Toko Kopi Tuku – Kopi Tetangga yang Melegenda, Toko Kopi Tuku adalah salah satu pelopor kedai kopi lokal yang sukses memperkenalkan tren kopi susu gula aren ke khalayak luas. Didirikan oleh Andanu Prasetyo pada tahun 2015 di daerah Cipete, Jakarta Selatan, Tuku tumbuh dari sebuah kedai kecil “kopi tetangga” menjadi ikon kopi lokal yang membumi dan dicintai lintas generasi.
Nama “Tuku” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti “beli”—filosofi ini mencerminkan misi Tuku: menyediakan kopi yang bisa dibeli dan dinikmati siapa saja. Gak heran kalau sejak awal, Tuku memposisikan dirinya sebagai kopi yang sederhana, affordable, dan penuh cita rasa.
Menu andalan Tuku adalah:
- Es Kopi Susu Tetangga – kopi dengan susu dan gula aren yang creamy, manis, dan sedikit pahit,
- Kopi Hitam Tetangga – kopi manual brew khas nusantara,
- Susu Matcha, Coklat Aren, hingga Susu Jahe untuk non-kopi lovers,
- serta berbagai kue-kue rumahan seperti bolu jadul, pisang goreng, dan pastel.
Yang membuat Tuku istimewa bukan hanya menunya, tapi pengalaman yang diberikan. Tuku menjual bukan sekadar kopi, tapi juga “rasa tetangga” yang akrab: baristanya ramah, kedainya hangat, dan suasananya homey. Walau banyak cabang, semuanya terasa personal.
Harga minumannya juga tetap ramah kantong, berkisar Rp 15.000 – Rp 30.000. Sangat terjangkau untuk kelas menengah dan menjadikannya favorit para pekerja kantoran, mahasiswa, hingga ibu-ibu komplek. Di Tuku, minum kopi bukan sekadar gaya hidup, tapi kebiasaan harian yang menyenangkan.
Desain outlet Tuku sangat khas: minimalis dengan sentuhan kayu dan jendela kaca lebar, biasanya berukuran kecil, cukup untuk grab-and-go atau sekadar ngopi santai. Logo cangkir dan font tulisan tangan juga jadi ikon yang mudah dikenali dan disukai.
Strategi pemasaran Tuku jauh dari kesan flashy. Mereka tidak agresif di media sosial layaknya brand lain, tapi justru mengandalkan kualitas rasa, loyalitas pelanggan, dan word-of-mouth. Tapi jangan salah—Tuku pernah viral besar karena disinggung langsung oleh Presiden Jokowi yang menyukai Es Kopi Susu Tetangga mereka.
Berbeda dari tren “kopi kekinian” yang banyak gimmick, Tuku justru fokus pada sustainability dan pemberdayaan petani lokal. Mereka menggunakan biji kopi dari Aceh, Toraja, dan daerah lain di Indonesia, bekerja sama langsung dengan petani untuk menjaga kualitas dan kesejahteraan.
Tuku juga punya misi sosial: menciptakan bisnis yang bermanfaat, bukan hanya cuan. Ini ditunjukkan dari inisiatif pelatihan barista untuk anak muda, hingga pembukaan cabang kecil di daerah untuk mendorong semangat wirausaha.
Meski kini telah punya puluhan outlet, Toko Kopi Tuku tetap mempertahankan nilai-nilai awalnya: sederhana, jujur, dan akrab. Mereka membuktikan bahwa kopi lokal tidak harus tampil mewah untuk dicintai—cukup tulus, enak, dan bikin kangen.
