Author: UKMS

  • Usaha Keramik Modal 20 Ribu

    ukms.or.id/ – Almarhum Bob Sadino, seorang pengusaha terkenal pernah mengatakan bahwa ia hanya butuh modal dengkul untuk bisa menjalankan usaha.

    Banyak orang mengatakan bahwa hal ini tidak relevan karena kebanyakan sebuah bisnis nyatanya memang tetap membutuhkan modal uang bahkan dalam jumlah besar.

    Namun berbeda dengan anggapan umum masyarakat tersebut, Muhammad Taufiq yang lebih akrab dipanggil dengan Taufiq justru berhasil menjalankan usaha keramik hanya dengan modal awal 20 ribu rupiah saja.

    Dari uang 20 ribu tersebut, Taufiq bisa membesarkan usaha pabrik keramik hingga beromzet hingga 150 juta Rupiah dan memiliki 2 pabrik sendiri.

    Meskipun diliputi berbagai hambatan dalam menjalankan usaha, Taufiq pun berhasil mengolah tantangan tersebut menjadi nilai tambah bagi produknya.

    Pencetus Keramik Berwarna-warni

    Taufiq memulai perjalanannya di industri keramik ketika sedang berjalan-jalan di sebuah pusat penjualan keramik.

    Pada waktu itu bentuk dan motif keramik tidak seperti sekarang karena kebanyakan pengraji n keramik belum mengenal teknik pewarnaan.

    Melihat keramik yang dianggap memiliki warna yang membosankan, akhirnya secara iseng Taufiq mencoba membeli satu buah kerajinan keramik yang kemudian ia warnai sendiri di rumah.

    Pada waktu itu ,Taufiq menghabiskan sekitar 20 Ribu rupiah untuk membeli keramik beserta dengan alat pewarnanya.

    Tidak berpikir untuk menjadikan keramik warnanya sebagai barang jualan, Taufiq memutuskan untuk menjual keramik tersebut kepada para tetangga yang tertarik.

    Taufiq Mendirikan Usaha Keramik Hanya Dengan Modal 20 Ribu Saja

    Karena permintaan semakin banyak, Taufiq bahkan harus rela mengerjakan pesanan keramik hingga tidak tidur alias selama 24 jam dalam satu tahun.

    Selang tahun kedua bisnis berjalan, Taufiq meresmikan usaha pembuatan keramiknya menjadi Usaha Dagang dengan merekrut tiga karyawan untuk membantunya bekerja.

    Bersama dengan tiga karyawan, Taufik sempat menjual keramik buatannya hingga ke luar daerah seperti kota Palembang dan Pontianak.

    Pada tahun ketiga Taufiq memperlebar usahanya dengan menjalin kerjasama dengan lima toko penjual keramik terkemuka yang ada di Purwakarta, kota tempat ia tinggal.

    Namun sejak saat itu ia menghentikan penjualan ke luar Purwakarta demi fokus melayani pasar dalam kota.

    Di tahun yang sama, Taufiq berhasil meraup omzet sebesar 150 juta Rupiah  perbulan dengan keuntungan bersih sebesar 45 juta Rupiah.

    Bahkan pada tahun 2015, ia sudah berhasil mendirikan pabrik pembuatan keramik yang ditenagai oleh 25 orang karyawan.

    baca juga

    Tantangan Berbisnis

    Hambatan dalam bisnis adalah hal yang biasa bagi setiap pengusaha, tak terkecuali bagi Taufiq

    Sebagai produsen keramik terbesar di Purwakarta, beliau sudah berhasil mengembangkan sayap hingga ke Kalimantan dan Sumatera.

    Total ia sudah berhasil mendirikan empat buah pabrik yang tersebar di ketiga daerah usahanya tersebut.

    Namun mengoperasikan pabrik dalam jumlah besar, Taufiq sempat menderita kesulitan keuangan lantaran biaya operasional yang membengkak.

    Karena biaya operasional yang tidak dapat ditanggung oleh usahanya, Taufiq harus merelakan dua buah pabriknya untuk dijual demi bisa menyehatkan kembali bisnis keramiknya.

    Selain itu dua pabrik Taufiq yang lain juga sempat terkena masalah perizinan lantaran sering dianggap sebagai biang keladi masalah lingkungan oleh warga setempat.

    Meski didera berbagai masalah di bisnisnya, Taufiq justru memilih untuk maju terus dan tidak aukms.or.id/l pusing.

    Ia memilih untuk mengikuti kemauan para penolak pabriknya untuk memperbaiki standar pengolahan limbah yang lebih baik dan memperjuangkan izin pabriknya yang cukup menyulitkan.

    Setelah berhasil keluar dari masalah yang mendera pabrik, Taufiq tidak mau merehatkan bisnisnya yang mulai mendapatkan banyak pesaing.

    Taufiq tetap berpegang teguh pada kreativitas yang dimiliki olehnya untuk terus mengembangkan motif-motif keramik terbaru.

    baca juga

      Tidak Mau Didikte Pembeli

      Ada satu prinsip yang dipertahankan Taufiq dalam menjalankan bisnis penjualan keramik tersebut.

      Alih-alih menyenangkan pembeli, Taufiq justru menerapkan prinsip bahwa produk yang ia kerjakan tidak boleh didikte oleh pembeli.

      Prinsip tersebut ia jalani usai memiliki masalah dengan salah satu pembeli dari luar Purwakarta yang terlalu banyak mengatur detil dan corak keramik yang dikerjakan oleh Taufiq.

      Karena tidak dapat leluasa mengaplikasikan corak keramik yang ia kehendaki, akhirnya ia memutuskan untuk menolak pembelian dalam bentuk borongan.

      Taufiq sendiri bukannya tanpa alasan menolak permintaan pembeli untuk membuat corak yang berbeda.

