https://ukms.or.id Kasus Pajak Multinasional di Indonesia: Drama Panjang, Skema Rumit, dan Negara yang Gak Mau Kalah
Lo pernah denger gak cerita lama soal perusahaan raksasa asing yang cuannya gila-gilaan di Indo, tapi bayar pajaknya tipis-tipis doang, bahkan ada yang nyaris kayak gratisan? Ya, itu bukan sekadar rumor tongkrongan atau meme “pajak rakyat kecil ketat, pajak korporasi gede bocor”. Itu fakta keras yang udah berkali-kali bikin pemerintah kita pusing tujuh keliling.
Oke, kita mundur dikit ke belakang. Indonesia, sejak era Orde Baru sampe reformasi, basically selalu jadi surga buat investor asing. Resource melimpah, market gede, tenaga kerja murah. Tapi masalah klasiknya: duit gede yang muter di sini, ujung-ujungnya banyak kabur ke luar negeri lewat skema-skema akuntansi tingkat dewa. Bahasa kerennya: Base Erosion and Profit Shifting (BEPS).
Multinasional = Pajak Tipis, Laba Kabur
Konsepnya sederhana. Misal, ada perusahaan X dari Eropa yang buka cabang di Indonesia. Mereka jual produk ke konsumen Indo, omzet gede, tapi pas lapor pajak, eh kok rugi? Nah, di situlah trik main. Mereka biasanya bikin biaya transfer pricing: ngebayar royalti ke perusahaan induk, beli bahan baku overpriced dari afiliasi luar negeri, atau bikin jasa manajemen fiktif. Alhasil, laporan keuangan cabang Indo tipis, pajak pun kecil. Laba asli? Udah diparkir manis di negara suaka pajak (tax haven) kayak Singapura, Belanda, atau Virgin Islands.
Lo kira ini teori konspirasi? Nope. Ada case real. Salah satunya kasus Google di Indonesia tahun 2016. Pemerintah ngeklaim Google Indonesia cuma bayar pajak kurang dari 0,1% dari total pendapatan. Padahal revenue mereka di Indo udah nyentuh triliunan. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) waktu itu sempet ngamuk dan nuntut Google bayar pajak sampai Rp5,2 triliun. Drama ini lumayan panjang dan jadi headline di banyak media.
Bukan cuma Google. Ada juga kasus Unilever Indonesia. Tahun 2007, DJP pernah menuding perusahaan consumer goods raksasa itu ngatur laba lewat transfer pricing dengan anak usaha di Singapura. Kasusnya naik sampe ke Mahkamah Agung. Dan jangan lupa Starbucks. Kedai kopi ini juga pernah disorot karena skema pajaknya dianggap “mengalir keluar”.
Kok Bisa Bocor Begitu?
Pertanyaannya, kenapa multinasional bisa seenaknya gitu? Pertama, karena hukum internasional soal pajak emang ribet. Double Tax Agreement (DTA) bikin perusahaan bisa milih bayar pajak di negara mana. Kedua, kapasitas pengawasan Indonesia masih kalah dibanding raksasa konsultan global yang bantuin multinasional bikin skema. Lo tau lah, ada “Big Four” accounting firm (PwC, EY, Deloitte, KPMG) yang basically jago banget bikin struktur pajak low profile tapi sah secara hukum.
Selain itu, sistem digital bikin revenue susah ditrace. Misalnya, Google jual iklan ke klien di Indo, tapi billing-nya dikirim dari Singapura. Secara legal, itu dianggap transaksi luar negeri, jadi Indo gak kebagian pajak besar. Makanya dulu Menteri Keuangan Sri Mulyani sempet nyindir: “Mereka kaya raya dari user Indonesia, tapi pajak yang masuk sini kecil banget.”
Pemerintah Gak Mau Jadi Penonton
Fast forward, pemerintah Indo gak diem aja. Tahun 2017 kita join OECD Inclusive Framework on BEPS, komit buat adopsi aturan internasional soal pajak digital dan multinasional. Trus tahun 2020 keluar UU Cipta Kerja, salah satunya ngenalin pajak digital buat Netflix, Spotify, Google, dll. Lo inget kan waktu itu heboh? Tiba-tiba Netflix jadi resmi kena PPN 10% buat user Indo. Itu langkah awal.
Nah, yang lebih gila lagi, di tahun 2021 lewat UU HPP (Harmonisasi Peraturan Perpajakan), Indo makin tegas. Ada skema PPh Pasal 26 buat Subjek Pajak Luar Negeri yang punya Significant Economic Presence. Artinya, meskipun mereka gak punya kantor fisik di Indo, selama punya pengguna & revenue gede di sini, tetep bisa dipajakin.
