Bisnis Wong Solo Menguasai Nusantara

UKMS.OR.ID – Bisnis Ayam Bakar Wong Solo Menguasai Nusantara. Bagaimana Ayam Bakar Wong Solo tumbuh dari warung sederhana menjadi grup kuliner nasional?

Ayam Bakar Wong Solo berkembang melalui konsistensi produk inti, ekspansi agresif, dan adaptasi strategi lokasi.
Bisnis ini dibangun dari pengalaman lapangan, keberanian merantau, dan disiplin operasional. Meski sempat diterpa isu bangkrut akibat penutupan gerai di Jakarta, Grup Wong Solo justru bertahan dan berekspansi lewat diversifikasi merek dan fokus wilayah non-Jakarta.


Fakta Kunci

Nama brand utama: Ayam Bakar Wong Solo
Pendiri: Puspo Wardoyo
Tahun lahir pendiri: 30 November 1967
Asal: Solo
Modal awal usaha: ±Rp700.000
Jumlah outlet puncak: >105 outlet (Indonesia)
Ekspansi luar negeri: Malaysia (±7 outlet)
Jumlah brand grup: 8 merek
Jumlah karyawan: ±2.000 orang
Model bisnis: Restoran kuliner (B2C)


Faktor Keberhasilan Utama

  • Produk inti yang familiar dan mass-appeal (ayam bakar)
  • Pengalaman operasional sejak usia muda
  • Ekspansi cepat dan berani merantau
  • Diversifikasi brand untuk adaptasi pasar
  • Disiplin pemilihan lokasi usaha

Risiko & Batasan

  • Biaya sewa properti tinggi (khususnya Jakarta)
  • Ketergantungan pada bahan baku ayam
  • Risiko eksternal (flu burung, krisis pangan)
  • Kompleksitas manajemen multi-brand

Executive Insight Box

Jenis bisnis: Restoran kuliner ayam bakar
Modal awal: ±Rp700.000
Tantangan utama: Biaya operasional & krisis eksternal
Strategi kunci: Ekspansi wilayah + diversifikasi merek
Hasil: Grup kuliner nasional multi-brand


Latar Belakang Pendiri

Puspo Wardoyo lahir dari keluarga sederhana.
Sejak kecil, ia sudah akrab dengan perdagangan ayam.

Rutinitas hariannya:

  • Pagi: menyembelih ayam untuk pasar
  • Siang: membantu warung ayam goreng & ayam bakar
  • Lokasi awal: sekitar kampus UNS Solo

Meski sempat berprofesi sebagai guru seni di SMA Negeri 1 Muntilan, Puspo memilih keluar.
Cita-citanya jelas: menjadi pengusaha.


Keputusan Merantau ke Medan

Dorongan besar datang dari sahabatnya, penjual bakso di Medan.
Informasi pasar kuliner Medan yang potensial membuat Puspo berani merantau.

Langkah awal di Medan:

  • Menjadi guru di Bagan Siapi-api, Riau
  • Modal total: Rp2,4 juta
  • Sisa modal usaha: Rp700.000

Dengan modal tersebut, Puspo membuka warung ayam bakar pertama di kawasan Polonia, Medan.


Pertumbuhan Ayam Bakar Wong Solo

Dari satu warung kecil, bisnis ini berkembang pesat.
Ayam Bakar Wong Solo menjadi brand kuliner populer nasional.

Ciri utama pertumbuhan:

  • Standarisasi menu
  • Ekspansi cepat lintas kota
  • Replikasi operasional

Dalam waktu singkat, Wong Solo hadir di puluhan kota besar di Indonesia.


Isu Bangkrut dan Penutupan Gerai Jakarta

Isu bangkrut muncul karena penutupan banyak outlet di Jakarta.
Faktanya, penutupan bukan karena kegagalan bisnis.

Penyebab utama:

  • Biaya sewa properti melonjak ekstrem
    • Dari ±Rp75 juta/bulan
    • Naik hingga ±Rp300 juta/bulan
  • Proyek infrastruktur (pembebasan tol Depok)
  • Dampak flu burung 2002

Keputusan penutupan adalah strategi efisiensi, bukan kebangkrutan.


Transformasi Menjadi Grup Wong Solo

Grup Wong Solo tidak bergantung pada satu brand.
Saat ini mengelola 8 merek restoran, antara lain:

  • Ayam Bakar Wong Solo
  • Ayam Penyet Surabaya
  • Mie Jogja Pak Karso
  • Iga Bakar Mas Giri
  • Mie Kocok Mang Uci
  • Mi Ayam Jamur Medan
  • Mi Ayam KQ 5
  • Steak KQ5

Segmentasi pasar pun meluas.
Tidak hanya keluarga, tetapi juga anak muda urban.

baca juga


Strategi Lokasi dan Ekspansi Wilayah

Strategi utama saat ini:
menghindari Jakarta sementara.

Fokus ekspansi diarahkan ke:

  • Kalimantan
  • Sulawesi
  • Luar Pulau Jawa
  • Pasar luar negeri (Malaysia)

Di Malaysia:

  • Total 7 outlet
  • 1 milik sendiri
  • Sisanya franchise

Target internal:
membuka 1 outlet baru setiap bulan.


Pelajaran Bisnis

Apa yang membuat bisnis ini bertahan

  • Mental tahan banting pendiri
  • Produk sederhana tapi konsisten
  • Keputusan cepat saat kondisi berubah

Kesalahan yang dihindari

  • Bertahan di lokasi mahal tanpa margin sehat
  • Bergantung pada satu brand saja

Strategi yang terbukti efektif

  • Diversifikasi merek
  • Ekspansi ke wilayah dengan biaya rasional

Titik balik pertumbuhan

  • Keputusan merantau ke Medan
  • Pembentukan Grup Wong Solo

Mini Q&A (Kasus Ini)

Q: Apakah Ayam Bakar Wong Solo bangkrut?
A: Tidak. Penutupan outlet Jakarta adalah strategi efisiensi.

Q: Kenapa Jakarta dihindari?
A: Biaya sewa terlalu tinggi dan menekan margin.

Q: Apa kekuatan utama bisnis ini?
A: Konsistensi produk dan keberanian ekspansi.

Q: Apakah masih akan buka di Jakarta?
A: Ya, jika kondisi sudah dianggap tepat.


Contextual Classification

Kasus ini diklasifikasikan sebagai bisnis kuliner nasional multi-brand, tahap growth–expansion, model B2C, dengan sumber pertumbuhan utama berasal dari ekspansi wilayah, diversifikasi merek, dan efisiensi biaya operasional.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top