      Ia mengaku ingin melestarikan corak keramik yang otentik asli dari Purwakarta.

      Bahkan ia juga ingin mematenkan keramik Plered yang khas dengan cat yang biasa digunakan untuk kendaraan.

      Cat kendaraan-lah yang pertama kali membuat keramik buatan Taufiq dapat laku di kalangan konsumen.

      Ia hanya menerima pembelian melalui toko-toko yang menyediakan produknya yang tersebar di jalan raya Plered.

      baca juga

        Tetap Memikirkan Pengusaha Kecil

        Sebagai orang Plered yang dikenal dengan nilai kekerabatan yang kental, Taufiq tetap memikirkan kesejahteraan para pengrajin keramik lain yang tidak seberuntung dirinya.

        Di tengah-tengan kesuksesannya mendirikan usaha keramik, ia justru harus melihat kenyataan pahit ada 2.000 pengrajin lain yang harus gulung tikar lantaran tidak memiliki nilai jual.

        Akhirnya ia memutuskan untuk berbuat sesuatu bagi para pengrajin keramik ini agar mereka juga bisa meningkatkan taraf hidup.

        baca juga

        Pada awalnya, Taufik mencoba menampung sendiri keramik buatan para pengrajin tersebut layaknya pembeli.

        Untuk keramik-keramik dari para pengrajin kecil ini, ia rela mengeluarkan kocek mulai dari 5.000 hingga ratusan ribu rupiah tergantung dengan keramik yang dihasilkan.

        Tidak hanya menampung, Taufiq yang dikenal memiliki jiwa sosial tinggi bahkan membangun toko sendiri untuk mendistribusikan dan menjual keramik-keramik tersebut.

        Sempat mendapat cibiran dari toko keramik yang menjual keramik buatannya, Taufiq tidak bergeming.

        Baginya yang penting ia bisa berbuat sesuatu untuk membantu para pengrajin-pengrajin keramik tersebut.

      • Sentra UKM Tenun

        ukms.or.id/ Nusa Tenggara Timur selama ini lebih banyak dikenal orang dengan komodonya atau kuda Sandalwood yang mendunia itu.

        Disamping dua hal ikonik tersebut, orang tidak terlalu banyak paham mengenai NTT apalagi potensi kewirausahaan dari sana.

        Padahal NTT memiliki banyak produk andalan yang berpotensi untuk diminati oleh para pembelanja dari daerah lain bahkan hingga dunia internasional.

        Salah satu produk andalan dari NTT adalah kain tenun asal Flores yang memiliki corak dan proses pembuatan yang eksotis.

        Akan tetapi sedikitnya jumlah lembaga perbankan yang bisa diakses oleh para pengusaha membuat bisnis ini baru dikembangkan oleh beberapa orang.

        Yus Lusi dan istrinya adalah salah satu dari sekian banyak pengusaha di NTT yang memberanikan diri membuka bisnis kain tenun di tengah kondisi yang sulit.

        Mendirikan usaha dengan modal hanya Rp 20.000, Usaha Yus Lusi berhasil berkembang bahkan hingga menjadi koperasi pemodal bagi ratusan kain tenun lainnya.

        Perjuangan Berat di Awal

        Yus Lusi sebenarnya masih berstatus sebagai aparat sipil negeri ketika mendirikan sentra kain tenun pada tahun 1991 bersama istrinya.

        Ia tercatat sebagai  pegawai Dinas Pertanian di pemerintahan provinsi kala itu.

        Untuk mengatasi kekurangan orang, Yus turut serta mengajak rekannya hingga ibu dan ibu mertuanya untuk terlibat dalam pengelolaan usaha sentra kain tenun ini.

        Sempat optimis usaha sentra kain tenunnya akan langsung menarik perhatian, nyatanya Yus Lusi harus merasakan masa-masa awal yang berat.

        Dalam beberapa tahun pertama, sentra kain tenun yang bernama Ina Ndao ini justru hanya mampu menjual dua hingga tiga lembar kain dalam waktu satu bulan.

        Yus Lusi Beranikan Diri Membangun Sentra UKM Tenun dan Koperasi  karya Ando di Kupang

        Keadaan yang hampir membuat Yus menyerah tersebut akhirnya berubah justru ketika Perekonomian Indonesia jatuh ke dalam jurang krisis moneter.

        Pada tahun 1997, Yus Lusi akhirnya mendapat pesanan besar pertamanya dari Dharma Wanita yang cocok dengan kain hasil buatan sentra tenun milik Yus.

        Berhasil mengantungi  uang 100 juta rupiah dari hasil penjualan 500 kain tenun , Yus Lusi akhirnya menjadi bersemangat untuk mengembangkan usahanya.

        Perlahan-lahan, pemerintah provinsi yang mulai mengetahui potensi bisnis dari sentra kain tenun turun tangan untuk memberikan bantuan modal.

        Pada waktu itu Pemerintah Provinsi  berupaya menjembatani PT. Pupuk Sriwijaya untuk mengucurkan bantuan sebesar 2,5 milyar Rupiah kepada Ina Ndao.

        Hingga kini Ina Ndao sudah mencapai angka omzet hingga 200 juta rupiah perbulan.

        baca juga

        Mendorong Pelatihan Tenun

        Sadar bahwa usahanya sudah masuk tahap perkembangan, Yus Lusi mencoba mencari cara agar kualitas kain tenun yang dihasilkan oleh Ina Ndao semakin berkualitas.

        Oleh karena itu ia mengajak Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Masyarakat Seni Flobamora untuk mengadakan pelatihan menenun baik bagi warga ataupun pekerja tenun.

        Dalam satu kesempatan, lembaga seni tersebut bisa melatih hingga 25 orang dan diperkirakan akan terus bertambah.

