenderal yang ada adalah sebanyak 144 orang, terbagi menjadi 4 kategori jenderal, yaitu: Jenderal Sepuh, Jenderal Batch 1, Jenderal Batch 2, dan Jenderal Batch 3. Jendral dan Tim Jendral yang asli tercantum di @infomaicih jadi gak mungkin bisa dipalsukan.

        baca juga

          Atas pencapaian yang luar biasa di usia muda ini, banyak penghargaan yang telah didapat Reza Nurhilman. Saat ini Reza sibuk memberikan pelatihan-pelatihan bagi anak-anak muda dan memotivasi untuk menjadi jutawan-jutawan baru. Selain itu Reza kerap menjadi peukms.or.id/cara di event-event kampus. Bahkan Reza telah resmi mendirikan AXlent Academy yang fungsinya untuk membantu pengusaha muda. Merambah ke bisnis lain, Reza juga mengeluarkan Icihers Magazine dan satu buku Revolusi Pedas yang diterbitkan oleh Blitz Megaplex Grand Indonesia, di Jakarta pada tanggal 29 Juni 2012. Satu lagi, Reza juga telah berekspansi ke bisnis properti dengan Maicih Property.

          Nah buat kamu yang mengaku anak muda? Masih gak malu minta duit terus sama orang tua? Kini saatnya kamu bergerak. Karena masa muda sangat sangat berharga, maka lakukanlah hal yang membuat orang tua bangga. Selain itu investasi di masa muda tak akan pernah membuatmu rugi. Bisnis di usia muda mengajarkan kerja keras dan kemandirian dalam menghadapi hidup lhoo, Pegusaha Muda dan Presiden Ma Icih Bandung

        • NyoNya Nursing Wear

          ukms.or.id/ – Kreatifitas memanglah telah banyak dapat dibuktikan menjanjikan serta membuahkan ide brilain serta yang tentu keberhasilan. Perihal ini pula yang juga telah dirasa oleh Bintan Sholihat (Bintan) serta Dwi Yulia Nurbani (Dwi) yang meluncurkan product kreatifnya bernama NyoNya Nursing Wear (NNW).

          NyoNya Nursing Wear sendiri yaitu product pakaian yang begitu pas dipakai oleh ibu-ibu menyusui. Karenanya ada product pakaian ini jadi ibu-ibu menyusui tak akan butuh kerepotan untuk menyusui bayinya ditempat umum yang memanglah biasanya dijauhi oleh ibu-ibu menyusui. Lantas seperti apakah cerita Bintan serta Dwi dalam menggerakkan usaha product kreatif NNW ini?

          Tersebut penjelasannya.

           

          Bisnis Yang Bermula dari Masalah Pribadi

          Terwujudnya product kreatif NNW ini sendiri cukup unik. Pasalnya product NNW ini nampak dari masalah atau pribadi yang dihadapi Bintan serta Dwi. Ya, sebagai ibu muda waktu itu yang perlu kerap menyusui anak-anaknya, Bintan serta Dwi rasakan kerepotan yang serius waktu mereka mesti menyusui ditempat umum. Nah dari sini lalu Bintan serta Dwi yang disebut lulusan Institut Tehnologi Bandung ini berinisiatif bikin baju yang mereka design spesial untuk ibu-ibu menyusui.

          Product yang dibuatnya ini tidak cuma nyaman dipakai di tempat privat (tempat tinggal), tetapi product yang lalu dinamakan NyoNya Nursing Wear (NNW) ini dapat nyaman dipakai waktu memberi ASI ditempat umum. Tetapi walau datang dari satu keperluan pribadi, kenyataannya product NNW yang mereka bikin memperoleh tanggapan positif dari umum.

