https://ukms.or.id/ Pajak dan Korupsi: Masalah Lama yang Terus Ada , Lo pernah gak sih ngerasa agak males tiap kali denger kata “bayar pajak”? Bukan karena duitnya ilang, tapi karena pertanyaan refleks: “Ini duit gue beneran dipake buat jalan tol, sekolah, rumah sakit? Atau malah nyasar ke kantong orang yang udah tajir melintir?”
Itu dia problem klasik yang dari dulu nyantol terus di kepala rakyat: pajak dan korupsi. Pajak tuh darah negara, sumber duit utama buat ngidupin APBN. Tapi di saat yang sama, pajak juga jadi “pintu belakang” paling empuk buat para oknum korup ngambil bagian. Masalah ini literally udah kayak soundtrack abadi negara berkembang—gak pernah mati, cuma ganti artis aja.
Pajak: Duit Rakyat, Duit Negara
By design, pajak itu sah. Semua negara hidup dari pajak. Lo jajan di Indomaret kena PPN, lo gajian dipotong PPh, lo beli mobil ada pajak kendaraan. Semua nyangkut ke kas negara.
Di Indo, kontribusi pajak ke APBN gede banget, bisa lebih dari 70%. Artinya kalau pajak bolong, negara literally megap-megap. Tapi masalahnya: makin gede duit, makin gede juga peluang “main belakang”.
Korupsi Pajak: Dari Zaman Orde Baru
Kalau mau tarik timeline, korupsi pajak udah eksis dari era Orba. Ada yang lewat manipulasi data, ada yang lewat “diskon pajak” ilegal buat perusahaan gede. Karena sistemnya waktu itu belum transparan, semua berbasis kertas, maka ruang main nakal makin gampang.
Lompat ke era reformasi, harusnya lebih bersih dong? Nyatanya… nope. Justru makin banyak kasus yang kebuka karena media udah bebas, masyarakat lebih vokal.
Kasus Legendaris: Gayus Tambunan
Nama Gayus Tambunan jadi simbol betapa busuknya sistem pajak kita. Pegawai pajak eselon rendah, tapi bisa punya rumah mewah, mobil keren, jalan-jalan ke Bali pas lagi ditahan (legend banget).
Dia ketauan bantu perusahaan ngurangin pajak lewat suap. Uang yang harusnya masuk ke kas negara, malah masuk ke rekening pribadi.
Kasus Gayus bikin rakyat shock. Orang yang gajinya biasa aja, tapi bisa hidup kayak crazy rich. Netizen ngamuk, trust ke institusi pajak jeblok. Dari situ lahir banyak reformasi DJP, mulai dari rotasi pegawai, sistem digital, sampe slogan “Anda Bayar Pajak, Kami Awasi”. Tapi apakah kasus kayak gini berhenti? Jawaban jujurnya: enggak.
Era Baru, Skandal Baru
Setelah Gayus, muncul lagi banyak kasus. Contoh:
- Pegawai pajak pamer kekayaan di sosmed. Ada yang koleksi mobil sport, flexing jam tangan ratusan juta, padahal gaji ASN gak nyampe segitu. Netizen langsung jadi detektif, ngulik LHKPN, ketemu ketidakwajaran. Boom, skandal.
- Perusahaan gede ngemplang pajak. Biasanya mereka punya konsultan top yang bisa “ngatur angka” biar bayar minimal. Kadang sah secara hukum (tax avoidance), kadang masuk zona abu-abu.
Skandal-skandal ini bikin orang makin sadar: korupsi pajak bukan sekadar soal duit ilang, tapi soal trust ke negara.
Kenapa Pajak Gampang Dikolongin?
Ada beberapa alasan kenapa sektor pajak jadi lahan basah korupsi:
- Volume duitnya gila
Bayangin, triliunan rupiah masuk tiap tahun. Ngitung sekian persen aja udah bisa bikin tajir generasi. - Posisi strategis pegawai pajak
Mereka yang tahu detail laporan perusahaan. Kalau mereka mau “bantu” ngurangin kewajiban pajak dengan fee tertentu, godaannya gede banget. - Sistem rumit
Pajak di Indo itu gak simple. Banyak aturan, pasal, pengecualian. Kerumitan ini bikin celah buat manipulasi. - Budaya birokrasi
Dari dulu, urusan birokrasi identik sama “uang pelicin”. Pajak pun gak kebal.
Korupsi Pajak = Rakyat Rugi Ganda
Lo mungkin mikir, “yaelah, kalau pegawai pajak korupsi, kan cuma negara yang rugi.” Nope. Efeknya berlapis:
- Negara kehilangan penerimaan.