        Tidak hanya di lokasi Ina Ndao saja, lokasi pelatihan juga akan diperluas hingga beberapa tempat lain di kota Kupang hingga ke Kabupaten.

        Untuk melaksanakan pelatihan tenun secara serentak di 10 lokasi berbeda, Yus Lusi mendapat bantuan dari perusahaan Astra yang terjun melalui program tanggung jawab sosial perusahaan.

        Upaya Yus Lusi untuk mengadakan pelatihan tidak berakhir sia-sia, hasilnya ada lebih dari 16 penenun yang direkrut untuk menjadi pekerja tetap di Ina Ndao.

        Dari tangan mereka , Ina Ndao dapat menghasilkan lebih dari 40 kain tenun setiap bulannya.

        Jumlah ini bahkan belum ditambah dengan hasil tenunan para penenun yang bekerja dari sentra kabupaten yang bisa menghasilkan total ratusan lembar.

        Berkat para penenun terdidik tersebut, Ina Ndao dapat menjadi rujukan kain tenun dengan kualitas paling mumpuni dari Nusa Tenggara Timur.

        baca juga

          Kembali Dirikan Koperasi

          Keuntungan yang didapat dari usaha sentra kain tenun tidak semata-mata ia serap untuk dirinya dan istrinya sendiri.

          Keinginannya untuk membantu membesarkan usaha kain tenun di kota Kupang mendorongnya untuk mendirikan koperasi dengan modal yang dari keuntungan menjual kain tenun.

          Tepat pada tahun 2003, Yus mendirikan sebuah koperasi simpan pinjam dengan nama Karya Ando, yang diperuntukkan bagi para UKM yang dididik oleh Ina Ndao yang sudah berjumlah 160 pemilik.

          Berkat keberhasilannya mendirikan sentra tenun yang sudah diakui dimana-mana, Koperasi Karya Ando mendapat modal tambahan sebesar 150 Juta Rupiah dari Kementerian Koperasi dari modal awal sebesar 20 juta Rupiah.

          Selama beroperasi, Koperasi Karya Ando sudah meminjamkan lebih dari 300 anggota UKM kain tenun dengan kisaran pinjaman sebesar 1 hingga 5 juta pertahunnya.

          baca juga

            Tantangan Pengembangan Sumber Daya Manusia

            Meski telah berinisiatif mendirikan berbagai pelatihan-pelatihan untuk menghasilkan para penenun yang terampil, namun Yus masih harus berurusan dengan masalah pengembangan sumber daya manusia.

            Kendala yang dihadapi misalnya seperti para penenun yang kurang memiliki semangat juang untuk mengembangkan kemampuannya.

            Akibatnya biaya investasi pelatihan yang dikeluarkan oleh Yus terkadang menjadi sia-sia akibat masih banyak yang enggan berinisiatif.

            Berkebalikan dengan kenyataan tersebut, Yus justru mendorong agar jumlah UKM kain tenun di Kupang terus bertambah meski berpotensi menyaingi Ina Ndao.

            Daripada mengkhawatirkan didikannya bisa lebih maju, Yus Lusi justru menginginkan agar para UKM nantinya dapat menjadi mitra strategis untuk mendorong kain tenun NTT naik kelas.

            bac ajuga

            Yus juga tidak selalu meminta imbal balik hasil produksi  ataupun keharusan menjual kembali kepada Ina Ndao.

            Namun Yus berharap bahwa UKM binaanya dapat memprioritaskan Ina Ndao jika berhasil menciptakan kain tenun dengan kualitas tinggi.

            Saat ini mitra UKM didikan Ina Ndao tidak hanya terbatas di Kupang saja namun sudah merambah hingga lintas pulau seperti pulau Rote, Timor Tengah Selatan, Belu, Ende, dan Flores Timur.

          • Titik Supartina, Mendirikan Usaha Batik Secara Mandiri

            ukms.or.id/ – Profesi sebagai Pegawai Negeri Sipil masih dianggap menjanjikan oleh sebagian besar orang Indonesia.

            Dengan jaminan penghasilan yang menggiurkan dan jalur karir yang stabil membuat banyak orang rela berjuang untuk bisa masuk ke dalam instansi ini.

            Namun tidak semua orang memilih untuk terus menjalani karir yang pasti sebagai pegawai negeri.

            Ada yang memilih untuk menjawab tantangan menjadi pengusaha dan membuka lapangan pekerjaan yang sedang digalakkan oleh pemerintah.

            Ibu Titik Supartina justru memilih untuk mangkat dari dinas pendidikan kota Grobokan dan beralih menjadi pebisnis batik.

            Selama masih menjadi pegawai negeri sipil, Ibu Titik memang telah menunjukkan ketertarikannya dalam dunia membatik.

            Pilihan ibu Titik untuk membuka usaha batik sendiri banyak dipengaruhi kegemarannya melakukan hal serupa .

            Selain itu Ibu Titik juga menapak tilas sejarah kakeknya yang merupakan seorang seniman batik terkemuka dari Imogiri.

            Berawal dari Sering Bolos

            Ide untuk berbisnis batik bermula dari kegemaran Ibu Titik dalam membuat batik.

            Sembari menjadi pegawai negeri sipil, Ibu Titik juga gemar menghabiskan waktunya untuk mencanting dan menenun batik di kala senggang.

            Karena keseriusannya menggeluti membatik, Ibu Titik akhirnya memutuskan untuk menjadikannya sebagai usaha.

            Mulanya kegiatan usaha membatik tersebut dijalani saukms.or.id/l meneruskan pekerjaannya sebagai pegawai negeri.

            Namun karena tidak dapat membagi waktu antara kegiatan membatik dan bekerja membuatnya sering bolos setiap hari Jumat.

