Author: UKMS

  • Warteg Naik Kelas , Warjak

    Perusahaan rintisan tidak hanya terkenal sebagai pelopor distrupsi pola bisnis konvensional.

    Lebih daripada itu perusahaan rintisan juga memiliki ciri khas yaitu mampu memberikan dampak sosial.

    Martin dan Hendra Hudiono mencoba menangkap esensi dari perusahaan rintisan ala UKM dengan mendirikan Warung Jakart alias Warjak

    Warung Jakarta atau Warjak merupakan solusi yang coba ditawarkan oleh Martin dan Hendra untuk meningkatkan kualitias hidup para pengusaha warung nasi.

    Melalui Warjak, Martin dan Hendra mencoba mengurai permasalahan para pengusaha nasi seperti ketika membeli bahan baku dan mengolah masakan.

    Nantinya para pelanggan hanya perlu menyediakan tempat dan menjajakan beberapa makanan yang sudah disiapkan oleh Warjak.

    Membuka Warteg karena Hobi Nge-warteg

    Kemunculan ide untuk membuka Warjak ini sendiri didorong oleh keinginan dari Martin yang bermimipi memiliki bisnis kulliner.

    Martin sempat mewujudkan impiannya membuka sebuah usaha kuliner berupa sebuah kafe, kegagalan meraiih target pasar membuat kafenya gagal.

    Setelah gagal melanjutkan usaha kafenya , Martin justru belom kapok untuk berbisnis makanan

    Martin justru ingin mencoba mendirikan sebuah warung tegal atau warteg yang banyak menyajikan masakan rumahan sehari-hari.

    Sebagai langkah awal, ia mencoba mengajak warteg langganannya untuk membuka cabang.

    Martin dan Hendra Hudiono Menaikkan Kelas Warteg Melalui Warjak

    Meski begitu ia selalu mendapatkan penolakan setiap kali ia mengutarakan idenya hingga sang pemilik warung berhenti karena terkena Diabetes pada 2017.

    Memilih untuk vakum sebentar dari bisnis kuliner, Martin justru diminta Hendra untuk bersama-sama membuka warung tradisional kekinian.

    Konsep warung kekinian yang mereka temukan kala itu berupa warung dengan dapur terpusat yang akhirnya diberi nama Warjak.

    bac ajuga

    Sistem Warjak

    Sistem bisnis yang dibangun oleh warjak memang dimaksudkan untuk mempermudah mitra yang bergabung.

    Langkah awal, para mitra hanya cukup memesan menu makanan hingga pukul 2 sore dan mengaukms.or.id/l makanan yang dipesan antara pukul 4 hingga 7 pagi di dapur pusat.

    Dapur pusat sendiri mampu menyiapkan hingga lebih dari 38 menu makanan yang bisa dipilih oleh para mitra.

    Demi membantu mitra menjalankan bisnis secara efisien, Martin dan Hendra juga mencoba memperpendek rantai distribusi bahan baku.

    Upaya tersebut direalisasikan dengan banyak menjalin kerjasama langsung dengan para petani maupun peternak sebagai penyedia bahan baku.

    Untuk bisa menikmati kemudahan membuka warung ini sang calon mitra harus merogoh kocek sebesar 10,5 juta rupiah

    Nantinya dari biaya kemitraan tersebut, calon mitra akan mendapatkan fasilitas warung seperti etalase, meja dan bangku, peralatan makanan, hingga gratis 10 menu pertama.

    Selain itu warjak juga membangun tim survey yang solid untuk memetakan mitra yang dianggap potensial.

    baca juga

      Perjuangan membangun Warjak

      Butuh waktu selama 8 bulan bagi mereka berdua hingga akhirnya dapat membuka Warung Jakarta secara resmi.

      Selama 8 bulan tersebut, berbagai kegiatan seperti berbelanja bumbu, memasak, hingga packaging untuk kemasan makanan.

      Tidak selesai dari urusan dapur saja, Martin dan Hendra juga sempat menguji daya tahan masakan mereka selama 3 jam di bawah matahari.

      Martin dan Hendra mendapati bahwa masakan mereka mudah rusak apabila terkena panas matahari secara terus-menerus.

      Melewati perjalanan panjang untuk mendapatkan resep yang layak, Martin dan Hendra akhirnya dapat meresmikan Warjak untuk beroperasi penuh.

      Bagi Hendra dan Martin, hal terberat yang mereka alami selama memperisapkan usaha ini adalah banyaknya trial and error yang dilewati.

      Persoalan juga muncul dari bagaimana membangun kultur bisnis  para mitranya.

      Pertama kali membuka warjak, masih banyak mitranya yang hanya berniat coba-coba yang mengakibatkan tidak serius dalam bermitra.

      Martin dan Hendra pun memutuskan untuk menaikkan biaya kemitraan dari 5,5 juta rupiah menjadi 10,5 rupiah agar calon mitra bersungguh-sungguh menjalankan bisnis.

      Martin dan Hendra juga sampai harus memberikan pendampingan menyeluruh kepada para mitranya untuk mencegah mereka mendapat kegagalan.

      Tak Jarang tim manajemen turun langsung ke lapangan untuk membantu menyelesaikan problem seperti kondisi warung yang sepi hingga konflik dengan mitra lainnya.

      bac ajuga

        Menjamurnya Bisnis Warung Tegal

        Bisnis waralaba warung tegal diyakini tidak akan mengalami penurunan setidaknya hingga beberapa tahun ke depan.

        Sampai saat ini bisnis dengan hal serupa masih terus menunjukkan tren pertumbuhan yang positif.

