Author: UKMS

  • CILOTA Bisnis Boneka Daur Ulang Daun Lontar

    Tak hanya ingin meraup keuntungan besar dari bisnis boneka daur ulang daun lontar, I Komang Sukarma juga berharap kreasinya jadi souvenir khas Bali dengan mengusung nilai budaya lokal. Berawal dari ajang lomba, anak muda yang tercatat sebagai mahasiswa Sastra Inggris – Universitas Udayana, Bali, itu kini justru tekun berkreasi dan merintis bisnis boneka daur ulang daun lontar berlabel Cilota.

    Tak hanya ingin meraup keuntungan besar dari bisnis boneka daur ulang daun lontar, I Komang Sukarma juga berharap kreasinya mampu menjadi souvenir khas Bali dengan mengusung nilai budaya lokal.

    “Tahun 2016 lalu, saya bersama rekan (Angga dan Dadi) mewakili kampus mengikuti kegiatan LKTI yang berlangsung di Lampung. Tema lomba itu mengenai kreativitas lokal, saya dan kedua rekan tertarik membuat boneka yang terinspirasi dari figur Cili, yang melambangkan kesuburan dan keindahan.

    Nah, karena bahannya menggunakan lontar, boneka itu dinamakan Cilota. Singkatan dari Cili dan lontar,” ujar I Komang Sukarma, yang berasal dari Dusun Taman Sari, Desa Tianyar Barat, Kec Kubu, Karangasem, Bali.

    Pada even LKTI itu, boneka Cilota berhasil mendapatkan penghargaan sebagai juara harapan III. Dan ketika boneka Cilota dibawa kembali ke Bali dan dipertunjukkan di sejumlah rekan dan dosen, ternyata banyak yang berminat lantas memesan.

    “Semoga apa yang kami kerjakan menjadi satu langkah kecil untuk melestarikan budaya lokal.
    Selain belajar mandiri, kami juga berharap di zaman globalisasi seperti ini, generasi muda hendaknya terus menumbuhkan kecintaan pada produk lokal dan mulai membangun sesuatu dari hal-hal yang paling kecil dan sederhana, fokus serta berkelanjutan,” katanya.

    Coba Kreasi Boneka Couple Dari Daun Lontar

    Melihat tingginya respon orang-orang terdekatnya terhadap boneka Cilota, Komang lantas terpikir untuk menjadikannya sebagai souvenir.

    Sebagai pengembangan usaha, Komang pun mengemas boneka ini menjadi ‘ boneka couple’ atau berpasangan dan membuat plakat acara. Bahkan, anak muda ini sudah merancang angan, ke depan ingin membuat bisnis boneka wisuda yang bercirikan budaya Bali.

    Boneka Cilota dibuat berukuran 7 cm – 25 cm, dengan menggunakan bahan baku utama daun lontar.

    Selama ini, Komang sama sekali tidak mengalami kesulitan untuk mendatangkan daun lontar, dikarenakan di daerah kelahirannya, Tianyar, banyak ditemukan pohon lontar.

    Bahan pendukung lainnya ialah koran bekas, kain perca, jerami, tulang daun aren, serta pis bolong bekas. Koran bekas ini digunakan sebagai wadah boneka Cilota, sehingga tampilannya menjadi unik dan menarik.

    “Kalau harga boneka, berkisar antara Rp 60 ribu – Rp 150 ribu. Harga tergantung tingkat kerumitan dan ukuran boneka.

    Saya biasa memproduksi boneka untuk stok karena sering ada permintaan mendadak. Namun kadang saya pun membuat boneka sesuai pesanan,” kata mahasiswa semester enam di Universitas Udayana ini.

    Kebanjiran Orderan Dari Dosen Sampai Wisatawan

    Seiring dengan makin meningkatnya pemesanan, maka Komang belakangan ini memproduksi boneka dengan dibantu rekan dan sejumlah sahabatnya, yang sama-sama tinggal di Ashram Gandhi Puri, di Klungkung. Bersama para sahabat ini, Komang giat berkreasi menciptakan boneka Cilota, di sela-sela kesibukannya belajar di kampus.

    “Dosen-dosen akhirnya sering memesan, karena dulu boneka ini memang belum ada yang mengemasnya menjadi souvenir. Malah kalau ada tamu atau wisatawan yang berkunjung ke Ashram Gandhi Puri dan melihat penampilan boneka Cilota, spontan suka tertarik dan menjadikannya oleh-oleh untuk dibawa pulang ke negaranya,” ujar Komang.

    Komang berharap, usahanya mempopulerkan boneka Cilota ini mendapat sambutan yang luas. Apalagi, dia menekankan kalau boneka Cilota ini merupakan karya sebagai kreativitas yang sarat budaya lokal.

    Sampai kini, Komang belum menemukan permasalahan  berarti terkait proses produksi boneka Cilota, mengingat banyak sahabat yang membantu proses pengerjaannya.

    baca juga

      Hanya saja yang menjadi sedikit kendala, pengerjaan boneka itu dibuat dengan serba manual, karena belum memiliki mesin pendukung. Misalnya, mesin jahit.

      Meski demikian, Komang menjamin kalau boneka Cilota yang diproduksi bersama sejumlah sahabatnya itu memiliki kualitas teruji dan tidak dijahit dengan serampangan.

    • Puspita Food, Kisah Inspiratif Bisnis UKM

      Bisnis kuliner merupakan bisnis yang tidak ada matinya, karena kuliner berkenaan dengan makanan sebagai kebutuhan manusia akan pangan. Bisnis kuliner merupakan bisnis yang marak dikembangkan pada saat ini, hal ini ditunjang dengan keanekaragaman kuliner Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

      Keanekaragaman kuliner Indonesia sangat mendukung dan memotivasi pelaku bisnis kuliner di Indonesia untuk terus mengembangkan dan berinovasi di bidang kuliner. Salah satu bisnis kuliner di Indonesia adalah Puspita Food.

      Kisah Mengesankan Puspita Food

      Puspita Food merupakan usaha kecil menengah (UKM) di bidang kuliner. Puspita Food adalah usaha yang dimiliki oeh Ira Poespita di bidang kuliner siomay dan dimsum. Usaha ini, dirintis karena suaminya di PHK.