            Selama tahun-tahun pertama mendirikan bisnis , Ibu Titik mengaku kesulitan untuk membagi fokus yang membuatnya mengorbankan waktunya sebagai pegawai negeri

            Merasa bersalah karena tidak bisa menjalankan pekerjaan dengan amanah, Ibu Titik pun akhirnya merelakan karirnya sebagai pegawai negeri untuk fokus membesarkan usaha membatik.

            Terhitung sejak berhenti sebagai pegawai negeri hingga sekarang, Ibu Titik sudah menjalani bisnis batiknya selama empat tahun tanpa halangan berarti.

            Setelah fokus dalam membesarkan usaha membatiknya, tak pelak batik buatannya mulai mendapat perhatian dari penyuka batik di Yogyakarta.

            baca juga

            Bergabung dengan Amartha

            Tidak hanya piawai dalam mengurus usaha batiknya, Ibu Titik juga melek terhadap perkembangan teknologi terkini.

            Untuk membesarkan usahanya , Ibu Titik memilih untuk memanfaatkan pinjaman dari lembaga teknologi finansial berbasis Peer to Peer.

            Perkenalan ibu Titik dengan dunia lembaga P2P membawa beliau bertemu dengan salah satu partner dari Amartha, lembaga pinjaman P2P yang dikhususkan untuk memberdayakan perempuan.

            Pada waktu itu Ibu Titik mengenal Amartha ketika sedang berada di Jakarta dalam rangka mengikuti workshop batik.

            Dengan tambahan modal dari Amartha, Ibu Titik mulai membesarkan usaha batiknya dengan mendatangkan cap untuk motif-motif terkini.

            Selain itu Ibu Titik juga menggunakan modal tersebut untuk membuka sebuah toko kecil di daerah Morita, Yogyakarta.

            Beliau mengaku sangat terbantu sekali dengan keberadaan Amartha yang mempelopori sistem pinjaman tanpa bunga yang memberatkan pelaku usaha kecil.

            Bersama Amartha, Ibu Titik mempelajari sistem tanggung renteng untuk menutupi kebutuhan pinjaman.

            Memulai bisnis dari sebuah kios kecil, Ibu Titik sendiri akhirnya bisa menjajakan batik buatannya di ajan internasional macam Inacraft.

            Di ajang Iini, batik buatan Ibu Titik tanpa dinyana bisa mendatangkan minat dan ketertarikan para wisatawan asing yang berkunjung.

            Tidak hanya meningkatkan keuntungan, Ibu Titik juga dapat ikut memberdayakan ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumahnya.

            Bagi Ibu Titik, ia dapat merasa senang apabila bisa membantu ibu-ibu tersebut meringankan tugas para suaminya mencari nafkah.

            Tidak bergerak sendiri, Ibu Titik lagi-lagi bekerja sama dengan Amartha juga turut mengadakan pendidikan literasi keuangan kepada para ibu.

            Nantinya para ibu-ibu ini akan didorong untuk membangun koperasi dengan sistem tanggung renteng yang bisa digunakan oleh para anggotanya.

            Kegiatan penyuluhan dan operasional koperasi tetap akan mendapat perhatian dari pihak Amartha.

            Total Ibu Titik sudah berhasil memberdayakan kurang lebih sebesar 20 orang untuk mencari penghasilan tambahan dari pengerjaan batik.

            baca juga

              Pernah dikunjungi oleh Ivan Gunawan

              Meski tergolong bisnis yang baru berkembang, batik buatan ibu Titik sudah berhasil menarik perhatian figur publik khususnya di bidang fashion.

              Salah satu publik figur yang sempat mengunjungi Ibu Titik yaitu desainer dan komedian terkenal, Ivan Gunawan.

              Ivan Gunawan sendiri merupakan salah satu desainer yang banyak mengeluarkan kreasi-kreasi batik dari berbagai daerah

              Pada tahun 2017 silam, Ivan Gunawa pernah mengeluarkan sebuah peragaan busana batik dan workshop teknik membatik hasil kolaborasinya dengan para pembatik tradisional dari Kudus.

              Ivan sendiri sempat mengungkapkan kekagumannya terhadap hasil batik buatan Ibu Supartina yang memiliki motif yang unik.

              Ibu Titik sendiri mengaku sangat bangga bahwa batik buatannya sudah diakui oleh desainer sekelas Ivan Gunawan.

              baca juga

                Membutuhkan Hati yang Geukms.or.id/ra

                Meskipun berniat untuk membesarkan usaha miliknya, namun Ibu Titik mengaku tidak selalu memaksakan diri untuk membuat bati setiap hari

                Ibu Titik mengaku hanya ingin menghasilkan batik dengan kualitas terbaik yang tentu saja membutuhkan waktu pengerjaan yang lebih

                Menurut Ibu Titik, proses mengerjakan batik dapat diibaratkan sebagai sedang mengurus anak dengan kasih sayang, sehingga jika suasana hati sedang tidak memungkinkan, Ibu Titik memilih untuk tidak membuat batik.

                baca juga

                Oleh karena itu, Ibu Titik mengatakan bahwa ia tidak pernah mematok target produksi batik setiap bulannya.

                Meski tidak selalu memproduksi batik, namun Ibu Titik mengaku bahwa pendapatannya dari usaha batik sudah melebihi pendapatannya ketika ia masih menjadi pegawai negeri.

                Rata-rata Ibu Titik bisa mengantongi sekitar 7 juta rupiah dari bisnis ini, sementara ia banyak mengandalkan uang pensiunnya untuk kebutuhan makan sehari-hari.

              • Sanawi, Pebisnis Eskrim dari Kuli Bangunan

                ukms.or.id/ – Kesuksesan bisa diraih oleh siapa saja yang mengusahakannya.