        Salah satu faktor suksesnya adalah karena masakan ala warteg masih banyak digemari oleh lidah Indonesia.

        Selain itu, masakan ala warung tegal ini juga disenangi orang dari semua kelompok usia.

        Para pengusaha waralaba warung tegal sudah banyak menyesuaikan diri dengan kebutuhan para pelanggannya.

        Misalnya selain masakan yang enak, pelanggan juga mulai memperhatikan tingkat kebersihan dari warung tegal tersebut.

        Hal inilah yang menjadi resep sukses para pemilik bisnis waralaba warteg yang sudah cukup sukses.

        Selain Warjak bentukan Martin dan Hendra Hudiono, banyak pula yang sukses membangun bisnis warung tegal dengan sistem waralaba.

        Seperti Sayudi yang berhasil membangun bisnis waralaba warteg dengan nama Kharisma Bahari yang cukup terkenal di Ibukota.

        Sejak memulai usaha warteg pada tahun 1995 hingga sekarang ia sudah membuka sekitar 197 cabang warteg miliknya dengan rincian sekitar 186 merupakan milik mitra.

        bac ajuga

        Sayudi juga mengeluarkan terobosan yang berbeda dengan warteg yang lain yaitu sebagai warteg yang mempelopori pembayaran menggunakan teknologi digital.

        Pemerintah juga merasa bahwa usaha warung tegal sudah saatnya go International.

        Pada tahun 2017 Menteri UKM dan Koperasi kala itu, Anak Agung Gede Puspayoga menginisiasi “invasi” pertama warung tegal di Malaysia.

        Selain dalam hal pendanaan, Kementerian UKM juga siap menjadi mediator untuk potensi masalah hukum berupa perizinan untuk membuka warung tegal pertama d Negeri Jiran.

      • UKM Sambal Tuna Di Papua

        ukms.or.id/ – Bisnis UKM merupakan salah satu tonggak perekonomian bagi Indonesia.

        Potensi penyerapan tenaga kerja menjadi alasan mendirikan UKM menjadi pilihan milenial untuk berkontribusi dalam ekonomi nasional.

        Salah satunya adalah UKM yang dinisiasi oleh seorang pemuda yang berasal dari provinsi paling timur di Indonesia, Papua.

        Muhammad Yamin Rachman, pemuda milenial berusia 33 tahun ini mendirikan UKM yang diberi nama Sambal Baba berkat kecintaannya kepada dunia kuliner.

        Sambal BaBa sendiri merupakan produk berupa sambal yang diracik bersama dengan ikan tuna yang dibotolkan.

        Menurut Rachman, ikan tuna merupakan simbol kekayaan hayati dari tanah Papua yang masih memiliki potensi besar.

        Tantangan Berbisnis

        Muhammad Yamin menyadari betul bahwa mendirikan UKM berbasis kuliner cukup menantang.

        Ketatnya persaingan hingga tantangan mengefisiensikan harga bahan baku menjadi kendala baginya.

        Soal persaingan ia mengakui bahwa sambal merupakan makanan yang sudah sangat populer di kalangan orang Indonesia.

        Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana menciptakan sambal yang benar-benar unik namun dapat diterima oleh lidah orang Indonesia.

        Selain menciptakan produk yang unik, strategi promosi yang unik menciptakan situasi yang tidak mudah mengingat mayoritas orang Indonesia sudah melek dengan media sosial.

        Untuk mengantisipasi hal ini, langkah Yamin terbilang cukup berani yaitu dengan mengeluarkan banyak varian produk.

        Saat ini, Yamin telah mengeluarkan lebih dari 9 varian rasa dengan 5 tingkat kepedasan yang berbeda-beda.

        Muhammad Yamin berhasil kembangkan UKM Sambal Tuna di Papua Sembari Hidupkan Industri Lokal

        Tak lupa ia juga terus melakukan inovasi untuk produknya dengan menelurkan produk rendang tuna hingga abon tuna asar.

        Alasan ia berani mengeluarkan produk ini adalah karena baik rendang maupun abon sangat cocok untuk dipadukan dengan tradisi makan ala Papua

        Selain beras sebagai makanan pokok, masyarakat Papua juga biasa memanfaatkan singkong sebagai pengganti beras.

        Sementara itu tantangan berupa harga bahan baku yang fluktuatif cenderung sulit untuk diakali.

        Ketiadaan industri bahan baku penolong seperti plastik di Papua memaksa Yamin untuk mencari bahan baku tersebut hingga ke Pulau Jawa hingga Sumatera.

        Namun beban tersebut dapat diredam sedikit demi sedikit salah satunya berkat perhatian bank pembangunan setempat.

        Kantor Perwakilan Papua Bank Indonesia mengatakan bahwa mereka telah berkomitmen untuk mendukung usaha Sambal Baba dalam bidang pemasaran dan produksi.

        Wirausaha Muda Mandiri

        Kreativitas dan kegigihan Yamin dalam menjalankan bisnis sambal Baba ini mengantarnya mendapat penghargaan Wirausaha Muda Mandiri.

        Acara yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri sejak tahun 2007 ini ditujukan untuk menjaring pengusaha-pengusaha muda yang memberi dampak bagi masyarakat sekitar.

        Muhammad Yamin dan keempat pengusaha muda lain mendapat kehormatan menjadi pemenang event bergengsi ini untuk kategori yang mereka geluti.

        Ia sendiri mengaku sangat bangga memenangkan penghargaan ini mengingat seleksi pemenang yang amat ketat dengan melibatkan juri-juri ternama.

