Tren Belanja Online

ukms.or.id – Tren Belanja Online , maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) para pekerja startup beberapa waktu lalu sempat membuat eksistens e-commerce dipertanyakan kelangsungannya


Ditambah, pembatasan sosial telah dicabut yang mendorong masyarakat kambal berbelanja secara langsung di pasar maupun toko nitel Sehingga layanan online terkesan ditinggalkan.


Kendati demikian, pandangan tersebut dibantah oleh survei yang dilakukan Populx. perusahaan riset berbasis digital. Dalam laporan yang bertajuk Omnichannel Digital Consumption Report 2023 menunjukkan sebanyak 72% responden menggunakan internet untuk berbelanja.

Selain itu, 80% masyarakat saat ini terhubung dengan internet dan sebagian besar dari mereka terhubung melalui perangkat smartphone


Adapun surve tersebut dilakukan pada Marat 2023 dengan melibatkan sebanyak 1.772 responden laki-laki dan perempuan dengan rentang usia 17 hingga 55 tahun secara online. Durasi pengerjaan survai sekitar 15 menit melalui pertanyaan yang dikemas dalam bentuk kuesioner dengan format pilihan ganda tunggal pilihan ganda kompleks, dan san singkat


Survel tersebut juga memotret perilaku masyarakat yang semakin aktif dalam mencar informasi sebelum membeli sebuah produk Hal ini terlihat dari 59% masyarakat yang mengatakan mereka secara aktif mencan review produk terutama melalui smartphone


Tik Tok menjadi aplikasi yang paling banyak digunakan masyarakat dalam mencari ulasan produk melalui smartphone, sementara mesin pencari menjadi pilihan masyarakat yang menggunakan laptop atau komputer.


Tiga informasi seputar ulasan produk yang paling dicari oleh masyarakat meliputi informasi produk, testimoni dari pembell lan, dan harga. Namun demikian, secara keseluruhan, masyarakat juga menggunakan baik smartphone maupun laptop atau komputer


untuk terhubung dengan orang lain, seperti mengakses media sosial, chatting, serta mencari hiburan
Adapun konten hiburan yang paling banyak dicari adalah musik dan film. Sementara konten-konten yang biasa dicari oleh masyarakat di media sosial adalah foto atau video yang menghibur (70%), ulasan produk
Tidak Akan Surut (%) informasi kuliner (83%), barita viral

Tren Belanja Online
Tren Belanja Online


Meski pandemi telah usai, belanja online tetap menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia. Hal ini karena penetrasi internet dan gawai semakin merata.

(82%), berbelanja di media sosial (50%), mencari Inspirasi fashion (4996), dan inspirasi skincare (49%)
Survei yang dilakukan Populix tak hanya berhenti di situ, perlaku penggunaan smartphone di Tanah Air juga turut menjadi tolak ukur. Survei tersebut menemukan

sebanyak 48% pengguna smartphone mamish gunakan jaringan operator seluler Telkomsel. Lalu, dikuti dengan Indosat 20% dan XL Axiata 14%.

Mayoritas atau sebesar 88% masyarakat menggunakan sistem berlangganan prabayar dengan rata-rata anggaran pulsa yang dikeluarkan sekitar Rp 100 ribu per bulan.


Sementara itu, 14% di antaranya yang menggunakan sistem pascabayar cenderung mengeluarkan anggaran yang lebih besar, yaitu sekitar Rp 150 ribu per bulan. Kemudian, sebanyak 70% masyarakat Indonesia yang disurvel memiliki satu ponsel untuk menunjang aktivitas keseharian mereka. Bahkan,
ada 28% masyarakat mengatakan mereka memiliki dua ponsel. Merek yang paling banyak digunakan, antara lain Samsung (29%), Xiaomi (21%), Phone (18%), Oppo (14%), dan Vivo (9%)


Sedangkan dari sisi durasi penggunaan smartphone, setiap harinya, pengguna ponsel dapat menghabiskan waktu rata-rata sekitar delapan jam dalam menggunakan perangkatnya. Tercatat, orang indonesia menggunakannya secara lebih intens setelah jam kerja pada pukul 18.00 hingga 21.00. Selain itu, respondan juga lebih banyak terhubung dengan internet, serta aktif dalam mengeksplorasi dan memaksimalkan fungsi aplikasi di ponsel mereka.