                Kalimat ini sejatinya mudah untuk diucapkan namun sulit untuk dijalankan.

                Banyak orang yang menganggap bahwa semakin tinggi pendidikan maka jalan menuju sukses semakin terbuka lebar.

                Pada kenyataannya, sukses justru diraih oleh mereka yang mau mencoba dan tidak takut akan tantangan.

                Hal ini dibuktikan langsung oleh Sanawi, seorang juragan usaha eskrim yang tidak lulus sekolah dasar hingga sempat menjadi kuli bangunan.

                Tidak hanya dianggap bakal memiliki masa depan yang suram, Sanawi juga sempat diejek bahkan tidak diperbolehkan untuk menumpang di rumah temannya.

                Meski sempat menjadi kuli bangunan, keteguhan dan kenekatannya dalam mencoba menjalankan bisnis telah berhasil mengantarnya juragan bisnis dengan omzet sekitar 1,5 millyar per bulan.

                Yang lebih mengesankan, Sanawi berhasil mencapai kesuksesan tersebut dalam kondisi buta huruf alias baru bisa membaca setelah usahanya berhasil maju.

                Lahir Miskin dan Sering Diejek

                Sanawi lahir di Blora, sebuah kota kecil di Provinsi Jawa Tengah yang tekenal dengan hasil hutannya.

                Selama masa kecilnya, ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggembalakan sapinya daripada menamatkan pendidikan sekolah dasar.

                Alasan utamanya, keluarganya tidak sanggup untuk meukms.or.id/ayai pendidikannya sehingga bersekolah dianggap sebagai barang mewah bagi Sanawi.

                Tidak memiliki kemampuan menulis dan membaca dasar, Sanawi harus menerima kenyataan menjadi bulan-bulanan teman sebayanya yang berkesempatan untuk sekolah.

                Karena merasa tidak memiliki kesempatan untuk kehidupan yang lebih baik di kampung, Sanawi nekat merantau ke Jakarta dengan uang yang didapat dari menjual uukms.or.id/-uukms.or.id/an.

                Sanawi, Sukses Menjadi Pebisnis Eskrim dari Kuli Bangunan

                Naas, Sanawi justru ditipu oleh rekannya dari kampung yang kemudian mengaukms.or.id/l uangnya untuk bertahan hidup di Jakarta.

                Pada waktu itu yang bisa dilakukan oleh Sanawi hanyalah menangis sesengukan karena tidak tahu harus berbuat apa.

                Dengan keadaan kalut, Sanawi mencoba untuk menghubungi teman-temannya yang ada di Jakarta untuk menumpang tempat tinggal

                Bukannya ditolong, Sanawi justru ditolak teman-temannya karena dianggap terlampau miskin

                Namun karena kebulatan tekad, Sanawi memutuskan untuk pergi ke Jakarta untuk kedua kalinya, kali ini menjadi kuli bangunan.

                Ia berpikir banyaknya pembangunan di Jakarta pada waktu itu akan banyak membutuhkan tenaga.

                Merasa puas dengan menjadi kuli bangunan di Jakarta, ia memutuskan untuk menyeberang ke seberang pulau, lebih tepatnya ke Samarinda. Lagi-lagi sebagai kuli bangunan.

                Menjajal Peruntungan di Eskrim

                Meski tidak memiliki modal pendidikan formal dan hanya bekerja sebagai kuli bangunan, Sanawi tidak menyerah untuk dapat memperbaiki kehidupannya.

                Demi menambah pendapatannya, ia memutuskan menyaukms.or.id/ menjadi pedagang es krim keliling dengan modal Rp 60.000 hasil meminjam dari temannya sesama kuli bangunan.

                Sanawi kemudian menjajakan dagangannya setiap sore menjelang maghrib dengan sepeda berkeliling ke pemukiman-pemukiman terdekat.

                baca juga

                Dengan harga jual Rp. 1.000, Sanawi nekat menawarkan dagangannya meski harus menerima banyak bentuk penolakan mulai dari para orangtuanya yang tidak mau anaknya jajan hingga ejekan terhadap fisiknya.

                Tak menghiraukan berbagai penolakan tersebut, Sanawi tetap meneruskan pekerjaan sampingannya hingga berhasil membeli sebuah motor.

                Didorong keinginan yang kuat untuk bisa sukses dari jalannya menjadi pedagang eskrim, Sanawi memberanikan diri untuk bergaul dengan pengusaha eskrim lain yang lebih sukses.

                Hal tersebut dilakukan Sanawi berkat dorongan dari anaknya yang juga mengajarinya membaca.

                Selang beberapa waktu, usaha eskrim milik Sanawi mulai menuai sukses dan membuatnya bisa berhenti dari aktivitas sebagai kuli bangunan.

                Bahkan, Sanawi juga mulai mengajak beberapa kawannya sebagai kuli bangunan untuk bekerja sebagai distributor di usaha eskrimnya.

                Pada tahun 2010 berkat jerih payahnya mempelajari seluk beluk industri eskrim, Sanawi berhasil membesarkan usahanya hingga memiliki 400 mitra pengecer.

                Tidak puas dengan angka tersebut, Sanawi masih menyempatkan diri untuk berkeliling Indonesia untuk menambah jumlah mitra kerjasama yang dimilikinya.

                Hasilnya, Sanawi kembali berhasil menambah mitranya menjadi 700 orang yang tersebar di  beberapa daerah seperti Samarinda, Balikpapan, Manado, Batam hingga Jakarta.

                Sanawi menargetkan eskrim dagangannya akan bisa dinikmati oleh seluruh orang Indonesia.

                baca juga

                  Peduli Kepada Mitra

                  Sanawi sadar betul bahwa kesuksesan penjualan eskrimnya ada di tangan penjual yang dalam hal ini adalah para mitranya.