      Akibat suami di-PHK, Ira Poespita harus memutar otak untuk membantu keuangan keluarga yang pada akhirnya, ia belajar dari pedagang siomay keliling untuk membuat siomay. Awalnya, Ira Poespita membuka Puspita Food di Pujasera blok F/07 pertokoan Blok M Square, Jakarta Selatan.

      Dalam membangun usahanya, Ira Poespita mengalami banyak kesulitan hingga akhirnya usahanya di bidang kuliner berkembang pesat seperti saat ini.

      Kesulitan yang dihadapinya adalah ia tidak bisa membuat siomay, hingga akhirnya ia memberanikan diri belajar membuat siomay kepada tukang siomay keliling.

      Perjalanan Panjang Ira Poespita

      Setelah ia belajar dari tukang siomay keliling, ia bertekad menjual siomay buatannya di pinggir lapangan SD 07 Beji. Siomay buatannya lumayan membuahkan hasil, ia pun senang dan memberanikan diri untuk mengembangkan usahanya.

      Namun, usahanya untuk mengembangkan bisnisnya mengalami kesulitan karena ia tidak memiliki keahlian bisnis yang cukup memadai.

      Minim keahlian dalam berbisnis tidak mematahkan semangat Ira Poespita untuk terus mengembangkan usahanya.

      Banjir pesanan membuat ia bertekad dan mengembangkan usahanya dengan nama Puspita Food.

      Setelah Puspita Food berdiri, kendala-kendala pun muncul silih berganti dari wajahnya yang terbakar karena tersiram dandang siomay di Pasar Pagi Juanda hingga orderan yang naik turun karena saat itu ia bergantung pada jumlah pesanan untuk pernikahan.

      Dengan Mental yang Luar Biasa Puspita Food Berkembang

      Perjuangan Ira Poespita di bisnis kuliner ini patut diacungi jempol, karena ia banyak mengalami pahit manisnya hidup.

      Selain mengalami wajahnya yang terbakar, ia juga mengalami kecelakaan masuk gorong-gorong dengan semua barang dagangan. Selain itu, ia pernah mengalamai pengusiran oleh Satpam UI. Kejadian pahit itu, tidak membuat Ira patah semangat justru menambah semangatnya untuk mengembangkan usaha hingga sukses.

      Kejadian pahit yang menimpanya dijadikan pelajaran dan cambuk untuk dirinya agar terus maju dan pantang usaha dalam dunia bisnis kuliner yang telah ia jalani.

      Semangat dan perjuangan Ira membuahkan hasil, saat ini ia memiliki counter di mall. Selain itu, ia juga memiliki dua cabang Puspita Food di Pasar Minggu Padi dan di Jalan Ir. H. Juanda, Margonda.

      Ira tidak berpuas diri dengan bisnis siomaynya, ia mengembangkan bisnisnya dengan membuat dimsum. Selain itu, bisnis siomaynya dibilang unik karena Ira membuat siomay dengan beraneka macam rasa dan warna.

      Siomay dengan beberapa varian tersebut membuat siomaynya banyak diminati konsumen.

      Ira yang merupakan penggemar siomay ini, membuat siomay rainbow dengan warna kuning dari wortel import, warna ungu dari buah naga, dan warna merah terbuat dari terong Belanda atau stroberi. Siomay dengan berbagai varian tersebut membuat banyak reseller melirik bisnis tersebut.

      Puspita Food yang awalnya bermodalkan uang pinjaman saat ini berkembang menjadi bisnis kuliner yang patut diacungi jempol di antara kompetitor lainnya.

      Oleh karenanya modal uang saja tidak cukup dalam mendirikan bisnis, melainkan dibutuhkan kegigihan, tekad, dan mental yang luar biasa dalam berbisnis.

      Kegigihan dan mental dibutuhkan saat, usaha yang kita rintis mengalami jatuh atau merosot karena pada dasarnya roda selalu berputar, bisnis tidak terus di atas melainkan mengalami pasang surut.

      Sedangkan modal dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dalam proses produksi.

      Bermodal Uang Pinjaman Bank Keliling

      Pada awal berdirinya, Puspita Food bermodalkan uang pinjaman dari bank keliling, karena pada saat itu Ira sedang kesulitan keuangan akibat dari suaminya yang mengalami PHK.

      Kesulitan setelah suaminya mengalami PHK, membulatkan tekad Ira untuk membuka usaha. Lalu, Ira meminjam uang sebesar satu juta rupiah kepada bank keliling.

      Modal sebasar satu juta rupiah ia gunakan untuk membuat siomay. Dengan berbekal modal tersebut dan keahlian membuat siomay yang ia dapat dari tukang siomay keliling, ia telah mengembalikan modalnya bahkan lebih dari cukup untuk biayai hidup sehari-hari.

      Saat ini, omzet Puspita Food mencapai 50 sampai 60 juta rupiah per bulan. Omzet tersebut terus meningkat tiap bulannya apalagi jika banyak acara pernikahan yang ia layani, bisa jadi jumlah pesanan yang ia terima mencapai 100 hingga 200 Kg.

      Bisnis yang digeluti Ira berkembang pesat hingga akhirnya, ia memiliki tiga karyawan dan beberapa reseller. Dengan dibantu suami, bisnis Ira terus berkembang pesat.

      Produk Puspita Food

      Puspita Food saat ini melayani beberapa reseller dan banyak pelanggan, karena pelayanan yang diberikan baik, selain itu bersih, enak dan harga yang terjangkau membuat pelanggan tidak mau beralih ke siomay lainnya.

      Selain fokus dengan siomaynya, Ira juga mengembangkan dimsum buatannya dengan berbagai macam inovasi untuk menarik konsumen, pelanggan dan reseller.

      Usaha yang dilakukan Ira untuk mengembangkan target pasarnya yaitu dengan cara membuat website pribadinya.

      Harapan Ira dengan menggunakan website pribadinya sebagai ladang promosi, Ira berharap menjangkau pelanggan, konsumen dan resellernya ke seluruh pelosok nusantara, tidak hanya Jabodetabek dan sekitarnya.

      baca juga

        Kisah Ira patut dijadikan teladan, karena setiap masalah yang dihadapi oleh manusia tentu ada jalan keluarnya asalnya manusia menjalani dengan sabar tanpa berkeluh kesah.

        Kisah Ira yang bermodalkan tekad dan uang pinjaman patut dijadikan contoh, keterbatasan modal dan suami yang kehilangan pekerjaan, tidak menjadikan Ira terpuruk meratapi nasib namun menjadikan Ira gigih untuk terus berusaha menopang hidup dan keluarganya.