        Tidak hanya mendapatkan penghargaan sebagai pemenang, Bank Mandiri juga berjanji akan melakukan peukms.or.id/ngan hingga menyediakan fasilitas peukms.or.id/ayaan bagi para pemenang.

        baca juga category artikel

        Menghidupkan Industri Ikan Tuna lokal

        Menjalani bisnis UKM kuliner artinya Yamin harus banyak menjalin relasi dengan produsen bahan baku segar.

        Untuk melancarkan usaha sambal tunanya, ia memang banyak mengajak kerjasama para nelayan lokal sebagai pemasok bahan baku sambalnya tersebut.

        Rachman pun mengaku beruntung bahwa pasokan tuna lokal memiliki kualitas yang tinggi.

        Meskipun begitu di awal-awal merintis, Yamin sempat mendapat penolakan dari pada kelompok nelayan setempat dengan alasan tidak adanya kecocokan harga.

        Namun berkat kesungguhannya meyakinkan kelompok nelayan, mereka akhirnya tergerak untuk ikut dalam proyek milik Rachman tersebut.

        Yamin juga menyimpan harapan bahwa pemerintah juga turut mencari solusi untuk memaksimalkan potensi perikanan yang ada di Papua

        Faktanya potensi perikanan yang ada belum tergarap seutuhnya oleh pihak industri.

        Menurut manajer pengembangan ekonomi masyarakat PT Freeport Yohanes Bewahan, daerah-daerah penghasil perikanan terbaik di Papua seperti Mimika masih belum tergarap maksimal.

        Untuk itu ia berharap bahwa pemerintah menjalankan program bantuan teknis kepada para nelayan.

        Secara spesifik Yohanes mengungkapkan bahwa kebutuhan-kebutuhan para nelayan meliputi pengolahan industri hilir, bantuan reparasi dan pembuatan kapal, hingga alat tangkap.

        baca juga

          Tidak cukup di bantuan teknis saja, pemerintah juga diminta tanggap terhadap realita bahwa nelayan juga masih kesulitan melakukan pengolahan ikan hasil tangkapan mereka

          Saat ini pemerintah melalui kementerian Perikanan dan Kelautan sudah menanggapi permasalahan ini, diantaranya dengan mengadakan Focus Group Discussion untuk mencari solusi.

          Dilansir dari antara, ada empat permasalahan utama yang menghambat industri perikanan termasuk Tuna menurut pemerintah.

          Kurangnya kesempatan, rendahnya keterampilan, kekurangan jaminan, hingga hak-hak sosial yang masih terbatas menjadi empat masalah yang harus segera diselesaikan.

          Kembali menurut Yamin, nelayan Papua harus diberikan rasa percaya diri bahwa mereka bisa mendapatkan imbal yang sesuai dengan jerih payah mereka.

          baca juga

          Cita-Cita Ke Depannya

          Ke depannya, Muhammad Yamin berharap agar bisnis Sambal Baba rintisannya tidak hanya diterima di pasar domestik, namun juga pasar internasional

          Dengan membawa ikan tuna khas Papua sebagai ciri khas dari kuliner ini, Muhammad Yamin berkeinginan untuk membawa nama Papua tersohor.

          Untuk perkembangan bisnis, Yamin juga menargetkan tidak hanya memasarkan produknya kepada kanal konsumen saja namun juga dapat memasok kepada pengusaha kuliner lain.

          Untuk Saat ini, Yamin sudah cukup puas dapat memasok sambal tuna kepada klien perbankan hingga kementerian agama.

          Untuk menciptakan dampak ekonomi yang lebih besar, Muhammad Yamin juga berencana membuka lahan produksi dalam skala besar untuk bahan baku seperti cabai dan lahan.

          Rencanannya tersebut semata-mata untuk membuka lapangan pekerjaan bagi pemuda di sekitar daerahnya.

        • Lumpia Cik Me Me

          ukms.or.id/ – Tidak hanya sebagai jajanan biasa, Lumpia sudah menjadi salah satu ikon dari Kota Semarang.

          Makanan yang dihasilkan dari perpaduan resep orang Tionghoa dan Jawa ini memang pertama kali diciptakan di kota itu.

          Sebagai pengakuan atas lumpia sebagai warisan sejarah dari kota Semarang, UNESCO menjadikannya sebagai salah satu warisan dunia tak benda.

          Lumpia Cik Me Me di antara Inovasi Dan Tradisi

          Meski lumpia dapat ditemukan di hampir seluruh sudut kota tersebut, ada satu restoran lumpia yang menonjol dibandingkan dengan yang lain.

          Restoran tersebut bernama Lumpia Cik Meme yang sebelumnya bernama Lumpia Delight. Restoran lumpia ini sudah berdiri sejak 1870 yang diawali dari racikan Tjoa Thay Joe dan istrinya yang bernama Mbok Wasih.

          Nama Cik Meme sendiri diaukms.or.id/l dari pemiliknya Meilani  ketika meneruskan usaha ini pada tahun 2014 dari ayahnya, Tan Yok Tjay.

          Awal Mula Lahirnya Usaha Lumpia

          Lahirnya lumpia dibidani oleh pernikahan dua latar belakang yang berbeda antara Tjoa Thay Joe dan Mbok Wasih

          Sebelum menikah, keduanya merupakan penjual makanan martabak dengan resep asal tradisi masing-masing.

          Pada waktu itu pak Thay Joe masih menjual penganan dengan resep berisi udang dan daging babi, sementara Mbok Wasih dengan resepnya yang berisi telur dan rebung.

