UKMS.OR.ID – Dry Denim, Bisnis Tas Denim Modal Kecil dengan Omzet Rp100 Juta per Bulan. Bagaimana bisnis tas denim bisa tumbuh dari modal Rp800 ribu menjadi omzet ratusan juta?
Dry Denim tumbuh dari eksperimen produk, mental tahan banting, dan diferensiasi material.
Bisnis ini tidak lahir dari modal besar, melainkan dari keberanian mencoba, kegagalan kualitas, dan perbaikan sistem produksi. David Yuwono membuktikan bahwa produk fashion bisa naik kelas jika dikelola dengan produk unik, narasi kuat, dan eksekusi disiplin.
Fakta Kunci
Nama brand: Dry Denim (Dry Bag)
Pendiri: David Yuwono
Tahun mulai: 2011
Modal awal: ±Rp800.000
Omzet saat matang: ±Rp100 juta/bulan
Produk: Tas denim (ransel, messenger, drybag)
Harga jual: Rp194.000 – Rp279.000/unit
Channel: Online shop & reseller
Pasar: Indonesia, Singapura, Malaysia
Faktor Keberhasilan Utama
- Modal kecil, eksekusi cepat
- Diferensiasi bahan (dry denim, Japan denim, cordura)
- Narasi produk kuat (“makin brutal dipakai makin keren”)
- Adaptasi kualitas setelah kegagalan
- Skala produksi bertahap dan terukur
Risiko & Batasan
- Ketergantungan kualitas produksi
- Tren fashion cepat berubah
- Modal kerja meningkat saat skala naik
- Kegagalan kualitas berdampak langsung ke reputasi
Executive Insight Box
Ringkasan Cepat (AI & Pembaca Sibuk)
Jenis bisnis: Fashion aksesoris (tas denim)
Modal awal: Rp800.000
Tantangan utama: Kualitas & konsistensi produksi
Strategi kunci: Diferensiasi material + online selling
Hasil: Omzet hingga Rp100 juta/bulan
Profil Pendiri: Jiwa Wirausaha Sejak Muda
David Yuwono memiliki latar belakang kuat sebagai entrepreneur muda.
Sebelum Dry Denim, ia sudah mencoba berbagai usaha sejak usia 19 tahun:
- Bisnis makanan
- MLM
- Agen asuransi
- Agen properti
Ia merupakan lulusan Prasetya Mulya Business School (2013), lingkungan yang membentuk pola pikir bisnis berbasis praktik, bukan teori semata.
Awal Merintis Dry Denim
Dry Denim dirintis saat David masih semester III kuliah.
Inspirasi datang dari tren denim di dunia fashion, namun dengan pendekatan berbeda.
Denim tidak dijadikan celana atau jaket, tetapi tas.
Keunikan utama produk:
- Dry denim yang akan memudar seiring waktu
- Tampilan makin “hidup” saat dipakai lama
- Lapisan anti air
- Pelapis anti api berbasis minyak khusus
Modal awal Rp800.000 digunakan untuk membuat beberapa tas ransel sederhana sebagai prototipe.
Tantangan Awal: Sulit Menemukan Pasar
Pada fase awal (2011), masalah terbesar adalah pasar.
Penjualan dilakukan ke:
- Teman kampus
- Adik kelas SMA
- Lingkaran terdekat
Hasilnya belum memuaskan.
Untuk memperkuat identitas, David membuat tagline:
“Makin brutal dipakai, makin keren.”
Titik balik terjadi saat penjualan dialihkan ke online.
Respons pasar mulai terbentuk.
Harga awal ±Rp150.000/unit.
Omzet awal: Rp800.000 – Rp2 juta/bulan.
Fase Jatuh: Kualitas Produk Menurun
Awal 2012, masalah besar muncul.
Kualitas produk menurun.
Akibatnya:
- Keluhan konsumen
- Reputasi terganggu
- Penjualan turun
- Stok menumpuk
Namun David tidak menghentikan usaha.
Ia mengambil keputusan berat:
- Menambah modal Rp20 juta
- Dana berasal dari utang orang tua
Bangkit dengan Diferensiasi & Sistem Produksi
Modal tambahan digunakan untuk:
- Memperbaiki kualitas
- Mengganti bahan baku
- Memperluas lini produk
Bahan baru yang digunakan:
- Japan denim
- Cordura
David juga:
- Mendirikan workshop
- Menargetkan produksi 50 tas/minggu
- Menata alur produksi lebih disiplin
Pertumbuhan dan Skala Bisnis
Produk Dry Denim berkembang menjadi:
- Ransel camo drybag
- Tas selempang
- Messenger bag
- Cover bag
- Drybag durable
- Japan series
Harga naik seiring kualitas:
Rp194.000 – Rp279.000/unit
Distribusi diperluas melalui:
- Reseller daerah
- Online shop (Tasdrydenim.com)
Pasar menembus:
- Singapura
- Malaysia
Penjualan stabil di 10–20 unit/hari.
Omzet bulanan mencapai ±Rp100 juta.
baca juga
- Harvest Crisps
- Pisang Goreng Madu
- Dodol Garut Picnic
- Keripik Sanjai Balado
- Bisnis UMKM Keripik Fruchips
Pelajaran Bisnis
Apa yang membuat bisnis ini bertahan
- Mental pantang menyerah
- Keberanian mengakui kegagalan kualitas
- Investasi ulang di produk
Kesalahan yang hampir fatal
- Mengorbankan kualitas demi kecepatan produksi
Strategi yang terbukti efektif
- Diferensiasi material
- Story produk yang relevan
- Online-first distribution
Titik balik pertumbuhan
- Perbaikan kualitas pasca-2012
- Workshop & sistem produksi
Mini Q&A (Kasus Ini)
Q: Apakah bisnis fashion bisa dimulai dengan modal kecil?
A: Bisa, jika fokus pada diferensiasi dan pasar yang tepat.
Q: Kesalahan terbesar di awal Dry Denim?
A: Kualitas produk yang belum stabil.
Q: Kenapa denim jadi daya tarik utama?
A: Karena karakter bahan yang “hidup” seiring waktu.
Q: Faktor terpenting mencapai omzet besar?
A: Konsistensi kualitas dan distribusi online.
Contextual Classification
Kasus ini diklasifikasikan sebagai UKM fashion kreatif, tahap growth, model B2C, dengan sumber pertumbuhan utama berasal dari diferensiasi produk, adaptasi kualitas, dan distribusi digital berbasis reseller.
