ukms.or.id Rakyat Melepas Sri Mulyani, Bagaimana Masa Depan Keuangan RI ? Babak Baru, Air Mata Lama
Sosok Sri Mulyani itu kayak fenomena. Buat sebagian orang, dia ibarat “guardian” keuangan Indonesia. Menteri Keuangan yang bukan cuma jago angka, tapi juga bisa ngejelasin kebijakan yang ribet banget jadi bahasa sederhana.
Ketika kabar dia resmi melepas jabatan Menteri Keuangan di 2025, banyak rakyat yang beneran sedih. Literally, bukan cuma headline. Ada yang nulis status “goodbye ibu keuangan bangsa”, ada yang bikin thread panjang di Twitter/X tentang kenangan sama kebijakan pajak atau BLT. Bahkan sempet trending: #TerimaKasihBuAni.
Pertanyaannya: kenapa orang bisa sebegitu emosionalnya? Dan lebih penting: gimana masa depan keuangan Indonesia tanpa Sri Mulyani?
Legacy yang Berat
Kalau ngomongin Sri Mulyani, kita nggak bisa lepas dari track record-nya. Sejak era SBY, dia udah jadi ikon. Mundur ke World Bank, balik lagi ke Indonesia era Jokowi, terus jadi tameng di tengah badai pandemi Covid-19.
Warisan terbesarnya?
- Stabilitas fiskal. Walau utang nambah, tapi tetap manageable. Rasio utang relatif terkendali di kisaran 40% dari PDB, masih aman.
- Reformasi pajak. Mulai dari e-faktur, e-bupot, e-filing, sampai tax amnesty. Pajak jadi makin transparan dan digital.
- BLT & perlindungan sosial. Di masa krisis, tetap ada jaring pengaman buat rakyat kecil.
- Trusted figure. Dunia internasional respect banget. Investor asing lebih percaya kalau dia yang pegang keuangan negara.
Jadi wajar, waktu dia mundur, banyak yang shock. Karena keuangan negara nggak cuma soal angka, tapi juga soal trust.
Rakyat & Perasaan Personal
Kok bisa ya rakyat sampai menangis? Padahal biasanya kalau menteri mundur, orang malah biasa aja.
Jawabannya ada di faktor narasi dan komunikasi. Sri Mulyani tuh bukan sekadar teknokrat. Dia punya cara ngomong yang bikin rakyat relate. Contoh: waktu dia jelasin kenapa subsidi BBM harus dikurangi, dia bilang “uang negara lebih baik untuk sekolah dan kesehatan, bukan buat orang kaya yang pakai mobil mahal”. Simple tapi ngena.
Generasi milenial & Gen Z juga punya hubungan personal. Mereka sering lihat presentasi beliau di YouTube, ikut seminar, atau sekadar nonton potongan video penjelasan pajak. Dia jadi semacam role model perempuan Indonesia: pintar, elegan, tough di dunia yang maskulin.
Maka ketika dia cabut, rakyat kayak kehilangan figur ibu yang menjaga dompet rumah tangga.
Masa Depan Tanpa Sri Mulyani
Nah, sekarang masuk ke pertanyaan besar: kalau Sri Mulyani udah nggak lagi jadi Menkeu, apa yang bakal terjadi sama keuangan Indonesia?
1. Utang Negara
Utang Indonesia per 2025 tembus lebih dari Rp8.000 triliun. Walaupun katanya masih aman, tetap aja itu angka gede. Sri Mulyani dikenal jago jaga trust investor. Kalau penggantinya nggak punya kredibilitas selevel, bunga utang bisa naik, beban APBN makin berat.
2. Pajak Digital
Era Gen Z & milenial udah full digital. Pajak influencer, pajak YouTube, pajak e-commerce, sampai pajak kripto. Sri Mulyani udah bikin fondasinya. Kalau penerusnya nggak paham, bisa kacau. Bisa jadi target penerimaan pajak nggak tercapai, sementara belanja negara makin jor-joran.
3. Subsidi & Populisme
Ini yang tricky. Banyak politisi seneng main subsidi buat dapet simpati rakyat. Kalau Menkeu baru nggak sekuat Sri Mulyani, bisa kebablasan. Subsidi BBM jebol, defisit APBN melebar.
4. Reformasi Birokrasi Pajak
Sri Mulyani dikenal galak soal integritas pegawai pajak. Ingat kasus Rafael Alun? Itu dijadikan momentum bersih-bersih. Kalau penerusnya kompromi sama mafia pajak, trust publik bisa runtuh lagi.