      • Moo Nyusu, Bisnis Susu Segar yang Menggiurkan

        Hidup sehat adalah impian bagi setiap orang. Hidup sehat dapat terlaksana jika seseorang rajin berolahraga dan makan makanan yang sehat. Saat ini, masyarakat mulai menggandrungi pola hidup sehat, banyak orang berlomba-lomba untuk melaksanakan pola hidup sehat hingga berbagai cara pun dilaksanakan.

        Pola hidup sehat di kalangan masyarakat Indonesia, menjadi daya tarik tersendiri bagi Akbar Al Kautsar yang biasa dipanggil Aldo oleh teman-temannya. Aldo mendirikan usaha kecil-kecilan dengan membuka kedai susu.

        Usaha kedai susu yang dirintis bersama teman-temannya bertujuan untuk membudayakan hidup sehat dengan cara meminum susu segar. Aldo sendiri adalah sosok yang suka minum susu. Oleh karenanya, ia menularkan kebiasaan baiknya kepada masyarakat. Kedai susu yang dibukanya bertujuan mensosialisasikan budaya minum susu di kalangan masyarakat yang berusia antara 20 tahun hingga 40 tahun.

        Kedai susu yang dibukanya terinspirasi dari kedai susu yang ditemukan di beberapa daerah di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah. Namun, di daerah perkotaan seperti Jabodetabek jarang ditemukan kedai susu.

        Oleh karenanya, Aldo bersama lima temannya membuka kedai susu di daerah Bekasi. Kedai susu yang dirintisnya tersebut menggunakan konsep yang berbeda dengan kedai susu pada umumnya. Kedai susu yang dirintis oleh Aldo menggunakan cara minum susu yang modern.

        Kedai susu yang dirintis Aldo diberi nama Moo Nyusu. Nama tersebut dipilih karena memiliki arti unik yang diambil dari bahasa Jawa yaitu kata Moo yang artinya mau atau dapat juga diartikan sebagai sapi. Sedangkan kata Nyusu  memiliki arti menyusu. Dapat disimpulkan arti Moo Nyusu memiliki arti mau nyusu. Kedai Moo Nyusu ini menggunakan simbol dengan gambar kartun sapi yang mengedipkan mata.

        Sebelum membuka kedai Moo Nyusu, Aldo bersama teman-temannya melakukan persiapan launching selama tiga bulan termasuk riset pasar. Setelah melakukan riset pasar dan persiapan launching yang cukup pelik dan memakan waktu dan tenaga, akhirnya pada bulan November 2014, kedai Moo Nyusu resmi dibuka.

        Sumber: vivanews.com

        Kedai Susu yang Bisa Foto Selfie

        Kedai susu Moo Nyusu pertama kali dibuka di daerah Cibitung, Bekasi. Modal awal yang digunakan cukup besar, sebesar Rp30 juta. Mengapa cukup besar modalnya? Hal tersebut karena konsep kedai susu yang dirilis adalah konsep kedai susu modern, kedai susu yang tidak hanya menjual susu segar melainkan kedai susu yang dilengkapi i-Pad untuk foto selfie pengunjung. Modal awal sebesar Rp30 juta tersebut digunakan untuk membeli bahan baku dan perlengkapan bisnis (tenda, kursi pembeli, dan i-Pad untuk foto selfie). Namun, dengan modal segitu dapat mendatangkan untuk hingga puluhan juta rupiah karena konsep kedai yang modern. Kedai Moo Nyusu terus berkembang, perkembangan yang signifikan ini karena harga susu segar per bungkus Rp5.000,00 dan konsumen bisa menikmati suasana kedai yang nyaman.

        Mungkin kebanyakan orang bertanya-tanya, mengapa kedai Moo Nyusu selalu tidak sepi pengunjung? Hal tersebut karena kedai ini dilengkapi dengan gadget berupa i-Pad. Mengapa i-Pad disertakan dalam bisnis kedai susu ini? Gadget canggih ini ada untuk menarik pengunjung supaya pengunjung tidak bosan saat menunggu antrean membeli susu dengan harapan pengunjung dapat memainkan berbagai macam aplikasi yang tersedia di i-Pad selagi menunggu antrean. Kedai Moo Nyusu ini juga dilengkapi dengan properti aplikasi foto narsis sehingga pengunjung dapat bernarsis ria saat antre membeli susu.

        Omzet Kedai Susu yang Sangat Menggiurkan hingga Rp90 juta per bulan

        Kedai Moo Nyusu ini tidak pernah sepi pengunjung, selain rasa susu segar yang enak, juga didukung tempat dan fasilitas yang nyaman untuk minum susu segar. Aldo sebagai pengelola bisnis ini, mendapat suplai susu dari Jakarta Timur dan Bekasi. Berdasarkan catatannya, susu segar yang dibutuhkan oleh kedai ini sebanyak 350 liter. Susu segar yang didapat oleh kedai ini diolah terlebih dahulu di beberapa wilayah, contohnya di Bukit Kosambi, Jakarta Barat dan daerah Margahayu di Bekasi. Kedai Moo Nyusu ini juga menyediakan perasa susu untuk memberi varian rasa pada susu yang dijualnya.

        Kedai yang dikelolah oleh Aldo dan teman-temannya ini menjual minuman susu yang dikemas dalam kemasan plastik dengan harga Rp5.000,00, cukup murah bukan? Selain itu, kedai Moo Nyusu ini juga menyediakan susu dengan aneka varian rasa, seperti susu segar biasa, susu segar rasa cokelat hingga rasa mangga. Layak jika kedai ini terus berkembang pesat dan tidak pernah sepi pengunjung.

        Untuk menarik pengunjung, kedai ini juga menyajikan makanan ala Moo Nyusu, seperti mie susu yang dijual dengan harga mulai Rp8.000,00 – Rp12.000,00 per porsinya. Penasaran bukan, apa yang dimaksud dengan mie susu? Mie susu adalah mie yang disajikan dengan susu sebagai kuahnya, namun jangan khawatir mie susu ini enak dan tidak enek.

