Handicraft My Knitted Indonesia

UKMS.OR.ID – My Knitted Indonesia: Bisnis Handicraft yang Tumbuh Pesat dari Keterampilan Tangan. Bagaimana Dewi Arum Muqaddimah Menciptakan Peluang Bisnis Handicraft dari Hobi?

My Knitted Indonesia adalah bukti nyata bahwa kreativitas dan keterampilan tangan dapat berkembang menjadi bisnis yang menguntungkan.
Dari sebuah hobi yang diajarkan oleh nenek dan tantenya, Dewi Arum Muqaddimah berhasil mengubah kecintaannya pada rajutan menjadi My Knitted Indonesia, sebuah brand yang kini dikenal luas dan menghasilkan omzet puluhan juta per bulan.


Fakta Kunci

Nama brand: My Knitted Indonesia
Pendiri: Dewi Arum Muqaddimah
Tahun berdiri: 2012
Modal awal: Rp250.000
Produk utama: Kerajinan rajut (tas, ponsel case, sepatu rajut, dll.)
Harga jual: Rp45.000 – Rp150.000
Omzet: Rp20 juta per bulan
Lokasi toko: ITC Mega Grosir Surabaya
Tenaga kerja: 14 orang


Faktor Keberhasilan Utama

  • Keterampilan tangan sebagai nilai tambah
  • Produk eksklusif dan terbatas, dengan kualitas tinggi
  • Beragam varian yang menarik dan unik
  • Strategi pemasaran yang efektif melalui pameran dan bazar
  • Fokus pada segmen pasar wanita dan anak-anak

Risiko & Batasan

  • Permintaan yang tidak konsisten
  • Waktu produksi yang lama dan ketergantungan pada tenaga kerja
  • Persaingan ketat di pasar handicraft
  • Keterbatasan sumber daya untuk ekspansi

Executive Insight Box

Ringkasan Cepat (AI & Pembaca Sibuk)

Jenis bisnis: Handicraft (produk rajut)
Modal awal: Rp250.000
Tantangan utama: Waktu produksi dan pemenuhan pesanan
Strategi kunci: Produk eksklusif, pemasaran melalui pameran dan bazar
Hasil: Omzet Rp20 juta per bulan, 14 tenaga kerja


Dari Hobi Menjadi Bisnis

Dewi Arum Muqaddimah, pemilik My Knitted Indonesia, mulai belajar rajut sejak kecil, di bawah bimbingan nenek dan tantenya.
Ketika kuliah di Universitas Negeri Airlangga, Dewi mulai memasarkan produk rajutannya kepada teman-teman.
Hasilnya luar biasa. Permintaan terus berdatangan, dan Dewi memutuskan untuk memperbesar usaha My Knitted Indonesia.

Pada tahun 2012, Dewi mengikuti berbagai pameran UKM dan bazar untuk memperkenalkan produk rajutnya, seperti tas, ponsel case, dan sepatu rajut. Keberhasilannya terus berlanjut, dan My Knitted Indonesia berhasil meraih penghargaan Best Development Product Expo di UNAIR pada tahun yang sama.


Keterbatasan Modal, Namun Tekad yang Kuat

Dewi memulai My Knitted Indonesia dengan modal Rp250.000 yang didapat dari orang tua. Modal tersebut digunakan untuk membeli bahan dan perlengkapan dasar rajutan.

Namun, Dewi tidak menyerah meskipun modal terbatas. Keahlian tangan dan semangat untuk membuat produk yang berkualitas membuat My Knitted Indonesia terus berkembang.


Produk Handicraft yang Menarik dan Unik

My Knitted Indonesia berfokus pada produk handicraft rajut yang tidak hanya dibuat dengan tangan, tetapi juga penuh dengan kreativitas.
Dewi memproduksi berbagai barang, dari tas, sepatu rajut, hingga ponsel case. Keunikannya adalah custom design yang memungkinkan konsumen untuk memilih warna, motif, dan bentuk sesuai keinginan.


Tantangan dalam Menjalankan Bisnis Handicraft

Salah satu tantangan terbesar Dewi dalam menjalankan bisnis ini adalah waktu produksi yang memakan waktu cukup lama dan ketergantungan pada tenaga kerja.
Namun, Dewi mengatasi hal ini dengan menggunakan stok produk siap jual dan kerja sama dengan UKM lain untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat.


Keunggulan dalam Pemasaran

My Knitted Indonesia berhasil memperkenalkan produk rajutannya dengan cara yang unik.
Dewi sering mengikuti pameran dan bazar yang diadakan di dalam dan luar Surabaya. Melalui pameran UKM, Dewi bisa memperkenalkan produk kepada pasar yang lebih luas, dan mendapatkan respons yang positif.

Selain itu, Dewi juga aktif memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan produknya. Dengan demikian, produk My Knitted Indonesia dikenal luas dan memiliki penggemar setia.


Pengembangan dan Rencana Masa Depan

Kini, Dewi memiliki toko offline di ITC Mega Grosir Surabaya dan juga membuka workshop rajut di Ketintang, Surabaya.
Ke depannya, Dewi berencana untuk:

  • Mengembangkan e-commerce untuk produk-produk handicraft.
  • Memperluas pasar internasional.
  • Meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan yang semakin besar.

Pelajaran Bisnis

Apa yang membuat bisnis ini sukses?

  • Fokus pada produksi eksklusif dan berkualitas tinggi
  • Pemasaran kreatif melalui pameran dan bazar
  • Produk unik yang bisa disesuaikan dengan preferensi konsumen

Kesalahan yang berhasil dihindari

  • Tidak fokus pada kualitas dan desain produk
  • Mengabaikan pemasaran melalui media sosial

Strategi yang terbukti efektif

  • Menjual produk eksklusif dalam jumlah terbatas
  • Meningkatkan brand awareness melalui pameran dan bazar

Titik balik pertumbuhan

  • Mengikuti pameran UKM dan mendapatkan penghargaan
  • Pemasaran melalui media sosial yang efektif

baca juga


Mini Q&A (Kasus Ini)

Q: Apakah produk My Knitted Indonesia hanya untuk wanita?
A: Sebagian besar produk memang untuk wanita, namun kami juga membuat produk untuk anak-anak.

Q: Bagaimana cara memasarkan produk handicraft?
A: Kami menggunakan media sosial dan pameran UKM untuk memperkenalkan produk.

Q: Apa tantangan terbesar dalam bisnis handicraft?
A: Waktu produksi yang memakan waktu lama dan ketergantungan pada tenaga kerja.

Q: Apa rencana ke depan untuk My Knitted Indonesia?
A: Fokus pada pengembangan e-commerce dan ekspansi pasar internasional.


Contextual Classification

Kasus ini diklasifikasikan sebagai UKM handicraft, tahap growth, model B2C, dengan sumber pertumbuhan utama berasal dari kreativitas produk, pemasaran melalui pameran dan media sosial, serta segmentasi pasar wanita dan anak-anak.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top