                  Untuk tetap menjaga eskrim dagangannya tetap disukai oleh para pelanggan, Sanawi tidak segan-segan memberikan pelatihan kepada para mitranya agar bisa memberikan pelayanan yang terbaik.

                  Sanawi juga terkadang memantau langsung proses penjualan yang dilakukan dari mitra kepada konsumen.

                  Berkat hal tersebut, Sanawi tidak hanya sukses membesarkan usaha eskrimnya namun juga bisa menyejahterahkan mitra-mitranya.

                  baca juga

                    Belajar Membaca di Umur 35

                    Berhasil mengenyam kesuksesan dan membalikkan nasibnya dari profesi kuli bangunan, tidak membuat Sanawi jumawa.

                    Sebaliknya ia tetap berkeinginan untuk bisa membaca meski kini memiliki keleluasaan untuk mempercayakan urusan surat menyurat kepada karyawannya.

                    Malahan Sanawi tetap merasa menyesal tidak bisa mendapatkan pendidikan sewaktu dirinya kecil dulu karena yakin usahanya akan jauh lebih sukses jika ia bersekolah.

                    Pada tahun 2010 yang lalu, Sanawi secara resmi memulai belajar membaca dan menulis yang diajar langsung oleh anaknya yang sudah bersekolah.

                    Sanawi berpendapat ketidakmampuan dirinya dalam membaca dan menulis bisa mempengaruhi bisnisnya kelak.

                    baca juga

                    Ia banyak mendapat nasihat dari temannya ia bisa saja ditipu dengan dokumen perjanjian yang tidak menguntungkan baginya.

                    Saat ini selain menjalankan usaha penjualan eskrim, Sanawi juga menjalankan berbagai bisnis lainnya seperti penyewaan kontainer, penjualan daging beku, dan bisnis minimarket waralaba.

                    Sanawi juga sudah memiliki pabrik eskrim sendiri yang bisa memproduksi sekitar 40.000 cone dalam sehari dan 9.000 ember eskrim dalam sebulan.



                  • Sukses Usaha Budidaya Jamur

                    ukms.or.id/ Usaha budidaya jamur merupakan salah satu usaha yang masih memilliki prospek cukup bagus di Indonesia.

                    Berbagai olahan jamur pun banyak diterima oleh masyarakat dari segala usia seperti misalnya olahan jamur goreng yang dapat dipadukan dengan bumbu tersebut.

                    Salah satu contoh pengusaha yang berhasil dalam upaya pembudidayaan jamur adalah Rial Aditya.

                    Tidak hanya memiliki bisnis pembudidayaan jamur, Aditya bahkan juga memiliki usaha pengolahan jamur menjadi makanan jadi.

                    Bahkan kesuksesan Rial membuatnya dinobatkan sebagai profesor jamur.

                    Awal Mula Perkenalan dengan Usaha Jamur

                    Rial Aditya berkenalan dengan usaha jamur ketika dirinya mengambil pendidikan jurusan biologi di Institut Teknologi Bandung pada tahun 2004.

                    Meskipun berkuliah di jurusan Biologi, namun jiwa kewirausahaannya mendorongnya untuk berbisnis sambil menjalani bangku kuliah.

                    Rial pernah mencoba menjalankan bisnis mulai dari bisnis cocok tanam sayuran hingga peternakan itik

                    Namun karena kesibukan kuliah, Rial memutuskan untuk berhenti berbisnis di tengah jalan.

                    Suatu ketika dalam kegiatan praktik lapangan di suatu daerah di Cisarua ia berkenalan dengan budidaya jamur.

                    Melihat bahwa banyak hal menarik yang bisa dipetik dari budidaya jamur, Rial tertarik juga untuk mencobanya.

                    Tanpa berpikir lama ia langsung memutuskan untuk mencoba melakukan budidaya jamur sesampainya ia pulang ke rumah,

                    Sebagai percobaan pertama, Rial menggunakan bibit yang ia beli dari pasar.

                    Namun bibit tersebut mengalami pembusukan tepat sebelum menghasilkan lembaran jamur yang bisa dikonsumsi.

                    Padahal dalam percobaan pertamanya, ia sudah menghabiskan lebih dari 25 juta Rupiah yang diproyeksikan dapat menghasilkan 4 hingga 5 ton jamur.

                    Rial mengatakan ia hanya bisa menghasilkan 15 kilogram saja dari bibit pertamanya itu.

                    Namun berkat bakat berwirausahanya, Rial tidak serta merta menyerah dan langsung menganalisa penyebab bibit jamurnya gagal.

                    Pada waktu itu Rial mengetahui bahwa bibit jamur yang ia gunakan ternyata berkualitas rendah sehingga tidak mampu berkembang.

                    Belajar dari pengalaman tersebut, Rial memutuskan untuk berguru kepada para petani jamur yang lebih berpengalaman.

                    Singkat cerita, upayanya mencari ilmu dari petani yang sudah berpengalaman tidaklah sia-sia

                    Ia akhirnya berhasil mengembangakan baglog jamur miliknya sendiri dan membuka bisnis yang ia beri nama Ruma Jamur.

                    Seiring perjalanan Rial menekuni bisnis ini, ia mengaku sudah mencapai omzet sebesar 800 juta pertahunnya.

                    Angka tersebut didapat dari usahanya mengembangkan baglog-baglog jamur hingga mencapai jumlah 25.000 buah, sesuatu yang tidak mudah dilakukan.

                    Menggelorakan Industri Jamur

                    Sukses sebagai pembudidaya jamur rupanya tidak membuat Rial cepat puas dengan pencapaiannya.