        Omzet yang didapat kedai ini semakin hari, semakin meningkat. Omzet yang didapat mencapai Rp1.500.000,00 –Rp3.500.000,00 per hari. Tidak heran jika pada bulan pertama pembukaan, kedai ini sudah balik modal. Saat ini, omzet yang didapat tergantung dari ramai tidaknya booth yang di buka. Setiap booth, tentunya memiliki omzet yang berbeda-beda per harinya, misalnya booth di Cibitung sebulan dapat omzet Rp90.000.000,- dengan asumsi per hari terjual 300 – 500 cup atau senilai Rp2.000.000,00 hingga Rp3.000.000,00. Menakjubkan bukan?

        Kedai Moo Nyusu ini sudah ada di beberapa tempat seperti: Jatimulya, Cibitung, dan Ciputat. Setiap kedai mempekerjakan dua sampai tiga karyawan. Aldo selaku pengelola kedai menjelaskan bahwa setiap kedai Moo Nyusu dikelola oleh internal Moo Nyusu, maksudnya Aldo dan teman-temannya mengelola masing-masing kedai per wilayah. Aldo merencanakan kedai Moo Nyusu ada di luar daerah Bekasi, seperti Serang dan Bandung. Selain itu, kedai Moo Nyusu membuaka kemitraan dan waralaba.

        Kendala yang Dihadapi Kedai Moo Nyusu

        Setiap usaha atau bisnis selalu mengalami kendala, begitu juga dengan bisnis susu segar yang dikelola oleh Aldo. Kendala Aldo dalam mengelola bisnis susu segar ini adalah pengelolahan susu, bagaimana mengolah susu agar susu tetap higienis dan steril. Pengolahan yang baik dapat menghasilkan susu segar yang tidak cepat basi.  Selain mengalami masalah dalam pengolahan susu, Aldo dan teman-teman juga menghadapi kesulitan dalam mengelola tempat, karena kedai ini masih berupa booth atau kadang berupa warung tenda, kendala yang dihadapi adalah tempat parkir jika

        baca juga

          banyak para pengunjung yang datang.

          Kedai Moo Nyusu ini juga mengalami kesulitan, kesulitan yang dihadapi adalah saat kompetitor meniru produk susu segarnya dengan menggunakan gambar sapinya untuk dijadikan ikon produk susu kompetitor. Untuk menghindari hal tersebut terulang kembali, Aldo berupaya mempromosikan produknya ke media sosial seperti FB, IG dan Tweeter. Saat ini, kedai Moo Nyusu terus mengembangkan usahanya dengan sistem kemitraan atau waralaba sehingga produknya dapat dikenal di seluruh pelosok nusantara.

        • Makanan Tradisional Jenang Kudus Sinar Tiga Tiga

          Kata Jenang Kudus bagi masyarakat Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur merupakan kata yang tidak asing lagi.

          Jenang Kudus merupakan makanan tradisional khas Jawa yang terbuat dari tepung beras ketan yang diolah menggunakan santan kelapa dan gula merah.

          Bagi masyarakat Betawi dan Jawa Barat, Jenang Kudus sejenis dengan Dodol Garut. Namun, perlu diingat Jenang Kudus dan Dodol Garut memiliki perbedaan.

          UKM Kecil yang Mampu Tembus Pasar Global

          Jenang Kudus, saat ini merupakan oleh-oleh khas Jawa Tengah, tepatnya Kudus. Bagi siapa yang berkunjung ke Kudus, Jawa Tengah sangatlah tidak afdol jika tidak membawa pulang oleh-oleh yang satu ini. Selain rasanya yang enak, Jenang Kudus juga memiliki ciri khas tersendiri.

          Proses pembuatan Jenang Kudus cukup unik dan melalui proses yang panjang. Semua bahan dasar Jenang seperti, tepung beras ketan, santan kelapa, dan gula Jawa dimasak menggunakan wajan besar.

          Biasanya dalam proses memasak ini membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam. Selama proses memasak tersebut Jenang Kudus harus selalu diaduk menggunakan kayu.

          Jenang Kudus merupakan makanan tradisional yang dianggap turun-menurun begitu juga dengan cara memasak jenang ini cukup unik.

          Bagi usahawan yang memiliki usaha Jenang Kudus ini dapat dipastikan memiliki cara memasak yang turun menurun dari para leluhur zaman dulu sehingga keaslian dan cita rasa Jenang Kudus ini tidak hilang begitu saja.

          Jenang Kudus Sinar Tiga Tiga  Usaha 3 Generasi

          Usaha kecil Jenang Kudus ini dirintis sejak tahun 1910, namun, saat itu usaha tersebut belum cukup dikenal. Usaha ini dirintis oleh Ibu Hj. Alawiyah dengan menggunakan label Jenang Kudus Mubarok.

          Pada awalnya, pemasaran jenang ini dilakukan di Pasar Kudus. Saat itu, Jenang Kudus cukup laris karena banyak peziarah makam Sunan Kudus di Masjid Menara Al Aqsho.

          Setelah Ibu Hj. Alawiyah meninggal, usaha beliau dilanjutkan oleh putranya yang bernama H. Achmad Shochib menggunakan label Perusahaan Jenang Sinar Tiga Tiga (PJ Tiga Tiga).

          Usaha Jenang Kudus pun mulai berkembang dan diproduksi secara masal hingga akhirnya label Jenang Kudus Sinar Tiga Tiga dikenal masyarakat. Kemudian pada tahun 1992, H. Achmad Shochib menyerahkan kepemimpinan kepada putranya H. Muhammad Hilmy.

          H. Muhammad Hilmy pun mengembangkan PJ Tiga Tiga yang merupakan generasi ketiga.

          Di bawah kepemimpinannya, mulai diterapkan sistem manajemen modern seperti layaknya perusahaan besar lainnya. Muhammad Hilmy berupaya mewujudkan cita-cita orang tuanya untuk terus menerus mengembangkan makanan tradisional ini hingga ke mancanegara.

          Kepemimpinan H. Muhammad Hilmy membawa keberhasilan yang cukup pesat, tidak hanya terjadi peningkatan di sisi penjualan Jenang Kudus Sinar Tiga Tiga, namun juga peningkatan aset perusahaan. Selain itu, Jenang Kudus Sinar Tiga Tiga  juga mendapat pengakuan di mancanegara.

          Asal – Usul Label Jenang Kudus Sinar Tiga Tiga

          PJ Tiga Tiga pada generasi kedua mengemas Jenang Kudus menggunakan anyaman daun pandan dan ditempeli kertas bertuliskan Sinar Tiga Tiga di bagian luarnya.