          Perpaduan resep milik kedua suami istri ini kemudian melahirkan resep lumpia yang dikenal banyak orang hingga sekarang

          Tidak hanya menciptakan resep Lumpia, keduanya juga sukses menjadi pengusaha lumpia yang paling terkenal di kota Semarang kala itu. Usaha lumpia ini kemudian menurun kepada generasi selanjutnya hingga berkembang menjadi tiga usaha lumpia yang berbeda di generasi ketiga.

          Usaha lumpia ini mulai bertumbuh ketika sampai di tangan Tan Yok Tjay hingga digelari oleh masyarakat sebagai master chef dari lumpia.

          Usaha lumpia inipun akhirnya sampai di tangan Meilani yang mendapat gemblengan langsung dari sang ayah.

          Perjuangan Meilani menjalani Bisnis Lumpia

          Meilani sudah bersentuhan dengan bisnis lumpia milik ayahnya ketika kecil

          Sebagai putri bungsu dari tiga bersaudara, hanya Meilani lah yang memiliki ketertarikan dengan bisnis lumpia.

          Ia sudah mulai terlibat dalam proses pembuatan lumpia yang dijual oleh kedua orangtuanya , mulai dari ikut mendorong gerobak jualan ayahnya hingga mengaduk adonan

          Kerja keras Meilani yang banyak terlibat dalam usaha sang ayah memperkenalkan lumpia kepada masyarakat luas membuatnya dipercaya untuk meneruskan usaha.

          baca juga artikel category

          Demi memperlengkapi kemampuannya mengelola bisnis lumpia, Meilani juga menempuh pendidikan akuntansi.

          Setelah memegang langsung usaha lumpia dari kedua orangtuanya, Meilani banyak memberikan sentuhan inovasi.
          Selain faktor bisnis, kecintaannyalah kepada kuliner ini yang membuatnya beraukms.or.id/si memperkenalkan makanan ini sebagai masakan asli Indonesia.
          Cinta Meilani kepada kuliner ini tidak main-main, Meilani pernah terlibat dalam sebuah demo terhadap kedubes Malaysia yang mengklaim makanan lumpia secara sepihak.

          Sentuhan Inovasi

          Hingga saat ini, Lumpia Cik Me Me tidak hanya dikenal sebagai salah satu lumpia yang paling enak di Semarang, namun juga dikenal sebagai lumpia yang paling inovatif di Semarang.

          Meski kerap melakukan inovasi untuk masakan lumpianya, para konsumen mengaku Meilani tidak serta merta menghilangkan sentuhan tradisional yang sudah bertahan beberapa generasi

          Bentuk inovasi tersebut terlihat dari banyaknya varian rasa Lumpia Cik Me Me yang belum muncul di generasi sebelumnya.

          Selain lumpia biasa yang hanya berisikan rebung dan telur, ada 5 varian isian lumpia lain yang tersedia seperti lumpia vegetarian, kepiting, kakap, daging kaukms.or.id/ng, hingga kacang mete.

          Tidak hanya menciptakan varian isi baru, Cik Me Me juga cukup berani menciptakan bentuk lain dari lumpia Semarang yaitu keripik lumpia.

          Menurut Meilani sang pemilik, inovasi keripik lumpia ini justru hadir karena kegundahannya terhadap daya tahan lumpia yang tidak sampai sehari.

          Keripik lumpia diakui oleh Meilani bisa bertahan hingga hingga 4 bulan ke depan.

          Berkat upayanya melakukan inovasi terhadap masakan lumpia, Meilani alias Cik Me Me diganjar penghargaan oleh Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID).

          baca juga

            Setelah mendapat penghargaan tersebut, Cik Me Me bertekad untuk terus melakukan inovasi terhadap masakan lumpia hingga bisa diterima oleh dunia internasional.

            Tidak hanya berhenti hingga penghargaan saja, Meilani alias Cik Me Me juga dipercaya menjadi salah satu wakil Kamar Dagang dan Industri kota Semarang.

            Mengganti nama Lumpia Delight menjadi Lumpia Cik Me Me

            Pada waktu awal ditugaskan meneruskan usaha lumpia, tidak terpikirkan oleh Meilani untuk merubah nama usahanya.

            Sang ayah Tan Yok Tjay melalui sentuhan tangan dinginnya telah berhasil mempertahankan restoran lumpia keluarga bertahan sebagai restoran lumpia nomor satu di Semarang.

            Usaha lumpia yang diberi nama delight yang berarti menyenangkan dianggap sang ayah cukup tepat untuk menggambarkan lumpia buatannya tersebut.

            Meski memiliki maksud yang jelas dibalik penamaan Delight, Meilani pada akhirnya tetap merubah nama usahanya setelah diberi saran oleh pejabat yang berkunjung.

            baca juga

            Sang pejabat menganggap bahwa penamaan berbahasa Inggris tidak sesuai dengan karakteristik lumpia yang berasal dari Indonesia.

            Akhirnya Meilani memutuskan untuk merubah nama usaha warisan sang ayah menjadi Lumpia Ciik Me Me yang merupakan nama panggilannya.

            Keputusan pergantian nama sendiri sebetulnya bukan hal yang mudah bagi bisnis manapun.

            Resiko yang muncul bisa berupa hilangnya persepsi konsumen yang sudah telanjur melekat kepada merek yang lama.

            Namun berkat kepiawaiannya menentukan strategi rebranding dan kemampuan kepemimpinannya yang mumpuni, ia berhasil mengeksekusi rencana pergantian nama dengan baik.

            Meilani membutuhkan waktu selama 2 tahun untuk dapat merubah total merek usahanya sesuai dengan kalkulasi yang ia lakukan bersama manajemen.

