Keripik Tempe Sukai Nicky

UKMS.OR.IDSukses Bisnis Keripik Tempe Sukai Nicky dari Desa Banjarnegara. Bagaimana usaha rumahan keripik tempe bisa menjadi sumber penghasilan utama keluarga?

Usaha Sukai Nicky tumbuh dari konsistensi kualitas, fokus produk, dan kepercayaan pelanggan.
Berawal dari kebutuhan menambah pendapatan keluarga, Sukini membangun bisnis keripik tempe secara bertahap. Tanpa strategi pemasaran rumit, usaha ini berkembang melalui produk sederhana, rasa konsisten, transparansi produksi, dan pembelajaran berkelanjutan. Dalam perjalanannya, Sukai Nicky menjelma menjadi usaha camilan desa dengan kapasitas ratusan kilogram per hari dan jangkauan pasar lintas kota.


Fakta Kunci

Nama usaha: Keripik Tempe Sukai Nicky
Pendiri: Sukini
Asal: Desa Gumiwang, Purwonegoro, Banjarnegara – Jawa Tengah
Tahun mulai usaha: 1996 (keripik pisang), 2000-an (keripik tempe)
Produk utama: Keripik tempe original
Harga jual: Rp25.000 – Rp35.000/kg
Kapasitas produksi: Ratusan kg/hari
Model bisnis: Produksi rumahan camilan (B2C & B2B lokal)


Faktor Keberhasilan Utama

  • Fokus pada satu produk inti (keripik tempe original)
  • Konsistensi kualitas rasa dan kebersihan
  • Transparansi proses produksi
  • Keterbukaan terhadap pembelajaran & pelatihan
  • Pemanfaatan bahan baku inovatif (tepung mocaf)

Risiko & Batasan

  • Ketergantungan pada kualitas bahan baku tempe
  • Skala produksi berbasis tenaga manual
  • Sensitivitas harga bahan baku
  • Keterbatasan diversifikasi produk

Executive Insight Box

Jenis bisnis: Camilan rumahan (keripik tempe)
Modal awal: Kecil, bertahap
Tantangan utama: Konsistensi kualitas & bahan baku
Strategi kunci: Fokus produk + kepercayaan pelanggan
Hasil: Usaha desa dengan produksi ratusan kg/hari


Awal Mula: Dari Keripik Pisang ke Keripik Tempe

Sukini, perempuan kelahiran 4 Juni 1968, memulai usaha pada 1996.
Latar belakangnya sederhana. Lulusan SMA dengan kemampuan memasak seadanya.

Usaha pertama yang dijalani adalah keripik pisang.
Produk dibuat sendiri, lalu dititipkan ke pasar dan toko-toko.

Masalah muncul.
Pisang bersifat musiman, sulit didapat secara stabil.

Keputusan penting diambil.
Pada awal 2000-an, Sukini beralih ke keripik tempe.


Menemukan Produk yang Tepat

Pada awal produksi keripik tempe, Sukini masih menggunakan tepung beras.
Nama produknya saat itu Aneka Rasa.

Namun produk ini dirasa:

  • Kurang menarik
  • Tidak punya identitas kuat

Nama kemudian diubah menjadi Sukai Nicky.
Sederhana, mudah diingat, dan punya ciri khas.

Varian rasa juga dipersempit.
Hanya original.

Menurut Sukini:
pelanggan lebih menyukai rasa asli.
Varian pedas, manis, dan gurih tidak sepopuler yang diharapkan.


Pertumbuhan Usaha Sukai Nicky

Penjualan keripik tempe tumbuh perlahan tapi stabil.

Jika dulu Sukini harus:

  • Mengantar produk ke toko
  • Menjemput pesanan satu per satu

Kini kondisinya berbalik.
Pembeli datang langsung ke dapur produksi.

Meski permintaan tinggi, Sukini tetap:

  • Turun langsung ke dapur setiap hari
  • Mengontrol proses produksi
  • Menjaga kualitas rasa

Harga dijaga tetap terjangkau.
Produksi kini mencapai ratusan kilogram per hari.


Menjaga Kualitas sebagai Fondasi Usaha

Bagi Sukini, kualitas adalah segalanya.

Ia menekankan:

  • Kebersihan dapur produksi
  • Kerapian proses kerja
  • Keamanan pangan

Prinsipnya jelas:
kepercayaan pelanggan dibangun dari kualitas, bukan janji.


Transparansi kepada Konsumen

Sukini menerapkan pendekatan yang jarang dilakukan UKM kecil:
terbuka sepenuhnya kepada pelanggan.

Pelanggan dipersilakan:

  • Datang ke dapur produksi
  • Melihat proses pembuatan
  • Bertanya langsung

Langkah ini membuat pelanggan:

  • Percaya
  • Merasa dekat
  • Loyal dalam jangka panjang

Rajin Mengikuti Pelatihan

Salah satu pembeda utama Sukai Nicky adalah kemauan belajar.

Sukini rutin mengikuti:

  • Pelatihan dinas setempat
  • Kursus pengolahan hasil pertanian
  • Program pengembangan UKM

Dari pelatihan tersebut, ia mendapatkan:

Pasar kini meluas ke:
Purbalingga, Purwokerto, Semarang, hingga Jakarta.

baca juga


Terobosan Tepung Mocaf

Hasil penting dari pelatihan adalah adopsi tepung mocaf (singkong).
Langkah ini menjadi inovasi signifikan.

Manfaatnya:

  • Lebih stabil
  • Lebih sehat
  • Berbasis bahan lokal

Terobosan ini mengantarkan Sukai Nicky meraih:

  • Penghargaan Pameran Pangan Nusa (PPN)
  • Pameran Produk Dalam Negeri (PPDN) 2014 kategori camilan

Pemerintah mengapresiasi keberanian UKM menggunakan bahan alternatif lokal.


Pelajaran Bisnis

Apa yang membuat bisnis ini bertahan

  • Fokus pada satu produk unggulan
  • Kualitas dijaga langsung oleh pemilik
  • Kepercayaan dibangun lewat transparansi

Kesalahan yang dihindari

  • Terlalu banyak varian tanpa pasar
  • Mengorbankan kualitas demi volume

Strategi yang terbukti efektif

  • Produk sederhana tapi konsisten
  • Belajar terus melalui pelatihan

Titik balik pertumbuhan

  • Fokus ke keripik tempe original
  • Penggunaan tepung mocaf

Mini Q&A (Kasus Ini)

Q: Kenapa hanya satu varian rasa?
A: Karena pasar lebih menerima rasa original dan lebih konsisten.

Q: Apakah usaha ini butuh modal besar?
A: Tidak. Dimulai dari kecil dan tumbuh bertahap.

Q: Apa peran pelatihan bagi UKM desa?
A: Sangat besar, membuka ilmu dan jaringan.

Q: Faktor terpenting mempertahankan pelanggan?
A: Kualitas dan kejujuran.


Contextual Classification

Kasus ini diklasifikasikan sebagai UKM pangan rumahan berbasis desa, tahap growth, model B2C lokal–regional, dengan sumber pertumbuhan utama berasal dari konsistensi produk, kepercayaan pelanggan, dan pembelajaran berkelanjutan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top