          Kemudian pada tahun 1960, jenang Sinar Tiga Tiga dikemas menggunakan plastik dan bagian luarnya menggunakan kertas putih bergambar sinar dan bertuliskan Angka 33. Angka 33 tersebut diaukms.or.id/l dari alamat rumah tinggal yaitu Jalan Sunan Muria No. 33 Kudus.

          Kemunculan Jenang Kudus Sinar Tiga Tiga ini menjadi pioner muncul bisnis Jenang Kudus lainnya bahkan ada yang meniru sehingga membuat konsumen bingung.

          Untuk menghindari hal tersebut, H. Achmad Shocib melakukan inovasi dan modifikasi komposisi bahan baku jenang hingga memodifikasi kemasan.

          Pada tahun 1975, hasil inovasi dan modifikasi Jenang Kudus diperkenalkan dengan dua varian aroma, yaitu Sinar Tiga Tiga Aroma Coklat dan Sinar Tiga Tiga Aroma Melon.

          Dengan dikeluarkannya kedua varian tersebut terjadi perubahan kemasan. Kemasan ini cukup unik pada saat itu, yaitu jenang dikemas dalam kardus yang berwarna-warni dan diisi dengan beberapa butir irisan kecil jenang seberat 20 gram.

          Diversifikasi Produk Jenang Kudus Sinar Tiga Tiga

          Pada tahun 1978 hingga tahun 1980, Jenang Kudus Sinar Tiga Tiga melakukan diversifikasi produk. Diversifikasi produk ini mengakibatkan munculnya label baru sesuai dengan aroma variannya.

          Ada pun diversifikasi produk tersebut adalah sebagai berikut.

          1. Jenang Kudus dengan aroma Durian menggunakan merek Viva.
          2. Jenang Kudus dengan aroma Nangka menggunakan merek Mabrur.
          3. Jenang Kudus dengan aroma Mocca menggunakan merek Mubarok.

          Semua merek tersebut telah terdaftar secara resmi dan mendapat pengakuan dari Departemen Kesehatan dan Ditjen Hak Cipta Paten serta Departemen Kehakiman Jakarta.

          Diversifikasi produk ini terus berkembang hingga generasi ketiga. Pada saat kepemimpinan H. Muhammad Hilmy, ia mengembangkan produk dengan merek Mubarok ke dalam rasa dan kemasan yang berbeda.

          Selain melakukan diversifikasi produk, H. Muhammad Hilmy melakukan pembenahan dan peningkatan produksi sehingga sistem produksi yang pada awalnya bersifat tradisional dirombak menjadi modern. Modernisasi tersebut terjadi pada tahun 1996.

          Modernisasi Produksi Jenang Kudus Sinar Tiga Tiga

          Pada tahun 1996 dilakukan modernisasi pada proses produksi jenang. Proses produksi jenang yang pada awalnya menggunakan cara tradisional diubah menggunakan cara modern dengan menggunakan mesin dan alat pengolahan jenang yang sesuai.

          Pengolahan yang modern ini tidak menghilangkan cita rasa dan kualitas jenang sehingga kualitas jenang tetap terjaga.

          Peningkatan proses produksi ini dapat dilihat dari mekanisme pembuatan tepung beras ketan, pembuatan santan kelapa dan cara mengaduk adonan jenang.

          Untuk menunjang modernisasi tersebut, pada tahun 2000, H. Muhammad Hilmy membangun Laboratorium Kimia dan Fisika. Laboratorium tersebut digunakan sebagai sarana pendukung program penelitian dan pengembangan.

          Perusahaan Jenang Kudus Sinar Tiga Tiga ini patut dijadikan contoh karena memiliki laboratorium sendiri meskipun masih tergolong perusahaan skala menengah kecil (UKM). Selain melakukan modernisasi, perusahaan ini juga melakukan perbaikan di bidang pemasaran.

          Sistem pemasaran yang dilakukan oleh usaha ini adalah dengan melakukan promosi. Promosi yang dilakukan berupa pendekatan kepada konsumen dengan cara memberikan pelayanan dan kepuasan pelanggan merupakan hal yang utama dan penting.

          baca juga

            Perombakan Perusahaan Jenang Kudus Sinar Tiga Tiga hingga Mendapat Pengakuan Pasar Global

            Perombakan Perusahaan Jenang Kudus Sinar Tiga Tiga yang dilakukan oleh H. Muhammad Hilmy terus dilakukan demi mencapai kesuksesan. H. Muhammad Hilmy merubah nama perusahaannya menjadi PT Mubarokfood Cipta Delicia. Perombakan tersebut berakibat H. Muhammad Hilmy harus kembali bekerja keras untuk mengenalkan produknya.

            Usaha H. Muhammad Hilmy tidak sia-sia, Jenang Kudus Sinar Tiga Tiga dibawah naungan PT Mubarokfood Cipta Delicia memiliki pasar di Tiongkok, Taiwan, dan CinaTown Amerika.  Hal tersebut merupakan prestasi yang cukup gemilang karena dapat menembus pasar global.

            Selain dapat menembus pasar global, Jenang Kudus Sinar Tiga Tiga mendapat banyak penghargaan, sebagai berikut.

            1. Upakarti 2007 kategori IKM Modern dari Presiden RI.
            2. UKM Pangan Award tahun 2008 dari Menteri Perdagangan RI.
            3. Penghargaan Top 250 Indonesia Original Brand dari Majalah Bisnis Nasional SWA Edisi Mei 2009 pada tahun 2009.
            4. Sertifikat Sistem Manajemen Mutu Internasional ISO 9001 – 2000 untuk Mubarokfood.
          • Difabel Sukses Merintis Keset Kain Perca

            Terlahir sebagai seorang difabel bukan merupakan kendala untuk meraih sukses, karena kesuksesan adalah milik siapa saja sebagai makhluk Tuhan asalkan ia berusaha maka sukses adalah miliknya. Begitu halnya dengan seorang wanita kelahiran Semarang pada tanggal 1 Januari 1975 yang bernama Irma Suryati.