          • Bisnis Tas Kain Perca

            ukms.or.id/ – Menjadi pengusaha artinya siap untuk mengaukms.or.id/l peluang sekecil apapun dari ide atau hal yang tidak terduga.

            Seperti misalnya apa yang dilakukan oleh Leony Nelwan ketika memulai usaha tote bag yang sedang ngetrend di kalangan milenial.

            Berawal dari sebuah kreativitas yang berbaur dengan ketidaksengajaan, Leony berhasil memberi nilai lebih kepada tote bag buatannya dengan tambahan kain perca sisa.

            Ide bisnis memakai kain perca sendiri berawal dari kegemarannya menambahkan kain perca kepada celana buatannya.

            Berkat permintaan temannya untuk menambal pakaian dengan kain perca menggunakan teknik Sashiko, ia pun terinpirasi untuk membuat produk dengan teknik yang sama.

            Bertumpu pada Kemampuan Menjahit

            Sashiko adalah teknik menjahit ala Jepang yang sudah dipraktekkan sejak tahun 1600-an silam.

            Teknik ini sendiri dimaksudkan untuk memberikan tambahan kain kepada pakaian yang sudah usang dengan berbagai motif tradisional.

            Pada masa lampau, Sashiko lazimnya dilakukan hanya dengan kain berwarna biru dengan benang kapas berwarna putih.

            Leony Nelwan mengaku pada awalnya hanya menjadikan kegiatan menjahit dengan teknik Sashiko sebagai kegemaran belaka.

            Ia pun banyak menerima permintaan yang untuk mengaplikasikan teknik ini kepada barang-barang milik temannya dan menjadikannya pekerjaan sampingan.

            Namun rumitnya teknik Sashiko  menjadikannya kewalahan untuk melayani pekerjaan menjahit Sashiko.

            Bisnis Tas Kain Perca Leony Nelwan, Berawal dari Keisengan Menjahit Celana Bekas

            Leony harus berterima kasih kepada salah seorang temannya yang menyarankan untuk membuat produk sendiri alih-alih menerima pesanan menjahit.

            Alasan utamanya adalah Leony dapat mengembangkan varian motif sendiri dan lebih memiliki fleksibilitas waktu dalam melakukan pengerjaan.

            Selain itu produk tersebut juga tentunya dapat langsung dipasarkan alih-alih hanya menjahit untuk orang lain.

            Tanpa pikir panjang, Leony pun mengaukms.or.id/l ide tersebut karena tidak banyak orang mau menekuni produk jahitan ala Sashiko.

            Untuk memulai bisnis ini , Leony tidak sampai harus memerlukan modal yang teramat besar

            Selain mengandalkan kemampuan menjahitnya, Leony hanya mengeluarkan modal sebesar 3 juta rupiah yang digunakan untuk mendapatkan alat-alat produksi.

            Sementara kain perca hasil sisa produksi sebagai bahan baku justru didapat dari bahan-bahan sisa produksi pabrik.

            Hasilnya  selain mampu memproduksi tote bag yang modis, Leony juga mampu menyulap kain perca menjadi slingbag dan clutch bag.

            baca juga kategory

            Berkah Momentum Diet Plastik

            Untuk mendapatkan perhatian pasar, suatu produk harus mampu memanfaatkan momentum yang tepat.

            Bagi industri tas berbahan kain perca, salah satu momentum yang dapat dimanfaatkan adalah menguatnya wacana diet plastik.

            Wacana diet plastik dimaksudkan oleh pemerintah untuk mengurangi laju volume sampah hasil dari aktivitas rumah tangga. Melalui beleid, pemerintah sudah menetapkan kantong plastik wajib dikenakan biaya sebagai upaya pengurangan sampah plastik.

            Dengan adanya pengenaan kantong plastik berbayar, ada potensi bahwa masyarakat akan beralih menggunakan tas ramah lingkungan termasuk yang berbahan kain perca.

            Salah satu hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan momentum ini adalah bagaimana para pelaku industri tas kain perca menyiapkan strategi pengenalan kepada masyarakat.

            Seperti yang dilakukan oleh pengusaha UKM Kain Perca Pelangi Nusa yang banyak menyiapkan banyak motif untuk menarik pelanggan di awal momentum wacana diet plastik.

            Sejauh ini pengaruh konkret yang didapat oleh salah satu pelaku usaha kain perca ini adalah kenaikan penjualan hingga mencapai 300 buah perbulan.

            baca juga

              Sudah Menjadi Bahan Berkelas

              Tidak hanya dapat menjadi tote bag ataupun tas dalam bentuk lainnya, kain perca juga dapat masuk hingga ke acara Fashion Show.

              Adalah Lenny Agustin seorang perancang busana yang “nekat” menggunakan kain perca sebagai bahan busana buatannya.

              Karya yang dijelaskan panjang lebar dalam buku Java Doll ini banyak memadukan motif khas kain perca dengan kain tradisional seperti batik dan lurik,

              Bahkan tak segan-segan Lenny mengerahkan usaha ekstra demi mengolah kain perca agar sesuai dengan busana keinginannya.

              Lenny sampai harus rela melakukan pengerjaan mulai dari pemotongan, pengisian kain perca dengan sumbu kompor hingga dijahit untuk mendapatkan motif yang unik. Dengan aksesoris kain perca tersebut, Lenny akhirnya menghasilkan sebuah kebaya dengan koukms.or.id/nasi gaya pakaian cheongsam dan rok yang juga terbuat dari kain perca.