          Artikel lain : Big Size Fashion Store ~ Kesempatan Usaha Pakaian Ukuran Jumbo

          Usaha Awal Produksi NyoNya Nursing Wear

          NyoNya Nursing Wear Bisnis Fashion Target Market Ibu Menyusui Mulai sejak memperoleh tanggapan pertama yang positif, Bintan serta Dwi semakin semangat untuk menghasilkan NNW. Sebelumnya di luncurkan dengan cara resmi, Bintan serta Dwi mencari rencana serta penyuplai bahan yang paling baik. Mereka juga menyusuri Jalan Otista, Bandung serta giat kerjakan searching walau tengah hamil muda. Sesudah tiga bln. mereka memperoleh rencana yang pas jadi NNW juga resmi di luncurkan pada bln. Februari 2014.

          Untuk menghasilkan NNW, Bintan serta Dwi fokus kota Bandung sebagai pusatnya. Usaha atau usaha ini sendiri digerakkan Bintan serta Dwi dengan system #kemitraan yang modal sama rata yakni 50 : 50. Walau tidaklah terlalu tidak kecil, modal awal yang diapat dari patungan ini selalu dijaga serta diperkembang sampai sedikit untuk sedikit jadi tambah. Bahkan juga sesudah rilis, mereka memperoleh suntikan dana yang cukup membantunya menggerakkan serta menghasilkan NNW.
          Kiat Penjualan NNW

          Dalam menggerakkan penjualan, Bintan serta Dwi memprioritaskan kemampuan product sebagai bentuk strateginya. Jadi menurut mereka dengan jadikan produknya prima yang terbagi dalam unsur kenyamanan, estetika serta privacy jadi modal paling utama dari kiat penjualannya juga bakal jalan dengan baik.

          Tetapi lantaran tuntutan pasar bakal unsur stylish serta fashionable, jadi mereka juga berupaya untuk membuat produknya dengan trend fashion yang paling baru. Untuk memperluas penjualan, Bintan serta Dwi memercayakan kemampuan media on-line lewat website-nya yakni (www. nyonyanursingwear. com) serta #Instagram (@nyonya_nursingwear).
          Lakukan Penjulan System Konsinyasi

          Hingga sekarang ini NyoNya Nursing Wear masihlah belum memiliki toko off line. Akan tetapi, Bintan serta Dwi tidak kehabisan akal untuk dapat bikin NNW masuk serta di jual di toko dengan cara off line. Karenanya mereka lalu lakukan bekerja bersama dengan beberapa toko off line dengan pola konsinyasi.

          Dengan system hubungan kerja ini jadi product NNW saat ini dapat didapati di beberapa toko seperti di toko maternity wear serta di Moms To Be di Bandung, ada pula di Hot Momma, Mal Cinere serta di Nenen Shop, Plaza Pondok Indah, Jakarta. Terkecuali dengan yang memiliki toko off line, pola hubungan kerja konsinyasi ini nyatanya juga dijalin oleh Bintan serta Dwi dengan pengelola #toko on-line www. babyzania. com serta www. hijup. com.

          baca juga

            Perubahan Usaha NNW

            Hingga sekarang ini product NyoNya Nursing Wear telah dapat disebut berhasil. Pasalnya dengan kemampuan awal produksi yang cuma 300 potong pakaian per bln., saat ini telah bertambah 10 kali lipatnya. Dari sini jadi mulai sejak peluncurannya th. 2014 sampai akhir th., omset NNW juga bertambah mencolok sampai menembus angka Rp 1 milliar.

            Sesaat di th. 2015 omset rata-rata perbulannya meraih Rp 200 juta/bln.. Berbekal kesuksesannya ini, Bintan serta Dwi mulai sejak bln. Ramadan th. 2015 tempo hari sudah meluncurkan sebagian merk paling baru dari NNW. Sebagian merk paling baru itu yaitu NyoNya Luxe sebagai sub-brand NNW. Lantas ada NyL yang konsentrasi pada pakaian hamil serta menyusui resmi seperti kebaya serta kaftan. Serta product paling baru ketiga yakni MamiBelle yang mengangkat topik nursing wear for all. NyoNya Nursing Wear Bisnis Fashion Target Market Ibu Menyusui