            Irma Suryati Seorang Difabel Sukses Merintis Mutiara Handicraft Keset Kain Perca yang Mendunia

            Sejak usianya menginjak 4 tahun, Irma Suryati menderita kelumpuhan akibat polio. Namun, kelumpuhan yang dideritanya tidak menyurutkan tekadnya untuk sukses. Seperti halnya, manusia normal lainnya Irma juga memiliki mimpi. Ejekan yang ia dapat ia patahkan dengan semangat yang membara untuk sukses.

            Kelumpuhan yang diderita Irma Suryati menyebabkan ia berjalan menggunakan tongkat. Dengan keterbatasan tersebut tidak menyurutkan tekadnya untuk tetap bersekolah hingga SMA. Setelah ia lulus SMA, ia mencoba melamar bekerja ke beberapa perusahaan, namun berbagai penolakan ia terima. Penolakan tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berusaha.

            Berbagai usaha dilakukan Irma Suryati untuk mendapatkan pengakuan bahwa ia mampu bekerja dan sukses seperti orang lain. Irma Suryati terus membulatkan tekadnya untuk terus berusaha dan sukses seperti orang lain.

            Perjuangan Panjang penuh Duka

            Penolakan demi penolakan diterima oleh Irma Suryati karena keterbatasan fisik yang dialaminya. Namun, ia tidak pantang menyerah untuk mencari mata pencaharian dalam usaha mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Hingga pada akhirnya, ia hampir putus asa tetapi ia tidak meukms.or.id/arkan dirinya larut dalam keputusasaan. Ia pun berjuang dan memutar otak, apa yang harus dikerjakan untuk masa depannya.

            Pada akhirnya, Irma Suryati memutuskan untuk berwirausaha mengolah kain perca. Ide ini terinspirasi dari ibunya yang sering membuat taplak dan keset dari kain perca. Kemudahan pun diperoleh Irma, ia mendapat kain perca dari sisa industri garmen dekat rumahnya di Semarang. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh Irma.

            Irma mulai menekuni usahanya dengan membuat aneka bentuk keset dari kain perca. Sebagai langkah awal, keset kain perca yang ia buat, ia pakai sendiri. Lama-kelamaan, keset kain perca buatannya diminati oleh tetangga di sekitar rumahnya. Keset kain perca buatan irma pun terkenal dari mulut ke mulut hingga terbentuk pasar keset kecil di sekitar rumahnya.

            Perjuangan usaha keset Irma tidak terhenti di situ. Pada tahun 1994, Irma pindah ke Solo untuk mengikuti program Rehabilitasions Centrum (RC). Program tersebut ia jalani selama setahun hingga akhirnya ia lulus dan menikah dengan Agus Priyanto yang juga difabel seniornya di RC.

            Jatuh Bangun Usaha Keset Perca Irma

            Bak gayung bersambut, ide kreatif Irma Suryati disambut oleh suaminya yang jago melukis. Pada tahun 1999, Irma mengembangkan usaha keset percanya secara unik, yaitu membuat keset dari kain perca dan melukis karakter kartun animasi di atasnya. Ide kreatif tersebut, membuat keset perca Irma semakin diminati.

            Pada tahun 2000, keset kain perca Irma semakin dikenal, banyak orderan pun datang tiada henti. Irma pun senang karena perjuangannya membuahkan hasil hingga meraih omzet Rp850juta. Irma pun bahagia dengan pencapaian tersebut.

            Kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama karena mengalami musibah kebakaran hingga tidak ada uang sepeser pun yang tersisa. Namun bukan Irma namanya jika harus menyerah dengan keadaan. Dengan tekad dan semangat penuh pada tahun 2002, Irma dan suaminya hijrah ke kampung halaman suaminya di Kebumen, Jawa Tengah.

            Di kampung halaman suaminya, Irma memulai usahanya dari nol. Irma juga mengajak teman-teman yang difabel untuk membuat kerajinan perca dengan cara memberikan pelatihan. Namun, Irma masih belum memiliki pasar di Kebumen, ia pun menitipkan keset percanya di beberapa pedagang dengan harga murah antara Rp3.000,00 – Rp5.000,00.

            Usaha Kecil yang Memperdayakan Para Difabel

            Pada tahun 2007, Irma mencoba peruntungan di ibukota yaitu Jakarta, ia mencoba menjajakan dan memperkenalkan keset kain perca hasil karya difabel dari desanya. Tak tanggung-tanggung saat itu, Irma membawa 3 karung besar keset kain perca produksinya. Ia ingin memasarkan produksi keset kain perca miliknya ke pasar Tanah Abang.

            Dengan modal nekat dan uang seratus ribu rupiah, Irma sampai juga ke Pasar Tanah Abang untuk menjual 5.000 keset kain perca produksinya. Pasar Tanah Abang merupakan titik balik usaha keset kain perca milik Irma. Di Pasar Tanah Abang mengalami banyak cobaan dari tidur di emper toko hingga pengalaman diganggu preman Tanah Abang.

               Keset kain perca Irma mendapat pasar di Tanah Abang hingga akhirnya banyak mendapat pesanan. Banyak orderan diterima Irma hingga akhirnya Irma mempekerjakan para difabel untuk membuat keset dari kain perca. Jumlah karyawan Irma terus bertambah yang kesemuanya adalah penyandang cacat. Tujuan Irma merekrut para difabel adalah untuk mengembangkan program pemberdayaan masyarakat difabel agar diakui kemampuannya dan dapat sukses seperti orang kebanyakan. Usaha Irma pun membuahkan hasil.

            Selain sukses menjalankan program pemberdayaan masyarakat di seluruh wilayah Jawa Tengah, usaha kecil Irma juga sukses memasarkan kesetnya hingga ke Australia, Tiongkok dan Singapura. Usaha kecil ini pun menjadi besar dan dikenal dengan nama Mutiara Handicraft.

            Usaha Kecil yang Mendunia

            Mutiara Handicraft terus berkembang pesat hingga mampu memproduksi 230 ribu keset yang dipasarkan ke dalam dan luar negeri. Setiap bulannya, usaha Irma mencapai omzet 40 hingga 50 juta rupiah, omzet tersebut ia dapat dengan mengandalkan 15 penjual.

            Strategi berbisnis Irma tidak terhenti hanya di situ saja, ia juga menitipkan barang produksinya di beberapa toko di banyak kota. Ia juga memanfaatkan showroom miliki Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk memamerkan keset kain perca produksinya.