              Lenny menganggap bahwa sejatinya kain perca dapat berperan banyak dalam membentuk industri mode di Indonesia karena keberadaannya yang melimpah.

              Sarat dengan Nilal Pemberdayaan Masyarakat

              Pemanfaatkan kain perca dari bentuk limbah menjadi barang industri yang bernilai ekonomi telah menjadi ujung tombak dari pemberdayaan masyarakat.

              Pertamina melalui salah satu unit usahanya Pertamina-Petrochina joint Body East Java melaksanakan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) dengan memberdayakan masyarakat sekitar wilayah pengeboran

              Para Warga mulanya diberi edukasi mengenai manfaat dan nilai ekonomi dari kain perca yang selama ini banyak dibuang saja oleh warga.

              baca juga

              Bersama dengan sekitar 20 orang warga setempat, para pelaksana kegiatan memberi pelatihan pemanfaatan kain perca yang akan dimanfaatkan menjadi baju, tas , hingga perabotan rumah.

              Hasilnya para warga mampu menghasilkan produk produk seperti sarung bantal, sarung guling, seprai dan tutup galon yang bisa dijadikan sumber penghasilan.

              Barang-barang ini kemudian akan diarahkan untuk masuk ke pasar-pasar ekspor seperti Thailand, Jepang, dan Australia oleh komunitas Pelangi Nusantara.

              Selain itu  industri berbasis kerajinan seperti industri kain perca yang merupakan industri padat karya yang dapat menyerap tenaga kerja.

              Di Lampung misalnya, warga desa Pekon Sukamulya di Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung sangat menggantungkan harapannya kepada industri berbasis kain perca demi lahan pekerjaan.

              Ketika dijabarkan dengan angka, maka persentase penduduk pekerja industri tas kain perca berbanding jumlah penduduk mencapai angka 36,67% atau sekitar 361 orang.

            • Kebab Pisang Pusing

              ukms.or.id/ – UMKM merupakan tulang punggung penting bagi penggerak ekonomi dan penyedia lapangan kerja di Indonesia meski pemerintah kerap mengundang investasi asing untuk masuk.

              Menurut Center for Indonesian Policy Studies Pingkan Audrey Kosijungan, UMKM telah berkontribusi menyerap sebesar 96,87% dari total angkatan kerja yang ada di Indonesia. Namun meskipun sering diasosiasikan dengan usaha kecil-kecilan, nyatanya tetap dibutuhkan perjuangan yang tidak mudah untuk membesarkan UKM agar dapat naik kelas.

              Adalah Ida Amarwati, salah seorang pejuang UMKM berusia 29 tahun yang sudah merasakan pahit manisnya berwirausaha.

              Bersama suaminya, Ida mendirikan UMKM dengan nama Pisang Pusing yang menjual aneka penganan dengan bahan dasar yang dikreasikan dari pisang.

              Memulai dari nol, kini Ida berhasil mengibarkan merek Pisang Pusing di berbagai daerah di Indonesia dengan sistem kemitraan yang mayoritas berada di Pulau Jawa.

              Kisah Jatuh Bangun Ida

              Ida Amarwati sudah menekuni usaha UKM sejak dirinya belum menikah.

              Pada tahun 2015, Ida memulai peruntungannya dalam berwirausaha dengan mencoba berdagang spaghetti yang familliar dengan masyarakat kota besar.

              Karena merupakan percobaan pertama, usaha menjual Spaghetti milik Ida gagal melangkah lebih jauh karena kurang disukai oleh para pembeli.

              Tidak patah arang Ida bersama dengan calon suaminya, Mohammad Lukman Ikhwan kembali merintis usaha berdagang nasi bebek dengan nama “bebek air mata”.

              Belajar dari kesalahan sebelumnya, Ida mencoba untuk memperbaiki beberapa aspek penting dalam berbisnis.

              Ida Amarwati, Pejuang Tangguh UMKM yang Berhasil Membesarkan Kebab Pisang Pusing

              Berbagai langkah seperti memperbaiki alat promosi, menemukan lokasi berdagang yang tepat, hingga mencoba memilah bahan baku yang berkualitas.

              Usaha ini kemudian gugur lagi karena dicurangi peternak bebek yang suatu hari menjual bebeknya kepada calon pembeli yang membayar lebih mahal.

              Ida yang sudah merasa terpukul karena kejadian ini juga harus menerima cibiran dari tetangga.

              Belum habis air matanya mengering karena kegagalannya di usaha nasi bebek, Ida kembali mencoba berusaha kali ini menjual serundeng Madura.

              Usaha kali ini sebetulnya sempat menemui titik terang karena berhasil menarik perhatian konsumen namun ada satu hal yang membuatnya urung melanjutkan usaha ini.

              Proses pengerjaan yang menguras baik waktu maupun tenaga ternyata tidak sebanding dengan keuntungan yang didapat.

              Alhasil bisnis ini kemudian tidak dilanjutkan.

              Meski berkali-kali gagal dan berhenti, Ida mencoba tegar dalam jalan berwirausaha.

              Kali ini ia mencoba berjualan di bazaar yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Surabaya, kali ini dengan membawa produk kebab yang berisi buah-buahan.

              Memiliki kepribadian yang optimis membuatnya iya yakin bahwa keberhasilan akan menghampirinya kali ini.

              Meski akhirnya tidak cukup laku, Ida justru mendapatkan pencerahan dari kegagalannya kali ini

              Berkat keisengannya, ia berhasil menemukan resep berupa kebab berisikan pisang cokelat keju.