- APBN bolong, program rakyat dipotong.
- Rakyat tetep bayar pajak, tapi benefit gak maksimal.
Ironinya, yang paling kena dampak justru rakyat kecil. Mereka bayar pajak tiap kali belanja (PPN), tapi fasilitas publik tetep minim. Sementara elite yang seharusnya bayar besar, malah bisa nego lewat jalan belakang.
Korupsi Pajak di Mata Politik
Pajak dan politik itu gak bisa dipisah. Korupsi pajak sering jadi amunisi politik buat serang lawan. Misalnya: pas ada pejabat pajak ketauan korupsi, oposisi langsung bilang “bukti pemerintah gagal bersih-bersih”.
Tapi politik juga bisa jadi proteksi. Ada kasus yang tiba-tiba “adem ayem” karena aktornya punya backing kuat.
Dan jangan lupa, pajak juga bisa jadi sumber dana gelap politik. Perusahaan bisa “hemat pajak” dengan imbalan dukung kampanye. Win-win buat mereka, lose banget buat rakyat.
Reformasi Pajak: Solusi atau Cuma Slogan?
Setelah banyak skandal, pemerintah coba reformasi. Ada sistem e-faktur, e-SPT, DJP online. Harapannya: transparan, minim tatap muka, jadi minim suap.
Tapi masalahnya: sistem boleh digital, orangnya tetep manusia. Kalau integritas masih bobrok, digitalisasi cuma lapisan doang. Apalagi sekarang muncul modus baru: kolusi digital, manipulasi data elektronik, atau kerjasama dengan konsultan pajak nakal.
Studi Kasus: Pajak di Negara Lain
Biar gak terlalu sinis, coba bandingin. Di negara Skandinavia, pajak tinggi, tapi rakyat rela karena balikannya jelas: sekolah gratis, kesehatan top, jalan mulus. Korupsi minim karena sistem pengawasan ketat.
Sementara di negara kayak India atau Filipina, problemnya mirip Indo: pajak gede, korupsi juga gede. Trust publik rendah, kepatuhan pajak ikut turun.
Pelajarannya jelas: tanpa trust, sistem pajak mustahil jalan mulus.
Dampak Psikologis: Pajak Jadi Bahan Meme
Lo pasti sering liat meme kayak:
- “Gaji UMR, dipotong pajak. Gaji miliar, dapet tax holiday.”
- “Bayar pajak biar pejabat bisa flexing Rubicon.”
- “Pajak naik, jalan tetep bolong.”
Meme ini refleksi dari rasa frustrasi. Rakyat ngerasa diperas, tapi gak dikasih hasil. Inilah kenapa korupsi pajak gak cuma soal duit, tapi soal mental masyarakat.
Harapan: Generasi Baru Pajak
Ada sisi positif: makin banyak pegawai pajak muda yang bener-bener idealis. Mereka vokal di internal, dorong reformasi, lawan budaya lama. Ada juga gebrakan publik, kayak transparansi LHKPN, audit independen, whistleblower system.
Generasi digital juga lebih kritis. Mereka bisa viralin kasus pejabat pajak korup lewat Twitter dalam semalem. Efeknya, pemerintah jadi makin waspada.
baca juga
- Belajar Pajak dari Negara Skandinavia
- Rakyat Melepas Sri Mulyani, Bagaimana Masa Depan Keuangan RI ?
- Pajak AI
- Robot Kena Pajak?
- AI Tax di Indonesia
Pajak dan Masa Depan Indo
Pajak bakal tetep jadi darah negara. Korupsi pajak bakal tetep jadi PR besar. Tapi apakah bisa diberantas? Gue gak mau naif bilang “100% bisa hilang”. Realistisnya, kita bisa minimalkan.
Caranya?
- Sistem digital makin diperkuat.
- Audit independen, bukan cuma internal.
- Hukuman koruptor pajak harus super berat, biar jadi efek jera.
- Edukasi publik biar rakyat berani speak up.
Closing: Masalah Lama, Tapi Harus Dihadapi
Pajak dan korupsi itu duet klasik. Dari dulu udah ada, sampai sekarang masih ada. Tapi bukan berarti kita pasrah. Kalau rakyat makin sadar, media makin vokal, dan sistem makin transparan, lama-lama ruang main koruptor makin sempit.
Pertanyaan besarnya: lo mau jadi generasi yang tetep skeptis doang, atau ikut dorong biar pajak beneran balik ke rakyat?
At the end of the day, kita harus inget: pajak itu bukan sekadar kewajiban, tapi kontrak sosial. Dan kalau kontrak itu dikhianati lewat korupsi, rakyat punya hak buat marah.