            Selain meramba pasar dalam negeri, Irma juga meukms.or.id/dik pasar luar negeri. Yang semula Irma hanya mengenalkan keset kain percanya ke Australia, Tiongkok dan Singapura. Saat ini, keset kain percanya juga diterima di Jerman, Jepang dan Turki dengan menggunakan jasa orang lain. Irma mempunyai harapan suatu saat, ia dapat mengekspor keset kain percanya ke negara-negara tersebut tanpa jasa orang lain.

            Ide kreatif Irma dan suaminya sangat menguntungkan, karena mereka memproduksi 42 macam keset dengan berbagai macam bentuk keset. Bisa dibilang keset produksi Mutiara Handicraft sangat unik dengan beraneka macam bentuk, seperti bentuk elips, binatang dan bunga. Keunikan bentuk keset tersebut membuat harga keset cukup tinggi, namun ada perbedaan harga keset. Untuk harga keset yang dipasarkan di dalam negeri seharga Rp15.000,00 sedangkan harga keset untuk luar negeri Rp35.000,00.

            baca juga

              Irma Suryati Usahawan dengan Segudang Prestasi

              Irma Suryati dengan keterbatasan yang dimiliki mampu mengembangkan usahanya hngga sukses dan mendunia. Hal tersebut merupakan prestasi tersendiri dan dapat dijadikan inspirasi bahwa penyandang cacat tidak perlu berkecil hati, karena setiap manusia memiliki hak yang sama untuk meraih sukses.

              Selain usahanya yang sukses, Irma juga menyandang beberapa prestasi yang melekat dengan dirinya yang dapat dijadikan contoh. Adapun prestasi yang ia dapat antara lain sebagai berikut.

              1. Membentuk Pusat Usaha Kecil Menengah Penyandang Cacat.
              2. Mendirikan koperasi simpan pinjam di 11 kecamatan di wilayah Kebumen.
              3. Melakukan peukms.or.id/naan memanfaatkan kain perca kepada kelompok waria dan pekerja seks komersial di wilayah Purwokerto hingga akhirnya memiliki gerai di perumahan Limas Agung, Purwokerto.
              4. Mendapat penghargaan Wirausahawan Muda Teladan pada tahun 2007 dari Kementerian Pemuda dan Olahraga.
              5. Pada tahun 2009 mendapat penghargaan Pemuda Andalan Nusantara dari Kementerian Pemuda dan Olahraga.
              6. Pada tahun 2008 mendapat penghargaan Perempuan Berprestasi dari Bupati Kebumen.
              7. Mendapat penghargaan dari Jaiki Jepang.
              8. Pada tahun 2010 mendapat Juara 1 Tokoh Sampoerna Pejuang 9 Bintang 2010.
              9. Mendapat penghargaan Dedikasi Ibu Indonesia yaitu Anugerah Ummi Award 2010.

            • Vanilla Hijab: Peluang Bisnis yang Bisa Dimulai dengan Budget Tipis

              Trend Fashion atau gaya busana saat ini sudah menjelma menjadi peluang bisnis yang sangat menggiurkan. Salah satunya adalah hijab. Seiring dengan perkembangan waktu, trend hijab semakin beragam, mulai dari model, warna, corak, hingga padu padan dengan fashion item lainnya. Tidak heran jika hijab menjadi ladang bisnis yang selalu laris manis.
              Pada dasarnya, memulai bisnis hijab sama halnya dengan memulai bisnis lainnya. Tidak harus dengan modal uang banyak, asal ada niat dan kesungguhan usaha, semuanya bisa diwujudkan menjadi bisnis.
               
              Bagi Anda yang up to date  mengikuti trend hijab atau sekadar suka dengan hijab, sebenarnya bisa menjadikan minat Anda untuk memulai bisnis hijab, seperti Atina Maulia dan Intan Kusuma Fauzia yang berhasil memanfaatkan hijab sebagai peluang bisnis.
               

              Asal Muasal Vanilla Hijab

               
              Siapa yang tidak mengenal Vanilla Hijab? Mungkin, jika ditelusuri, pelopor bisnis hijab berbasis online di Indonesia adalah Vanilla Hijab. Bisnis hijab yang identik dengan warna pastel tersebut didirikan dengan modal nol rupiah pada 2012.
               
              Tanpa pengalaman dan pengetahuan bisnis, Atina Maulia mulai berjualan dengan sistem pre-order, yaitu menjual hijab sesuai pesanan, yang dibeli dari pasar grosir. Karena pesanan semakin bertambah, Intan Kusuma Fauzia sebagai kakak turut membantu adiknya.
               
              Dari kolaborasi keduanya, muncullah sebuah brand Vanilla Hijab yang diharapkan mampu membuahkan rasa manis bagi keduanya juga bagi orang lain seperti rasa vanilla.
              Perlahan, mereka lalu memproduksi hijab dengan bahan baku kain yang dibeli sendiri dan menyewa penjahit. Tidak mudah memang, mereka harus berkeliling mencari penjahit dan mencari supplier kain yang berkualitas.
               
              Kini, dua wanita asal Jakarta tersebut sudah memiliki rumah produksi dengan lima puluh penjahit yang menerima pesanan hingga 12.000 potong/bulan.
              Tidak jarang, banyak yang bertanya-tanya: apa yang menarik dari Vanilla Hijab? Berikut adalah pemaparan kelebihan Vanilla Hijab yang bisa Anda simak sebagai pembelajaran sebelum memulai bisnis
               
               

              1. Online Shop

              Di tahun 2012, bisa dikatakan online shop yang menjadikan hijab sebagai produk utamanya, tidak sebanyak saat ini. Namun, trend hijab sudah menyebar dan semakin beragam.
               
              Hal ini menjadi peluang bisnis yang besar, melihat banyak yang membutuhkan tapi harus keluar rumah atau mencari di online shop yang tidak menjual berbagai fashion item. Karena itu, Atina Maulia memanfaatkan peluang tersebut dengan mulai berjualan dengan basis online.
               
              Bahkan, keterbatasan modal, tidak membuatnya kehabisan akal dengan menerapkan sistem pre-order pada online shopnya.
               
              Dengan pengalaman berjualan online sebelumnya, Atina Maulia bisa belajar memahami pasar dan menentukan konsep hingga strategi untuk mengembangkan bisnis hijabnya.
               