Timothy Astandu, Co-Founder dan Chief Executive Officer (CED) Populx menjelaskan, laporan tersebut diharapkan dapat mendukung para pelaku bisnis dengan insights mendalam seputar perlaku masyarakat Indonesia dalam mengakses internet di berbagai perangkat digital.

Dengan demikian, para pelaku bisnis dapat memaksimalkan dan mengembangkan strategi marketing dan penjualan yang lebih tepat sasaran

“Oleh karena itu, di tengah pesatnya penetrasi internet dan akselerasi digital, para pelaku bisnis perlu terus beradaptasi dengan cara konsumen mengakses informasi dan bertransaksi Hal ini seiring dengan pergeseran tren pasar yang muncul berkat adopsi internet dan perangkat digital saat ini,” ujarnya.

Timothy melanjutkan, para pengguna smartphone leben banyak menggunakan aplikasi ponsel untuk memenuhi kebutuhan komersial dan transaksi mereka. Sedangkan laptop atau komputer lebih digunakan untuk mendukung produktivitas sehari-hari, seperti bekerja atau belajar.

“Meskipun frekuensi masyarakat yang bertransaksi melakat laptop atau komputerlebih rendah, tetapi dari nominal transaksi, lebih besar dibandingkan melalui ponsel” kata Timothy.
Masyarakat Indonesia kini juga lebih banyak terhubung dengan intemet, serta aktif dalam

mengeksplorasi dan memaksimalkan fungsi aplikasi di ponsel mereka. Hal ini terlihat
dalam hasil survei yang menunjukkan bahwa 73% masyarakat mengatakan bahwa mereka memahami bagaimana cara mencari informas yang mereka butuhkan di internet.

“Lalu, sebanyak 64% masyarakat menyatakan gema melakukan eksplorasi setiap detail aplikasi dan fitur yang tersedia di ponsel mereka,” kata dia Senada dengan survei tersebut, Asosiasi Persatuan Pusat Belanja Indonesia (APPE) memperkirakan usai merebaknya pandemi COMID-19, pelaku industri pusat belanja bakal kehilangan 20% pengunjung meskipun mal telah dibuka 100%. Pasalnya, kebiasaan berbelanja secara online masih akan tetap dilakukan masyarakat.


Alphonzus Widjadja, Ketus Umum Asosiasi Pengelola Pusat belanja Indonesia (APPBI) mengungkapkan, saat ini para pengelola pusat perbelanjaan masih menghadapi tantangan untuk merangsang minat masyarakat untuk kembali mendatangi mal dan pusat perbelanjaan. Untuk itu diperlukan adanya inovasi untuk mendorong minat orang datang ka mall.


Dia bilang sebanyak 20% masyarakat yang tidak akan kembali menganggap mal dan pusat belanja sekadar tempat membeli barang Padahal, mal sebetulnya bukan semata sebagai
tempat berbelanja, tapi memilki fungsi lain, yakni tempat untuk mencari hiburan, rekrea dan sebagainya. Maka, tugas pengelola mal dan pusat perbelanjaan saat ini untuk berinovasi meningkatkan experience dan journey pengunjung

baca juga


    Keberadaan unsur tersebut yang menurut Alphonzus menjadi kakuatan mal dan pusat perbelanjaan jika dibandingkan marketplace online. “Dimal pengunjung melakukan shopping, bukan sekadar buying things. Aktivitas shopping itu harus dirancang agar memberikan pengalaman yang menyenangkan. Joumey yang


    menyenangkan juga harus dimulai sejak saat pengunjung masuk sampai meninggalkan ara parkir mal atau pusat perbelanjaan,” kata dia.


    Meskipun frekuensi masyarakat yang bertransaksi melalui laptop atau komputer lebih rendah, tetapi dari sisi nominal transaksi, lebih besar dibandingkan melalui ponsel.


    Timothy Astandu
    Co-Founder dan Chef Executive Officer (CEO) Populx

    Leave a Reply