5. Hubungan Internasional
Sri Mulyani tuh kayak “brand ambassador” keuangan Indonesia. Kalau ketemu IMF, World Bank, G20, semua respect. Kalau diganti orang yang kurang punya reputasi global, trust bisa anjlok. Investor asing mikir dua kali buat masuk.
baca juga
- Belajar Pajak dari Negara Skandinavia
- Rakyat Melepas Sri Mulyani, Bagaimana Masa Depan Keuangan RI ?
- Pajak AI
- Robot Kena Pajak?
- AI Tax di Indonesia
Tren Global 2026: Tantangan Baru
Keuangan Indonesia nggak hidup di ruang hampa. Ada tren global yang bakal ngetes penerus Sri Mulyani:
- Green Economy. Dunia lagi shifting ke ekonomi hijau. Carbon tax, green bond, energi terbarukan. Indonesia punya potensi gede, tapi butuh orang yang ngerti gimana nge-handle pembiayaan hijau tanpa bikin defisit.
- Digital Finance. AI, blockchain, dan CBDC (Central Bank Digital Currency) makin dominan. Indonesia harus siap adaptasi. Kalau lambat, bisa jadi pasar finansial kita ketinggalan.
- Geopolitik. Perang dagang US-China, ketegangan di Asia Timur, bisa ngefek ke rupiah & ekspor. Menkeu harus jago diplomasi finansial.
- Demografi. Bonus demografi bisa jadi berkah kalau dikelola dengan lapangan kerja & investasi. Tapi kalau gagal, bisa jadi bencana.
Artinya, yang duduk di kursi Menkeu setelah Sri Mulyani butuh lebih dari sekadar pintar ngitung APBN. Dia harus visioner, diplomatis, dan tough.
Nama-Nama Pengganti: Spekulasi & Realita
Setiap kali ada pergantian Menkeu, selalu muncul daftar nama. Dari teknokrat senior, ekonom kampus, sampai politisi.
Masalahnya: siapa pun yang jadi pengganti, akan selalu dibandingin sama Sri Mulyani. Standar terlalu tinggi. Bahkan ada istilah “Post-Sri Mulyani Syndrome” — siapapun penerusnya pasti kelihatan kurang.
Kalau penggantinya teknokrat murni, bagus buat investor, tapi bisa bentrok sama politisi populis. Kalau penggantinya politisi, mungkin akomodatif, tapi risiko fiskal makin besar.
Sentimen Rakyat = Modal Politik
Uniknya, sedihnya rakyat melepas Sri Mulyani juga bisa jadi modal politik. Partai atau presiden bisa pakai narasi ini: “kita butuh penerus yang bisa melanjutkan legacy Sri Mulyani.”
Kalau salah pilih orang, bisa jadi backlash. Rakyat makin skeptis sama pemerintah.
Apakah Sri Mulyani Akan Balik?
Spekulasi lain: apakah mungkin Sri Mulyani balik lagi di masa depan? Jawabannya: mungkin banget. Dia udah buktiin bisa bolak-balik dari World Bank ke Indonesia. Kalau situasi krisis dan negara butuh, bukan nggak mungkin dia dipanggil lagi.
Bahkan ada yang nyebut, Sri Mulyani bisa jadi kandidat presiden di masa depan. Mungkin nggak populer di kalangan politisi, tapi dia punya basis trust di rakyat menengah kota.
Harapan Rakyat
Jadi, apa sih yang rakyat pengen dari masa depan keuangan Indonesia setelah Sri Mulyani?
- Transparansi. Jangan ada lagi skandal pajak.
- Stabilitas harga. Rakyat kecil cuma minta harga beras, listrik, BBM nggak naik gila-gilaan.
- Kesempatan kerja. Bonus demografi harus dimaksimalkan.
- Digital readiness. Ekonomi baru (startup, fintech, kreator) harus didukung dengan regulasi pajak yang jelas tapi nggak memberatkan.
- Keberlanjutan. Utang jangan jadi beban cucu.
Kesimpulan: Masa Depan = Ujian Berat
Rakyat memang menangis melepas Sri Mulyani, tapi negara nggak boleh berhenti hanya di nostalgia. Masa depan keuangan Indonesia akan diuji: apakah bisa terus stabil tanpa figur kuat seperti beliau?
Kalau penerusnya cerdas, integritas tinggi, dan visioner, Indonesia bisa makin maju. Tapi kalau yang duduk cuma kompromi politik, siap-siap deh keuangan negara makin fragile.
Sri Mulyani udah jadi legenda. Tapi legenda bukan buat disembah, melainkan buat jadi standar baru. Siapa pun yang jadi pengganti, harus berani ambil tantangan.
Karena rakyat nggak cuma butuh alasan untuk menangis. Rakyat butuh alasan untuk percaya lagi.