Kasus Nyata: Netflix, Google, Amazon, TikTok
Netflix sempet jadi contoh nyata. Awalnya mereka gak bayar pajak PPN sama sekali ke Indo, karena billing dianggap dari luar negeri. Tapi sejak Juli 2020, DJP nunjuk Netflix jadi pemungut PPN PMSE. Jadi tiap lo langganan Rp54 ribu, udah termasuk PPN yang masuk ke kas negara.
Google? Setelah ribut-ribut 2016, akhirnya mereka sepakat bayar pajak lebih proper. Gak semua detail diumumin, tapi Sri Mulyani konfirmasi udah ada settlement. Amazon juga udah masuk daftar perusahaan pemungut PPN PMSE.
TikTok malah cerita baru. Tahun 2023–2024, pemerintah ngepush supaya TikTok bayar pajak bukan cuma dari ads tapi juga dari aktivitas e-commerce mereka. Ada polemik gede, apalagi pas TikTok Shop booming di Indo. Pemerintah ngegas: kalau mau main di pasar Indo, jangan cuma sedot duit UMKM tapi juga setor pajak.
baca juga
- Belajar Pajak dari Negara Skandinavia
- Tax Planning 2025
- Rakyat Melepas Sri Mulyani, Bagaimana Masa Depan Keuangan RI ?
- Pajak AI
- Robot Kena Pajak?
Trik-Trik Multinasional yang Masih Dipake
Walaupun regulasi makin ketat, multinasional tetep kreatif. Ada beberapa trik klasik yang sering dipake:
- Transfer Pricing
Beli barang/jasa dari afiliasi luar negeri dengan harga gak wajar. Tujuannya nurunin laba di Indo. - Royalti Intellectual Property (IP)
Bayar royalti merek, paten, atau software ke induk di negara pajak rendah. Jadi beban biaya tinggi, laba turun. - Thin Capitalization
Ngutang gede ke induk perusahaan. Bunga pinjaman jadi beban, laba kena potong lagi. - Marketing Fees / Management Fees
Bikin biaya konsultasi fiktif yang alirannya balik lagi ke luar negeri. - Double Irish with a Dutch Sandwich
Ini skema global yang sempet dipake Apple & Google di Eropa. Di Indo gak sedetail itu, tapi mirip-mirip modelnya.
Respon Publik: Meme & Satire
Di medsos, kasus pajak multinasional sering jadi bahan meme. Kayak meme “warga +62 telat bayar pajak motor 1 hari langsung kena denda, tapi Google telat bayar pajak triliunan bisa nego dulu”. Ironi ini bikin publik makin sadar ada ketimpangan.
Ada juga sindiran “Starbucks tax vs Warteg tax”. Warteg bayar pajak PPh final 0,5% dengan omzet kecil, sementara Starbucks bisa manfaatin skema transfer pricing. Ini jadi bahan perdebatan serius: keadilan fiskal buat siapa?
Dampak ke Indonesia
Kalau kasus-kasus kayak gini dibiarkan, negara rugi gede. Studi dari Tax Justice Network pernah nyebut Indonesia bisa kehilangan miliaran dolar tiap tahun karena praktik penghindaran pajak multinasional. Duit segitu kalau buat APBN bisa dipake bangun sekolah, RS, atau subsidi energi.
Gak heran, pemerintah makin getol. Tahun 2025 bahkan direncanain Indonesia implementasi Pilar 1 dan Pilar 2 OECD: pajak minimum global 15% buat perusahaan multinasional dengan omzet di atas €750 juta. Jadi gak ada lagi alasan pindahin laba ke tax haven.
Masa Depan: Perang Pajak Digital
Pertarungan belum selesai. Multinasional pasti cari cara baru, pemerintah juga terus ngejar. Kayak game kucing vs tikus. Tapi satu hal pasti: Indonesia udah gak mau jadi playground gratisan buat perusahaan global.
Closing Thought
Kasus pajak multinasional di Indonesia itu ibarat drama panjang: ada Google, Netflix, Unilever, Starbucks, Amazon, sampe TikTok. Semua nunjukin satu pola: perusahaan global bakal selalu cari celah, tapi negara juga makin pintar nutupin lubang.
Buat kita, pelajaran pentingnya: pajak bukan cuma soal angka di SPT, tapi juga soal kedaulatan ekonomi. Selama perusahaan asing bisa cuan gede di Indo, udah sepantasnya mereka juga ikut nyumbang buat pembangunan negeri.
At the end of the day, negara gak boleh kalah. Pajak itu urat nadi. Kalau bocor, rakyat yang nombok. Kalau adil, semua bisa ngerasain manfaatnya.