              Salah satunya, yang dianggap paling penting dalam berbisnis online adalah menentukan sasaran dan harga produk. Hasilnya, Vanilla Hijab menjadi produk yang memiliki sasaran tak terbatas (dari usia remaja hingga ibu-ibu) dengan harga menengah (Rp 50.000–Rp 90.000,-).
               
               

              1. Branding

              Vanilla Hijab menawarkan hijab yang mengusung tema warna pastel polos sehingga cocok digunakan sehari-hari hingga acara resmi. Ini yang menyebabkan produk Vanilla Hijab memiliki sasaran tidak terbatas, dari remaja hingga ibu-ibu, bisa memakai produk Vanilla Hijab. Dari konsep warna pastel ini,
               
              produk Vanilla Hijab sudah menjadi favorit banyak perempuan muslim dengan identitas “hijab pastel”.  Popularitas tersebut bahkan membuat trend hijab warna pastel menjadi salah satu favorit fashion item di 2017.
               

              1. Signature Product

              Ketika mengusung warna pastel, produk Vanilla Hijab menjadi hijab favorit banyak orang. Hal ini tidak membuat pendiri Vanilla Hijab cepat berpuas diri.
               
              Melihat popularitas yang meningkat, Vanilla Hijab justru memanfaatkan kondisi. Mereka mengembangkan bisnisnya dengan memproduksi hijab berciri khas yang lebih spesifik, sehingga tidak bisa ditiru oleh orang lain.
               
              Lalu, dibuatlah bahan baku hijab yaitu kain dengan desain motif yang belum pernah ada, dan terciptalah signature hijab. Dengan brand yang sudah dikenal luas, tentu signature hijab laris dengan cepat.
               
              Uniknya, produk signature hijab ini tidak diproduksi dalam jumlah banyak, dan hanya dalam waktu tertentu saja, sehingga membuat produk hijab berkesan eksklusif.
               

              1. Model

              Brand yang meluas dengan baik, bahan baku hijab yang unik dan berkualitas, sebenarnya sudah sudah cukup untuk menarik minat pembeli. Namun, Vanilla Hijab tidak berhenti di situ saja.
               
              Dengan target yang lebih luas, Vanilla Hijab menggandeng sejumlah model yang populer di social media hingga dunia televisi.
               
              Tujuannya adalah agar produk Vanilla Hijab bisa turut meluas ke ribuan hingga ratusan ribu  follower modelnya di social media. Terbukti, semakin hari produk Vanilla Hijab semakin dikenal luas dengan potensi kenaikan omzet yang signifikan.
               

              1. Strategi Penjualan Online

              Satu lagi yang menjadi kunci kesuksesan bisnis hijab adalah strategi penjualan secara online. Bukan hanya dari segi produk namun juga pelayanan yang saling menguntungkan.
               
              Vanilla Hijab mulai berjualan berbasis online yang secara random tidak memiliki wadah khusus untuk produk-produknya. Untuk itu, dibuatlah sebuah situs online khusus yang menjual produk Vanilla Hijab yaitu vanillahijab.com.
               
              Pada situs onlinenya Vanilla Hijab pun memiliki strategi penjualan untuk meminimalisasi kerugian karena produk yang sepi peminat.
               
              Mereka membatasi produksi hijab dalam waktu tertentu, sehingga tidak ada produk yang tidak laku dalam jumlah banyak. Selain itu, mereka juga membatasi pembelian dalam jumlah banyak, dengan tujuan agar setiap orang bisa membeli dalam batas jumlah yang sama.
               
              Ini juga berlaku untuk penjualan melalui social media seperti instagram, twitter, dan whatsapp. Strategi seperti juga turut membuat produk Vanilla Hijab lebih ekslusif karena tidak semua bisa membeli produk Vanilla Hijab setiap kali produksi.
               
              Selanjutnya, pada tahap perlindungan diri, Vanilla Hijab tidak meukms.or.id/arkan pembelinya melakukan hit and run, yaitu memesan dan tidak membayar pesanan. Padahal, untuk setiap pesanan, Vanilla Hijab memiliki kode khusus untuk memudahkan pembayaran.
               
              Jika pembeli melakukan hit and run, maka yang dirugikan bukan hanya Vanilla Hijab namun juga calon pembeli lainnya yang ingin membeli produk Vanilla Hijab. Karenanya, setiap akun pembeli yang melakukan hit and run, akan off sehingga tidak bisa melakukan pembelian sementara waktu.
               

              1. Spread The Wings

              Setelah sukses dengan produk hijab, Vanillah Hijab mulai mengembangkan sayap bisnisnya dengan memproduksi baju dan tas dan tetap mengusung tema warna pastel. Dengan modal popularitas yang sudah didapat dari produk hijab, Vanilla Hijab mulai memasarkan produk baju dan tasnya.
               
              Awalnya mereka memilih hijab sebagai produk utama, selain karena ngehits, juga karena hijab memiliki satu ukuran yang bisa digunakan oleh semua perempuan.
               
              baca juga
              Vanilla Hijab: Peluang Bisnis Hijab
              1000.001 Ide Bisnis UKM Dengan Modal Mulai 100 Ribu
              Dodol Garut Picnic : Oleh-oleh Khas Istimewa yang Melegenda
              Dibalik Sukses Bisnis Penerbit Stilleto Book
               
               
              Maka, untuk memperluas produk baju dan tasnya, Vanilla Hijab tetap menggunakan konsep dan strategi penjualan yang sama namun lebih terbatas pada jumlah dan kurun waktu produksi. Dengan demikian, meski sudah menambah jenis produk, Vanilla Hijab tetap mengutamakan produksi hijabnya.
              Enam kunci kesuksesan bisnis hijab tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi Anda dan siapapun yang ingin memulai bisnis hijab atau bisnis lainnya di bidang fashion. Satu hal yang membuat sebuah brand online shop bertahan adalah konsistensi dari segi produk dan pelayanan.
               
              Jika hal tersebut diterapkan dan dipertahankan, maka akan membuat sebuah produk online shop melekat erat dengan pengetahuan masyarakat, seperti Vanilla Hijab. Suatu ketika jika Anda menggunakan produk fashion berupa hijab, baju atau tas dengan warna pastel, seseorang yang up to date  dengan fashion, akan bertanya: “Eh, lagi pakai Vanilla Hijab, ya?”. Itu tandanya, Vanilla Hijab sudah berhasil memengaruhi orang terdekat Anda,