                    Ia justru tertantang untuk mengembangkan potensi industri dari jamur

                    tiram lebih luas lagi.

                    baca juga

                    Setelah pembudidayaan jamur, Rial mulai bergerak untuk merintis bisnis pengolahan jamur dengan bahan baku dari jamur yang ia hasilkan sendiri.

                    Untuk menggabungkan bisnis pembudidayaan jamur dan bisnis pengolahan jamur, Rial memutuskan untuk mendirikan perusahaan yang ia beri nama CV Ganesha Mycosoft.

                    CV Ganesha Mycosoft membawahi 4 usaha yang berhubungan dengan daur bisnis jamur yang disebut dengan Integrated Mushroom Farming System.

                    Dari usaha pengolahan jamur, Rial sudah memproduksi berbagai macam penganan yang lazim seperti kerupuk hingga yang tidak lazim seperti bakso dan siomay yang terbuat dari jamur.

                    Produk olahan jamur milik Rial ini sendiri sudah tersebar di berbagai pusat perbelanjaan yang ada di Indonesia.

                    Selain itu ia juga mengandalkan beberapa reseller untuk memasarkan produk jamurnya, membuat usaha jamurnya semakin langgeng.

                    Rial juga memiliki unit bisnis lain yang bersumber dari jamur yaitu bisnis pengolahan limbah jamur.

                    Dari pengolahan limbah jamur ini Rial memproyeksikan dapat memanen sejumlah cacing yang bisa dijual sebagai pakan.

                    Untuk mendukung usahanya, Rial mengandalkan timnya yang berjumlah 16 orang.

                    Keenam belas orang ini sendiri diberi tugas untuk mengelola keempat bisnis jamur yang Rial bangun

                    baca juga

                      Bangga Disebut Petani

                      Meski memiliki ketertarikan untuk menekuni usaha untuk membudidayakan jamur sedari awal, piihan tersebut pada awalnya tidak mudah untuk dijalani oleh Rial

                      Selain tantangan berbisnis, salah satu tantangan lain yang dialami oleh Rial adalah pendapat orang-orang di sekitarnya.

                      Meskipun berkuliah di jurusan biologi yang identik dengan pertanian, rupanya tidak banyak orang menganggap bahwa melanjutkan karir di bidang pertanian memiliki masa depan.

                      Banyak yang berpendapat bahwa profesi petani sangat melekat dengan kondisi tidak berpunya alias miskin.

                      Akan tetapi Rial justru merasa tertantang untuk dapat menjalani profesinya sebagai petani tersebut.

                      Ia secara perlahan mencoba menggeser paradigma pemuda-pemuda seusianya yang berpikir lebih baik bekerja di pabrik atau bahkan mengadu nasib menjadi TKI.

                      Baginya lebih baik ia berusaha sendiri meskipun ia harus kotor-kotoran berlumuran lumpur dan hidup seperti anak desa.

                      baca juga

                        Banyak beramal

                        Meski tidak bermaksud sebagai perusahaan dengan misi sosial, nyatanya Rial bersama dengan Ruma Jamur juga turut banyak mendorong kegiatan pemberdayaan bisnis bagi masyarakat sekitar.

                        Tidak hanya sebagai entitas bisnis yang berbasis profit, Ganesha Mycosoft juga banyak mengadakan workshop dan penyuluhan mengenai bisnis jamur.

                        Selain itu ia bahkan tidak segan untuk membagikan rahasianya dalam mengembangkan bisnis yang jamur dalam bentuk buku.

                        baca juga

                        Untuk buku sendiri Rial sudah menerbitkan beberapa judul seperti 10 rahasia membangun usaha pembudidayaan jamur hingga resep olahan jamur ala Ruma Jamur yang juga ia jual sendiri.

                        Rial juga memegang teguh prinsip untuk selalu membagikan keuntungan bisnisnya dalam bentuk zakat maupun sedekah.

                        Ia selalu mendisiplinkan diri untuk menyisihkan sekitar 20% dari seluruh keuntungannya dengan rinician 2,5% untuk zakat wajib dan 17,5% untuk sedekah seperti bantuan permodalan.

                      • Sepatu Dari Ceker Ayam

                        ukms.or.id – Kreativitas merupakan harga mati bagi pengusaha UKM untuk mengarungi persaingan bisnis

                        Apabila suatu produk keluaran UKM tidak memiliki nilai diferensiasi dengan bisnis lainnya maka sulit sekali untuk menarik perhatian calon pembeli.

                        Di Indonesia sendiri banyak bertebaran para pelaku usaha UKM yang benar-benar mengedepankan kreativitas untuk menyokong bisnisnya.

                        Salah satunya adalah pemuda bernama Nurman Ramdhany yang memanfaatkan ceker ayam untuk bahan pembuatan sepatu.

                        Ceker ayam sendiri biasanya identik dengan olahan ayam yang dikonsumsi oleh manusia.

                        Menurut Nurman, salah satu alasan penggunaan ceker ayam sebagai bahan baku usaha sepatunya karena mudah untuk ditemukan.

                        Dengan mengusung merek Hirka, Nurman mempelopori bisnis ukm sepatu pertama yang berasal dari ceker ayam.

                        Keprihatinan Akan Hewan Reptil

                        Ide Nurman untuk menggunakan ceker ayam sebagai bahan sepatu berawal dari keprihatinannya terhadap penggunaan kulit hewan reptil sebagai bahan dasar.

                        Beberapa barang gaya seperti sepatu dan tas berbahan kulit hewan reptil seperti ular dan buaya memang sudah lazim di dunia mode.

                        Namun penggunaan kulit hewan sebagai bahan dasar ini mengancam populasi dari hewan-hewan reptil tersebut.

