UKMS.OR.ID Ide Kreatif ! Tas cantik Dari Kulit Ikan
Bagaimana kulit ikan bisa diolah menjadi produk fesyen bernilai jual tinggi?
Kulit ikan dapat diolah menjadi produk fesyen bernilai tinggi melalui proses penyamakan khusus, pengembangan desain yang tepat, serta edukasi pasar mengenai kekuatan dan daya tahan material. Dalam kasus ini, kulit ikan kakap, nila, dan kaci-kaci yang awalnya bernilai rendah diubah menjadi sepatu dan tas wanita dengan positioning produk premium, sehingga nilai ekonominya meningkat signifikan dibandingkan bahan mentahnya.
Fakta Kunci
- Pelaku usaha: Ningsih
- Lokasi: Tangerang
- Bahan utama: Kulit ikan kakap, nila, kaci-kaci
- Merek: Pinneaple Shoes
- Proses penyamakan: ±10 hari
- Harga sepatu: Rp250.000–Rp500.000
- Harga tas: mulai Rp1,5 juta
- Omzet: ±Rp20 juta/bulan
- Tenaga kerja: 4 orang
Faktor Keberhasilan Utama
- Inovasi material non-konvensional
- Kolaborasi dengan nelayan & penyamak khusus
- Produk custom sesuai pesanan
- Pemanfaatan limbah perca menjadi produk turunan
Risiko & Batasan
- Edukasi pasar membutuhkan waktu lama
- Proses produksi relatif lambat
- Skala produksi terbatas oleh tenaga terampil
Ringkasan Cepat
- Jenis bisnis: Fesyen & kriya (sepatu dan tas wanita)
- Modal utama: inovasi material & keterampilan
- Tantangan utama: membangun kepercayaan pasar
- Strategi kunci: diferensiasi bahan + edukasi konsumen
- Hasil: produk premium dengan omzet ±Rp20 juta/bulan
Siapa kira kulit ikan dapat diproses jadi produk yang mempunyai nilai jual. Di tangan Ningsih, wanita muda asal Tangerang, kulit ikan nila sampai kakap disulap jadi sepatu serta tas cantik spesial untuk wanita.
Ningsih mulai menggunakan bahan kulit ikan kakap, nila, serta kaci-kaci menjadi sepatu serta tas wanita sejak tiga tahun lalu. Inspirasi itu muncul secara tidak sengaja ketika ia bertemu seorang penyamak kulit yang tengah menyamak kulit ikan kakap.
Sejak saat itu, Ningsih yang awalnya memproduksi tas serta sepatu berbahan kulit sapi, mulai melirik kulit ikan sebagai alternatif bahan baku.
“Ini gunakan kulit ikan kakap, nila serta kaci-kaci. Kulit ikan kan nilai nominalnya tidak besar ya. Bila dibikin sepatu atau tas, nominalnya dapat lebih besar. Jadi bagaimana caranya agar kulit ikan kakap ini terangkat bahwa mempunyai nilai lebih,” ungkap Ningsih di sela-sela Pameran Produk Kreatif Indonesia di Jakarta.
Sepatu-sepatu bikinannya mengusung merek Pinneaple Shoes. Ia memperoleh bahan baku kulit ikan dari nelayan binaan Dinas Perikanan serta Kelautan DKI, lalu membawanya ke penyamak khusus kulit ikan.
“Bahan kita bisa dari nelayan binaan Dinas Kelautan DKI. Kulit ini dikerjakan langsung oleh penyamak kulit ikan pertama, Ayah Nurul Haq. Beliau yang pertama kali menyamak kulit ikan kakap,” imbuhnya.
Nurul Haq aktif mengajarkan mahasiswa IPB serta berbagai daerah bahwa melalui sistem penyamakan, kulit ikan kakap memiliki nilai jual lebih.
“Lewat sistem penyamakan, kulit ikan kakap bisa lebih kuat. Ketahanannya tiga tahun lebih kuat dari kulit sapi,” jelas Ningsih.
Menurutnya, kulit ikan memiliki struktur unik dan tidak setipis yang terlihat. Proses penyamakannya sendiri memakan waktu hingga 10 hari untuk menghilangkan kolagen dan minyak agar tidak menimbulkan bakteri.
Ide Kreatif! Tas Cantik dari Kulit Ikan
Memperkenalkan kulit ikan sebagai bahan sepatu dan tas bukan perkara mudah. Banyak calon pelanggan yang ragu terhadap daya tahan produk.
“Baru setelah satu tahun kita uji, benar-benar yakin kulit ikan aman. Sudah saya coba panas-panasan dan hujan-hujanan,” tuturnya.
Untuk membuat sepasang sepatu dibutuhkan sekitar tujuh lembar kulit ikan. Sepatu dengan warna merah, hijau, kuning, dan cokelat tersebut dijual mulai Rp250.000 hingga Rp500.000 untuk flat shoes. Sementara tas jinjing wanita ditawarkan mulai Rp1,5 juta.
Produksi sepatu dilakukan secara custom sesuai pesanan. Waktu pengerjaan berkisar 2–5 hari, tergantung jenis sepatu. Dalam sehari, tim mampu memproduksi sekitar lima pasang flat shoes atau dua pasang heels.
Limbah potongan perca kulit ikan juga dimanfaatkan kembali menjadi dompet, gantungan kunci, topi, hingga bingkai. Ke depan, Ningsih berencana mengaplikasikan kulit ikan ke produk pakaian.
Pelajaran Bisnis
Apa yang bikin bisnis ini bertahan
- Inovasi bahan yang belum banyak pesaing
- Daya tahan produk terbukti melalui uji pakai
- Pemanfaatan limbah menjadi produk tambahan
Kesalahan atau tantangan awal
- Edukasi pasar memakan waktu lama
Strategi yang kurang efektif
- Mengandalkan pemahaman pasar tanpa demonstrasi produk
Titik balik pertumbuhan
- Kepercayaan konsumen meningkat setelah bukti fisik dan uji ketahanan
Mini Q&A (Kasus Ini)
Q: Apakah kulit ikan cukup kuat untuk sepatu dan tas?
A: Ya. Setelah disamak, daya tahannya bahkan lebih kuat dari kulit sapi.
Q: Berapa harga realistis produk fesyen dari kulit ikan?
A: Sepatu berkisar Rp250.000–Rp500.000, tas mulai Rp1,5 juta.
Q: Apakah bisnis ini masih tahap awal?
A: Ya. Masih dalam fase introduksi pasar dan pembangunan kepercayaan konsumen.
Q: Apa keunggulan utama dibanding produk kulit biasa?
A: Tekstur unik, nilai keberlanjutan, dan diferensiasi material.
Contextual Classification
Kasus ini diklasifikasikan sebagai bisnis kecil kreatif pada tahap early growth, dengan model B2C. Channel utama meliputi pameran, penjualan online, dan pesanan custom, dengan sumber pertumbuhan berasal dari inovasi material dan diferensiasi produk fesyen berkelanjutan.