              Dengan sisa modal terakhir yang dimilikinya, ia bertaruh untuk kembali membuka warung dan menjajakan kebab kreasi terbarunya itu.

              Kebab yang dinamakan Pisang Pusing ini akhirnya berhasil mereguk kesuksesan dengan mendatangkan pembeli hingga 100 orang hanya pada minggu pertamanya.

              baca juga artikel kategori

              Mengembangkan Bisnis

              Tidak puas dengan keberhasilannya di masa awal, Ida terus menerus berupaya membesarkan Pisang Pisung bersama pasangan yang kini sudah jadi menjadi suaminya.

              Hanya dalam waktu beberapa minggu setelah pembukaan usaha pertamanya, Ida sudah berhasil menerima orderan delivery dari berbagai wilayah di Surabaya.

              Meski begitu Ida masih melakukan berbagai kegiatan mulai dari membeli bahan baku, produksi, hingga berjualan secara swadaya bersama dengan suaminya.

              Bahkan dalam waktu beberapa bulan, Ida sudah berhasil menarik minat orang banyak untuk membuka kemitraan dari pisang hasil buatannya.

              Beberapa peminat tersebut tersebar mulai dari wilayah Surabaya-Sidoarjo dan sekitarnya hingga lintas provinsi seperti Slawi, Semarang, Tegal , Kudus dan Denpasar.

              Demi mengorganisasi dan memperkuat bisnisnya, Ida sampai rela belajar diigital marketing untuk membuat website untuk mengakomodasi para calon mitra.

              Selain itu belajar dari kegagalannya berbisnis pada masa lampau, ia juga sampai berinovasi dengan membuat kebab pisang yang dioven yang diberi nama Wan Kodir.

              Ida menargetkan bahwa kebab pisang yang dioven ini bisa dikirim hingga ke luar Pulau Jawa.

              Untuk mendukung pengiriman kebab pisang ovennya, Ida juga mengaku selektif dalam menentukan kemasan food grade hingga kurir pengirim yang dapat dipercaya.

              Meski sudah cukup berkembang, Ida mengaku tidak pernah lepas perhatian dari bisnis yang dijalankannya.

              Ida mengaku masih berhasrat untuk terus membesarkan usahanya hingga dikenal di seluruh Indonesia.

              baca juga

                Terus Menambah Ilmu

                Bagi Ida, berbisnis artinya siap untuk menghadapi kondisi pasar yang berubah-ubah.

                Untuk itu menjadi sangat penting bagi para Ida untuk terus meningkatkan ilmunya ke tingkat yang lebih tinggi.

                Dalam berbagai kesempatan, Ida kerap bergabung dalam seminar-seminar kewirausahaan yang banyak membahas mengenai perkembangan UKM terkini.

                Dari berbagai seminar-seminar kewirausahaan tersebut, Ida berhasil mendapatkan banyak ilmu untuk berhasil mengembangkan bisnisnya.

                Misalnya, Ida dan sang suami mendapat pelajaran langsung bagaimana caranya membuat logo brand untuk bisnis mereka dari berbagai kegiatan tersebut.

                Tidak lupa ia juga mengikuti program inkubasi pengusaha yang diadakan oleh Pemkot Surabaya.

                Melalui program inkubasi yang bernama Pejuang Muda Surabaya ini, Ida mendapatkan banyak kemudahan seperti dalam hal mengurus izin usaha.

                baca juga

                Rajin Bersyukur

                Sebagai orang yang Taat beribadah, Ida dan Lukman mengaku bahwa rejeki mendirikan Kebab Pisang Pusing merupakan pemberian Tuhan.

                Sebelum meraih sukses, Lukman dan Ida mengaku selalu memperbanyak doa dan salat untuk memohon dibukakan pintu berkat.

                Ida mengaku sangat bersyukur terutama ketika usahanya sangat diterima di ranah online.

              • Kaywoodwatch, Jam Tangan asal Pandeglang tembus pasar Afrika

                Jam Tangan pada dasarnya dipakai sebagai penunjuk waktu di kala berada di luar ruangan. Seiring dengan perkembangan zaman, jam tangan pun bertransformasi sebagai aksesoris untuk memperlengkapi penampilan.

                Terlanjur identik dengan Swiss sebagai negara penghasil jam tangan terbaik di dunia, Ibu Rizki Febriana tak gentar untuk memproduksi jam tangan kualitas tinggi yang diproduksi di Indonesia.

                Dengan mengusung nama Kaywoodwatch, Rizki Febriana mencoba mempelopori industri jam tangan kayu eksotis dari sebuah kampung di Pandeglang.

                Bermula dari Workshop pribadi

                Pengalaman Ibu Rizki Febriana di dunia jam tangan memang tidak main-main. Bersama dengan almarhum suaminya, Rizki Febriana telah berpengalaman menerima pesanan pembuatan jam tangan milik brand lain.

                Beberapa brand jam tangan lokal seperti Matoa, Woodka dan Pala Nusantara pernah menjadi klien dari workshop milik Rizki dan almarhum suaminya.

                 Bertekad untuk memiliki bisnis jam tangan eksotis sendiri, sang almarhum suami bersikukuh untuk merancang prototype jam tangan.

                Tak sempat selesai karena sang suami tutup usia, Rizki kemudian bertekad untuk menyelesaikan prototipe jam tangan tersebut.

                Didorong motivasi untuk meneruskan permintaan terakhir sang suami, Rizki beserta dengan staf workshop-nya berhasil menyelesaikan prototype tersebut. Prototype jam tangan tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal daripada Kaywoodwatch nantinya.