                        Seperti data yang dikemukakan oleh CITES, bahwa pada tahun 2008 hingga tahun 2017 terdapat lebih dari 10 juta kulit hewan reptil yang diimpor sebagai bahan baku.

                        Nurman pun mengaku bahwa ia mendapat banyak inspirasi dari sang ayah yang merupakan lulusan Politeknik Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta.

                        Ayah Nurman lah yang sebetulnya sudah pernah merancang riset untuk menggunakan kulit ceker untuk produksi sepatu yang kemudian urung diselesaikan.

                        Akhirnya setelah melewati proses riset yang cukup panjang, Nurman memutuskan menggunakan kulit ceker ayam yang teksturnya mirip dengan kulit buaya.

                        Pillihan Nurman terhadap bahan kulit ceker ayam juga menguntungkan dari segi siklus bisnis, karena bahan baku bisa ia dapatkan cukup dengan meminta kepada restoran cepat saji.

                        Ceker ayam pun juga memiliki kelebihan lain berupa tekstur yang variatif sehingga mudah untuk mengaplikasikan kreativitas dalam setiap produk.

                        Biaya Pembuatan Mahal

                        Meski dari segi ketersediaan sangat melimpah, pembuatan sepatu dari ceker ayam tidaklah memakan biaya yang sedikit.

                        Ceker ayam yang bisa digunakan sebagai bahan baku pun harus memiliki kriteria tertentu seperti harus berasal dari ayam yang memiliki berat minimal 2 kg.

                        Untuk mewujudkan produk sepatu ceker ayam buatannya, Nurman bahkan harus memproduksi dan menjual sepatu dengan bahan awal kanvas sebagai modal pengembangan.

                        Hingga akhirnya Nurman berhasil menjual sepatu ceker ayam pertamanyapada tahun 2017 dalam ajang INACRAFT.

                        Kesulitan pengembangan produk dari ceker ayam sudah terlihat sejak proses penyamakan kulit.

                        Penyamakan dilakukan dengan bahan-bahan yang tergolong hanya diizinkan untuk industri besar.

                        Kulit ceker ayam yang belum elastis harus disamak hingga 2 minggu lamanya sebelum siap menjadi bahan sepatu.

                        baca juga

                        Nurman Ramadhany Pebisns UKM Sepatu dari Ceker Ayam

                        Selain itu proses produksi juga sama sekali tidak menggunakan mesin karena belum ada mesin yang bisa melakukan proses press terhadap bahan kulit ceker ayam.

                        Semua proses mulai dari penjahitan, pemotongan bagian upper, serta pembuatan outsole dilakukan oleh Nurman beserta dengan para asistennya.

                        Akibat proses yang memakan waktu panjang, dalam waktu satu minggu Nurman baru bisa menyanggupi satu hingga dua pasang sepatu berbahan ceker ini.

                        Harga sepatu ceker ayam ini sendiri dapat mencapai harga mulai dari 500 ribu hingga 2 juta rupiah perpasangnya.

                        Dengan harga ini, Nurman menjanjiikan bahwa sepatu ceker ayam ini tidak kalah dalam hal kelenturan dan daya tahan dari produk dari kulit hewan reptil.

                        Keteguhannya untuk menjajakan sepatu berbahan ceker ayam pun mengantarnya meraih omzet minimal 60 juta perbulannya.

                        baca juga

                          Penghargaan atas Hirka

                          Membangun UKM dari nol, Nurman tidak melupakan esensi penciptaan lapangan pekerjaan dalam bisnis yang dilakukannya.

                          Hingga sekarang, Nurman sudah mempekerjakan 4 orang dari sekitar rumahnya yang bisa bertambah seiring perkembangan usaha.

                          Berkat inovasi dan kegigihannya untuk memproduksi sepatu yang berasal dari kulit ceker ayam, ia mendapat ganjaran berupa berbagai penghargaan.

                          Penghargaan pertama yang didapatkan oleh Nurman dan Hirka adalah ketika memenangi Desain Produk Terbaik dari Pemerintah Kota Bandung.

                          baca juga

                            Selain dalam penghargaan soal desain, Nurman juga sudah kenyang mendapat penghargaan untuk kategori entrepreneurship.

                            Beberapa penghargaan kewirausahaan yang sudah diraih Nurman antara lain menjadi langganan finalis 100 besar di BliBli Competition, juara 2 UMKM di Festival Pesona Lokal, hingga Astra Satu Indonesia Awards pada tahun ini.

                            Nurman mengaku banyak mengikuti kontestasi wirausaha untuk banyak bertukar ilmu dengan pengusaha lain.

                            Penghargaan tersebut rupanya berdampak besar, termasuk kepada angka penjualan sepatu Hirka miik Nurman.

                            Seperti angka penjualannya yang naik 100% serta produknya yang semakin dikenal oleh kalangan pecinta sepatu di tanah air mulai dari Aceh hingga Kalimantan.

                            Produknya pun juga sudah mampu melakukan penetrasi di luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Hongkong, Brasil, hingga Perancis.

                            baca juga

                            Rencana ke Depan

                            Selain memproduksi sepatu, Nurman bersama dengan tim Hirka juga berencana untuk membuat produk mode lain seperti dompet hingga gantungan kunci.

                            Dirinya juga berniat untuk menjalin kemitraan baik dengan pebisnis dalam maupun dari luar negeri.

                            Namun Nurman juga mengaku akan tetap selektif dalam memilih partner karena berkaitan dengan bagaimana skema kerjasama akan dijalankan.

                            Nurman mengaku pernah mendapat tawaran dari sebuah merek asal Singapura yang mengajaknya bisnis bersama namun hanya sebagai produsen dari brand tersebut.

                            Tawaran tersebut ditolak oleh Nurman yang mengatakan bahwa ia ingin mengembangkan brand milliknya sendiri.