                Demi memodali pendirian Kaywoodwatch, Rizky menyempatkan diri untuk menerima pesanan jam tangan brand lain.

                Untuk penyempurnaan produksi, Rizky juga membangun program Computer Numerical Control sebagai penggerak mesin jam tangan.

                Bu Rizky juga rela memindahkan workshopnya yang berada di Bandung menuju kampungnya yang berada di Pandeglang. Di Pandeglang inilah Kaywoodwatch resmi memulai produksinya.

                Sebagai produk yang dimaksudkan untuk pasar premium, Kaywoodwatch pun melakukan penyesuaian di bahan baku.

                Untuk bahan baku kayu sebagai material utama dari jam tangan, Ibu Rizki hanya menggunakan jenis kayu yang terbilang langka seperti Jati, Sonokeling, hingga kayu Maple.

                Sebelumnya bu Rizki juga menjadikan kayu Eboni sebagai salah satu bahan utama, namun dihentikan karena kesulitan mendapat barang.

                Selain memproduksi jam tangan kayu untuk memenuhi kebutuhan pasar, Kaywoodwatch juga melayani pembuatan jam kustom.

                Beberapa layanan kustom yang dapat dipenuhi oleh Kaywoodwatch mencakup pembuatan grafir nama, logo, bahkan hingga wajah sang pemesan.

                Disenangi oleh Turis Mancanegara

                Menyadari daerah Pandeglang bukan pasar yang cocok untuk jam tangan kayu premiumnya, Bu Rizky pun mengandalkan penjualan dan pemasaran secara daring.

                Namun justru keputusan Bu Rizky untuk fokus pada kanal daring berbuah manis. Faktanya, jam tangan Kaywoodwatch justru menjadi tersohor hingga di kalangan pejabat.

                Selain pejabat, karya Rizki Febriana nyatanya juga turut disenangi oleh kalangan artis nasional, “Pernah diboyong juga sama A’a Irfan Hakim dan Teh Deswita (Maharani)”.  

                Di luar pemesan dari kalangan pejabat dan artis, jam tangan ini sudah pernah dipesan dari seluruh wilayah Indonesia kecuali Aceh dan Papua.

                Yang lebih membanggakan, Jam tangan kayu Kaywoodwatch juga berhasil menarik minat kolektor jam kayu yang berasal dari Afrika.

                Para kolektor jam kayu tersebut bahkan langsung mendatangi galeri Kaywoodwatch untuk melakukan pemesanan. Tidak hanya kolektor asal Afrika, jam tangan Kaywoodwatch juga menjadi buruan dari penyuka kerajinan asal Korsel, Jepang, dan Belanda.

                Persaingan Ketat sebagai Salah Satu Kendala

                Seperti contoh jam tangan kayu dengan merek Bobo Bird asal Tiongkok hanya dibanderol seharga 500 ribu rupiah saja.

                Meski telah berhasil mengekspor jam tangan kayu hingga ke Afrika, bukan berarti Kaywoodwatch tidak menghadapi kendala. Salah satu kendala yang dihadapi oleh Rizki dalam menjalankan Kaywoodwatch adalah gempuran para pesaing.

                Diakui oleh Rizki, salah satu pesaing terberat dalam industri ini berasal dari China. Merek asal negeri tirai bambu yang mengadopsi strategi pricing agresif turut mempengaruhi volume penjualan  Kaywoodwatch.

                Bahkan demi menjaga kualitas agar tidak terpengaruh, Rizki Febriani terpaksa  mengubah strategi penjualan dari berbasis massal menjadi berbasis pesanan.

                Selain menghadapi persaingan keras, Rizki juga mengaku dipusingkan dengan belum memadainya tenaga kerja yang tersedia.

                Menurut Rizki, kualitas tenaga kerja lokal masih belum dapat memenuhi standar produksi jam tangan kayu miliknya. Oleh karena itu Ia berharap bantuan pemerintah dan otoritas UKM untuk membantunya dalam hal pelatihan SDM.

                Perkembangan Usaha Kaywoodwatch dan Jam Tangan Kayu Secara Keseluruhan

                Sebetulnya banyak yang memprediksi bahwa jam tangan kayu tidak akan berkembang menjadi industri yang menguntungkan.

                Diperkirakan bahwa perkembangan teknologi berupa jam digital hingga smartwatch akan menggerus habis eksistensi jam tangan analog. Bahkan ada studi yang mengatakan bahwa jam tangan analog akan bernasib sama dengan Compact Disc.

                Namun faktanya jam tangan kayu justru mendapat apresiasi dari masyarakat luas. Dengan mengusung kesan yang eksotis jam tangan kayu justru dapat membalikkan prediksi bahwa masa jam tangan analog telah habis.

                Jurnal Sains dan Seni Institut Seni Surabaya Volume 5 no 2 tahun 2016 karya Adit Widya Pradipta dan Baroto Tavip menuliskan bahwa jam tangan kayu bahkan turut merambah kelompok generasi X dan generasi Z yang banyak bersinggungan dengan gawai modern.

                baca juga

                  Untuk Kaywoodwatch sendiri dengan banderol mulai dari 700 ribu hingga 1 juta rupiah, Kaywoodwatch mampu melakukan penjualan hingga  30 buah perbulannya.

                  Hanya saja angka ini jauh lebih kecil dibandingkan ketika workshop Kaywoodwatch masih berada di Bandung.

                  Meski begitu, Rizki tetap optimis industri ini memiliki celah untuk tumbuh. Kesan luwes dan hangat yang ditampilkan oleh jam tangan kayu diharapkan akan menjadi daya tarik bagi pemakainya.